Gunung Padang – Curug Cikondang part 1 (Stairway to Heaven)

Perjalanan menuju sebuah puncak memang tak pernah selalu mudah

Pernah ada yang tahu tentang Gunung Padang di kabupaten Cianjur? Belum? Wah, sama *lah. Tapi bedanya, itu dulu karena kemaren tanggal 3-4 Mei kemaren aku berhasil menggapai Gunung Padang plus nge-camp di Curug Cikondang, kabupaten Cianjur ngoahahahaa (ketawa ala Juki). Nah buat yang pengen tahu, Gunung Padang itu bukan seperti gunung pada umumnya. Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum yang ada di Indonesia.

Site Megalitikum di Gunung Padang pict by Wonderful Indonesia

Nah, perjalanan menuju gunung Padang ini tidak mudah tapi tidak sulit juga, masih lebih susah ngertiin kode-nya cewek deh. Perjalanan kali ini dimulai dari Yogyakarta sebagai kota domisiliku sekarang. Menggunakan kendaraan umum berupa Kereta Api tentunya traveller

Jogja-Tasikmalaya-Jakarta

Perjalanan kali ini dimulai dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sebuah stasiun kereta api di Yogyakarta yang melayani pemberangkatan kereta-kereta kelas ekonomi PSO. Kebetulan karena aku gagal mendapatkan tiket Jogja-Jakarta langsung, aku memilih untuk melakukan perjalanan estafet Jogja – Tasikmalaya – Jakarta menggunakan dua kereta, Pasundan (Jogja-Tasik) dan Serayu Malam (Tasik-Jakarta). Namanya juga perjalanan estafet, sudah bisa dibayangkan tiket kereta menjadi lebih mahal :(, meskipun ini adalah perjalanan melewati jalur selatan yang pertama bagiku, ada perasaan seneng sih.

Kereta Pasundan yang akan mengantarkanku menuju Tasikmalaya tiba di stasiun Lempuyangan pada jam 13.20 WIDP (Waktu Indonesia Di Ponsel) padahal jadwal di tiket menyebutkan kereta berangkat jam 13.36, itu artinya kereta terlalu cepat sampai hingga akhirnya harus menunggu waktu berangkat tepat sesuai jadwal. Kesempatan ini aku gunakan untuk membeli perlengkapan logistik berupa 2 buah botol air mineral 1,5 liter dan 1 buah roti sobek di sebuah minimarket di dalam Stasiun Lempuyangan.

tiba-tiba

“Kereta Pasundan dari Surabaya Gubeng tujuan Banjar, Tasikmalaya, hingga Kiara Condong akan segera diberangkatkan dari Jalur 2 Stasiun Lempuyangan, kepada para penumpang kereta Pasundan diharapkan segera naik”

Dengan adanya pengumuman tersebut, akupun masuk ke dalam kereta. Tepatnya di Kereta-2 nomor kursinya 2A yang jackpot karena kursinya menghadap searah perjalanan kereta karena bagi sebagian orang, duduk yang membelakangi perjalanan itu bikin pusing.

skip skip

Akhirnya perjalanan berhenti di stasiun Tasikmalaya sekitar jam 19.00 atau terlambat sekitar 5 menit dari jadwal yang seharusnya. Akupun menuju pintu keluar untuk keluar stasiun, berencana untuk makan malam dan membeli perlengkapan perbekalan berupa mie instan akan tetapi betapa terkejutnya ternyata setelah keluar stasiun aku tidak menjumpai satu warung makan atau bahkan minimarket capedes, tapi yang pertama aku temuin di sana adalah wanita-wanita khas Sunda yang berkulit putih dan cantik q03. Buseeet nih banyak banget cewek cantik di sini, mulai dari yang masih muda sampai yang ibu-ibu muda juga masih cantik q03. Kalau ingat tanah Sunda sih yang terbayang ya cewek-ceweknya yang cantik sama hijaunya tanah persawahan di kaki gunung yang sangat asri. Ya semoga kondisi seperti itu masih terjaga dan tetap lestari 🙂

Setelah puas memandangi cewek-cewek sunda yang cantik beristirahat, aku meminta izin kepada bapak satpam stasiun untuk masuk dan menunaikan ibadah sholat maghrib dan isya di musholla dalam area stasiun. Selepas sholat, makan bekal berupa roti isi coklat yang tadi aku beli di minimarket stasiun Lempuyangan. Manis. Terlalu manis. Apa karena di depan banyak cewek-cewek Sunda yang manis yak? Hmmm. Tak lama setelah memakan satu sisir roti sobek, aku masuk ke dalam stasiun. Kali ini karena kereta yang akan membawaku menuju Jakarta akan segera tiba.

Berusaha untuk tidur di dalam kereta ternyata cukup susah bagiku, selain karena ini adalah perjalanan pertamaku melalui jalur selatan tapi juga emang dari sononya kalau dalam perjalanan pasti susah tidur kecuali kalau terlalu capek. Capek menunggu kepastian. ah elaaah capedes

Tak terasa, waktu menunjukkan jam 04.30 keretaku masuk stasiun Jakarta Kota alias Beos. Sebelum keluar, salah satu teman memberi kabar melalui sms untuk mengambil peralatan masak dan tenda dari temen yang kebetulan kerja di Stasiun Jakarta Kota sebagai petugas loket.

“Tuuuuut,” aku telpon, tapi tak diangkat

“Tuuuuut, *klek*” telpon diangkat, tapi terdiam. “Halo, halo. Jan (bukan nama sebenarnya). Di mana ente Jan?” masih tanpa jawaban.

Ah, ternyata tidak hanya cinta yang tanpa jawaban, bahkan mau ambil peralatan masak pun tanpa jawaban. Apa boleh buat perjalanan kali ini yang akan direncanakan untuk menginap pun dipastikan tanpa peralatan makan. Nah loh, gimana nih makannya. Ah bodo amat. Yang penting berangkat duluan lah. Waktu menunjukkan jam 06.26, waktu di mana aku harus segera naik KRL tujuan Bogor, KRL terakhir agar aku tidak terlambat menuju Cianjur karena kereta menuju Cianjur akan berangkat jam 07.55. Di KRL aku bertemu dengan salah seorang teman (sebut saja namanya Azer) dari Kaskusepur yang juga akan ikut tracking ke gunung Padang. Karena sejak semalam belum bisa tidur dengan nyenyak, perjalanan menuju Bogor yang cukup lama namun nyaman ini aku gunakan untuk tidur, meskipun tidur-tidur ayam gitu, sebentar-sebentar bangun. Sampai di Stasiun Bogor waktu sudah menunjukkan jam 07.28 namun aku tidak bisa langsung menuju halte Stasiun Paledang tempat kereta Pangrango diberangkatkan. Aku masih harus menunggu mbak-ku. Melalui, telepon akhirnya kami bisa bertemu di pintu keluar stasiun Bogor. Aku, mbakku, dan Mas Azer segera berlari menuju halte Stasiun Paledang yang berjarak sekitar 50 meter dari stasiun Bogor. Di sana telah menunggu 3 orang lagi Mas Gie, Mas Agung, sama Mas Zaky. Kami segera melakukan boarding pass untuk bisa masuk ke dalam kereta. Sesaat sebelum kami masuk ke dalam kereta, dua orang teman kami Mas Adit sang ketua pelaksana dan Mas Doli ikut menyusul. Kami bertujuh masuk ke dalam. Kok bertujuh? Iya, karena Mas Zaky sudah lebih dulu boarding entah karena terlalu bersemangat sepertinya. Di dalam kami bertemu dengan Mas Zaky dan juga Om Rio. Beliau adalah salah satu sesepuh dari para Pecinta Kereta Api atau Railfans. Om Rio memilih untuk duduk di backside sehingga bisa melihat pemandangan sementara kami semua duduk di kursi, sarapan, sambil ngobrol.

Stasiun Lampegan – Gunung Padang

Tepat jam 10.56, kereta berhenti di stasiun terdekat dengan Situs Gunung Padang, Stasiun Lampegan. Stasiun ini di kalangan para Railfans tergolong stasiun yang istimewa, stasiun yang bahkan belum banyak Railfans yang ke sana. Ya iya lah, lha stasiun ini sempat non aktif beberapa tahun dan baru diaktifkan lagi sekitar tahun 2014 ini. Nah, uniknya stasiun ini adalah sebelum stasiun ini dari arah Sukabumi ada terowongan Lampegan dan sering dijadikan sebagai obyek foto. Ya jarang-jarang bisa foto di terowongan kereta api yang masih aktif.

IMG_0019

Me at Lampegan Stasiun

ngobrol di stasiun Lampegan

Begitu sampainya kami di Stasiun Lampegan, langsung deh bapak-bapak Tukang Ojek menawarkan jasa mengantarkan kami ke Gunung Padang. Kami masih bimbang dengan transportasi menuju ke sana, berdasarkan informasi sebelum-sebelumnya, dari berbagai Trip Report termasuk baca-baca blog, salah satunya adalah blog dari mbak Rintadita mengatakan kalau dari Stasiun Lampegan ke Gunung Padang berjarak 7 km. Jarak 7 km bukanlah jarak yang dekat, cukup jauh dan kayaknya sudah bisa lah kalau mau disebut LDR. Namun berdasarkan blog-blog yang menyatakan bahwa mereka menempuh perjalanan sejauh 7 km dengan berjalan kaki, kamipun bersiap dengan kondisi terburuk yaitu jalan kaki. Sambil menunggu Mas Doli yang sedang buang air kecil di toilet warga (FYI : Stasiun Lampegan ini stasiun yang kecil tanpa ada toilet, bahkan loket pembelian tiket saja kecil sangat. Sepertinya stasiun ini perlu ditingkatkan kualitasnya, mengingat ada rencana dari Pemerintah Daerah Cianjur untuk menjadikan Gunung Padang sebagai salah satu alternatif wisata. PT KAI sendiri sudah melakukan tugasnya dengan mengaktifkan kembali jalur Bogor – Cianjur sehingga mempermudah calon wisatawan yang akan berkunjung ke Gunung Padang atau Curug Cikondang.

“Kang, ayo kang. Gunung Padang kang. 60ribu kang bolak-balik,” bapak-bapak tukang ojek menawari kami tumpangan yang tidak gratis tentunya.

Dirasa harga terlalu mahal dan akan sangat menguras kantong kami, apalagi kami juga tidak berencana langsung balik tapi membangun tenda di Curug Cikondang, tawaran tersebut kami abaikan meski sebenarnya masih bisa ditawar sih.

Mas Doli selesai buang air kecil, kami berdiskusi sejenak. Sementara wisatawan lain dengan tegas memilih menggunakan ojek atau sewa travel dari Jakarta (namun cuma untuk menjemput dari Stasiun Lampegan ke Gunung Padang) untuk menuju Gunung Padang, kami semakin galau apakah akan sewa ojek, mencari angkot, atau dengan berjalan kaki. Setelah 3 kali puasa 3 kali lebaran berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk JALAN KAKI. Oke sip. Tapi sebelumnya kami mau jelajah terowongan Lampegan dulu.

Dari stasiun Lampegan, jalan kaki menyusuri Terowongan Lampegan yang gelap, sunyi, becek, dan lembab. Tapi semua terasa menyenangkan karena bareng-bareng. Kalau mau jalan sendirian, ogah. Di dalam terowongan terdapat beberapa lubang tempat bersembunyi dari kereta. Jadi kalau ada kereta lewat, petugas bisa segera masuk ke dalam lubang sembunyi. Lubangnya sekitar 2×3 meter, tidak terlalu besar memang tapi cukup kalau hanya untuk bersembunyi beberapa menit saja. Di terowongan ini pula kata warga sekitar sering muncul penampakan-penampakan gitu. Ah, bodo amat. Selama masih punya Allah aku sih tidak takut tapi ya kalau bisa jangan sampai ketemu dengan mereka.

Inside the tunnel

The team

Setelah selesai menjelajahi dingin dan gelap serta merasakan aura-aura kasih mistis terowongan, kami melanjutkan perjalanan yang seperti telah dijelaskan, dengan berjalan kaki. Nah sebenarnya perjalanan yang ini di luar dugaan kami. Kami disuruh memilih untuk kembali menyusuri terowongan menuju jalan sebelumnya, namun beruntung mas Gie yang memang menjadi tukang baca peta mengeluarkan gadgetnya membuka google maps untuk melihat posisi kami dan ke arah mana kami harus berjalan.

Kamipun menyusuri rumah-rumah warga dan persawahan. Mendaki gunung lewati lembah, mengalun sungai indah ke samudra (abaikan itu lagunya Ninja Hattori). Berjalan 10 menit, masih belum terasa. Kami masih kuat. Hingga akhirnya kami menjumpai tanjakan dan turunan yang bakal menguras tenaga kami. Dan benar saja, belum apa-apa mas Zaky sudah mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan untuk naik dan turun di jalanan bervariasi, kadang batu yang licin kadang tanah yang becek ditambah dengan panas terik matahari. Padahal ini di Cianjur loh, yang menurut bayanganku berada di kaki gunung, harusnya dingin. Eh, ternyata panasnya menyengat. Namun semua kelelahan menghilang kala melihat pemandangan sekitar yang ternyata sangat luar biasa. Hingga kami menemukan satu bangunan kecil yang biasa dipakai petani untuk beristirahat dan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak yang tak dinyana ada suara dari dalam bangunan tersebut.

“Mau ke mana kang?” tiba-tiba terdengar suara bapak-bapak dari dalam bangunan tersebut.

“Eh, kami mau ke Gunung Padang Pak. Kira-kira dari sini masih jauh pak?” tanyaku.

“Ah, tidak jauh kang. Dari sini lurus saja nanti kalau ada persimpangan ambil ke arah yang ***** (lupa) nanti sampai di jalan raya (saat itu juga kami mendengar suara motor yang artinya jalan raya tidak jauh lagi). Ya kira-kira 3-4 kilometer lagi lah.” bapak itu memberi petunjuk.

“Wah, kalau cuma 3-4 kilometer sih sudah dekat.” aku bergumam. “Ya sudah terima kasih ya pak. Wah ini cabe sungguhan ya pak. Bukan cabe-cabean *hlah,” aku mengucapkan terima kasih.

JUMP!!!

JUMP!!!

lewat persawahan

pemandangannya bagus

Sekitar 10 menit lebih (entah lebihnya berapa menit) akhirnya kami sampai juga di jalan raya antara Stasiun Lampegan dan Gunung Padang. Dari GPS yang disinkronisasi dengan Google Maps yang diakses Mas Gie, ternyata kami telah berhasil memangkas perjalanan sepanjang 1 kilometer. Tinggal 6 kilometer lagi. Baiklah, istirahat sebentar *hlah. Sementara kami beristirahat, Mas Doli tiba-tiba ngacir, menghilang entah ke mana. Sepertinya dia meninggalkan kami dan memulai perjalanan duluan. Ya sebenarnya aku lebih setuju seperti Mas Doli sih, kalau lama beristirahat selain membuat waktu yang terbuang sia-sia, kalau sudah beristirahat itu menjadi lebih malas untuk melanjutkan perjalanan. Di sini, Om Rio pun pamit untuk kembali ke stasiun Lampegan karena memang tidak ikut perjalanan kami ke Gunung Padang dan harus mengejar kereta ke Bogor yang jam 14.00. Selamat jalan Om Rio, hati-hati di jalan dan semoga selamat sampai di tujuan.

Ditinggal Om Rio kami tak lantas kehilangan arah karena tinggal mengikuti jalan raya ini saya sejauh kurang lebih 6 kilometer akan sampai di Gunung Padang. Namun mengingat ada anggota kami yang sudah terkuras banyak tenaganya serta waktu yang sudah melebihi jadwal, kami memutuskan untuk menyewa angkot yang lewat tapi apalah daya, tak ditemukan satupun angkot atau ojek yang lewat. Kami sepakat untuk berjalan kaki saja yang tak berapa lama kemudian terdengar suara truk yang lewat. Saat truk lewat di depan kami, segera kami mengacung-acungkan jempol mencoba memberhentikan truk tersebut. Ya, kami memutuskan untuk nebeng truk tersebut. Dengan kecepatan seperti itu kami sudah pesimis truk akan berhenti, namun entah karena ada cewek cantik (terpaksa ngomong cantik soalnya kakak kandung sendiri 8) yang ikut akhirnya truk pun berhenti, langsung saja kami naik ke dalam bak truk tersebut. Setelah semuanya naik, aku merasa cemas karena Mas Doli sudah terlebih dahulu jalan di depan kami dan dengan semoga bapak-bapak sopir truk ini mau berhenti. Tapi semua itu hanya tinggal harapan belaka, kami bertemu Mas Doli sedang berjalan gontai di tengah terik matahari. Kami sudah mencoba menggedor-gedor pintu tapi usaha kami sia-sia, sopir truk tetap melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi, apalagi di dalam ternyata kami tidak sendirian ada seorang kakek yang tampaknya cukup dongkol dengan kehadiran kami. Ya sudah, kamipun hanya bisa melambaikan tangan kepada mas Doli. Maafkan kami mas sorry.

Sopir melanjutkan perjalanan, di sini kami melewati jalanan dan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Perkebunan teh di kanan kiri jalan serta beberapa pepohonan membuat mata kami tidak lagi lelah karena sudah cukup capek berhadapan dengan layar komputer selama di tempat tinggal masing-masing.

Bm31ZkACUAAyY9X.jpg large

Mas Adit

“Awas ranting!” teriak teman-teman.

“Sraaaakkk!” terlambat. Aku terlambat menyadari kehadiran ranting tersebut, seketika saja ranting tersebut langsung mencium wajahku. Sebegitu mengenaskannyakah aku? Tak ada wanita yang menciumku sampai-sampai hanya ranting pohon yang sudi untuk mendaratkan ciumannya ke wajahku. Ah, semua wanita sama saja. Sama-sama wanita.

Di atas truk (atau di dalam bak truk lebih tepatnya dan ah ngapain sih kayak gini aja dibahas) Mas Gie mengirimkan pesan teks atau bahasa gaulnya SMS ke Mas Doli yang isinya supaya jika ada ojek atau apa langsung minta berhenti saja. Dilema ternyata tak berhenti sampai di sini. Ternyata ada seorang teman lagi, namanya Ana Iqlima, bukan Ana yang ada dalam novel KCB, berasal dari Tangerang menuju kemari dengan menggunakan moda transportasi bus. Jadi, siapakah si Ana ini?

*Flash back*

Kejadian bermula ketika aku ngetwit mengenai ajakan untuk ikut acara jalan-jalan ini sekitar 1 bulan yang lalu. Kebetulan diretwit oleh temanku. Dari retwit itulah, Ana mengetahui ajakanku dan kemudian membalas twitku. *cieee. Dia menyatakan diri ingin ikut. Tapi karena waktu yang masih cukup lama, aku hanya meminta untuk mencari-cari tahu terlebih dahulu tentang Gunung Padang agar tidak kecewa. Selain itu aku juga memberikan dia link web bokep dari kaskus yang berisi draft kegiatan ini mulai dari itinerary, peralatan, hingga biaya yang kira-kira akan dibutuhkan.

Sementara waktu berjalan, temen-temen dari Kaskusepur terus membahas rencana kegiatan ini mulai dari grup WhatsApp hingga ke forum kaskus. Intinya terus berdiskusi melalui dunia maya karena lokasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan. Sampai akhirnya itinerary dan segala hal sudah rapi, aku kembali mention si Ana lewat Twitter (ciee mensyen mensyenan) menanyakan apakah jadi ingin ikut atau tidak. Sedikit selingan, sebenarnya ada 3 orang cewek lagi yang diajak ikut jalan-jalan kali ini. 2 orang aku yang mengajak sementara Mas Gie mengajak satu orang namun sayangnya dari ketiga cewek itu tidak ada yang bisa ikut. Karena ada yang harus mengikuti praktikum di kampusnya jam 7 pagi di hari Senin, ada yang tiba-tiba mendapatkan jadwal presentasi di kampusnya pada hari Sabtu itu, ada juga yang mendadak tanpa memberi kabar tiba-tiba pada pagi harinya berangkat ke Bali karena agenda kampus. Ah elaaah hammers.

Back to Ana, dengan kondisi anggota cewek yang batal semua (kecuali kakak yang emang udah fix ikut) aku sendiri berharap dia tidak ikut perjalanan ini, selain karena aku tidak kenal takutnya nanti aku diemin selama perjalanan, juga karena aku tidak mau repot karena harus bertanggung jawab mulai dari ajakan hingga mungkin keselamatannya. Meski akhirnya aku harus mengakui kalau Ana ini luar biasa karena bahkan bisa melakukan perjalanan hingga nanti ke Curug Cikondang jempol1.

Melalui sms, aku memberitahu Ana tentang perjalanan yang harus dia lakukan untuk mencapai Bogor (domisilinya di Tangerang) namun ternyata dia tak bisa mengikuti saran yang sudah aku berikan.

“Ah udah deh mbak, ikhlasin aja. Batalin aja. Nggak usah ikut,” pikirku begitu tahu dia terlambat naik kereta Pangrango. Namun dia masih ngotot untuk ikut, akhirnya dengan bertanya kepada salah satu penumpang kereta Pangrango kala itu aku diberitahu cara alternatifnya. Dengan sedikit terpaksa akhirnya (karena nggak enak buat nolak) aku pun memberitahukan sesuai dengan arahan bapak penumpang tersebut. Dan tanpa balasan, aku menganggap mungkin dia sudah balik kucing ke Tangerang. Aku tidak lagi memikirkannya dan dengan tenang melanjutkan perjalanan.

*Back to topic

Ternyata truk tersebut tidak menuju ke Gunung Padang. Kami diturunkan di sebuah persimpangan ada plang tulisan yang menunjukkan kalau Gunung Padang tinggal 1 kilometer lagi. Okelah, no problemo lanjut jalan. Eh tapi sambil menunggu mas Doli yang lagi berjalan kaki menuju titik peristirahatan kami memilih untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon yang cukup rindang sambil mengambil foto pemandangan yang benar-benar bikin adem di mata dan beda banget lah sama yang namanya kota yang penuh dengan polusi, baik polusi udara, polusi suara, sampai ke polusi mata.

Bm3-MRvCEAE04ON.jpg large

Plang Penunjuk arah

Beristirahat di bawah pohon setelah berjalan dan naik truk, membuat ngantuk mulai datang bahkan aku sendiri sempat hampir kehilangan keseimbangan karena tertidur sesaat. Tidak bisa dibiarkan ini, kalau begini bisa-bisa malah tidur di sini dan malas melanjutkan perjalanan.

Tak berapa lama istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kembali dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan kami sepakat untuk beristirahat kembali, kali ini di sebuah warung kecil sambil menunggu Mas Doli datang. Ada yang memesan makanan mungkin karena kelaparan, sementara aku hanya memesan minuman dingin sekedar untuk menghilangkan rasa dahaga. Di saat ini, aku mencoba menghubungi Ana melalui telepon. Tiba-tiba Ana sms “Mas, saya sudah sampai Warung Kondang ini, harus gimana lagi?” Segera saja aku menelepon dia.

“Halo, mbak Ana. Gimana-gimana?

“Iya nih mas, saya sudah di Warung Kondang. Ini saya harus gimana ya? Tadi nyoba naik ojek mintanya 100ribu”

Wah, mahal juga pikirku. “Mmmm. Kayaknya itu 100rb kalau PP mbak, tawar aja jadi 50ribu tapi sekali jalan. Nggak apa-apa deh, nanti uangnya dishare sama yang lain”

“Oh, gitu ya mas. Masnya sekarang posisi di mana? Terus tadi naik apa?”

“Saya sekarang sudah tinggal jalan 1 km lagi mbak. Tadi sempet jalan kaki terus naik truk”

“Gini aja mas, ini saya ditawari sama supir angkot katanya mau ngangkut tapi harganya 110ribu daripada masnya di sana jalan kaki kan.”

Setelah berdiskusi sejenak dengan mas Adit, “Ya udah mbak, ambil aja. Nanti uangnya dishare sama kita-kita”.

“Ya udah mas, ini saya naik angkotnya. Masnya pakai baju apa ya biar nanti pas di jalan ketemu bisa diangkut sekalian”

“Saya pakai baju merah mbak.”

Kemudian aku menceritakan kepada teman-teman perihal kondisi si Ana. Ternyata Mas Gie justru punya ide untuk sekalian mengangkut Mas Doli yang masih di belakang. Langsung saja aku mengirimkan pesan singkat kepada Ana yang berisikan untuk menjemput seorang anggota lagi yang tertinggal di Pos Pantau Polisi sementara di sisi lain Mas Gie memberikan nomor ponsel Ana kepada Mas Doli agar mereka bisa bertemu (ciyee yang mau ketemuan).

Setelah selesai istirahat, aku segera menuju ke pinggir jalan agar bisa dilihat oleh Ana dan supir angkotnya. Tak berapa lama, muncul sebuah angkot berwarna abu-abu dan perak melintas dan kemudian langsung berhenti. Ya itu adalah angkot yang disewa oleh Ana. Kami semua segera naik angkot, angkot pun melanjutkan perjalanannya. Dan anda tahu saudara-saudara, ternyata pintu gerbang situs Gunung Padang sudah sangat dekat, dari titik penjemputan oleh angkot tadi hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit. Ah elaaah tahu gini mending tadi jalan kaki saja.

Dari sini, perjalanan masih berlanjut. Pintu gerbang ini hanyalah sebagai tempat parkir mobil. Tapi dari sini sudah tidak jauh lagi ya paling sekitar 10 menit ditempuh dengan berjalan kaki bisa sampai di pintu loket. Setelah membayarkan biaya sewa angkot dan juga meminta mamang supir angkot untuk bersedia menjemput kami di Curug Cikondang maksudnya disewa juga untuk jemput, tapi jemputnya di Curug Cikondang. Tapi sayangnya mamang supir angkotnya menolak karena jalan akses menuju Curug Cikondang yang sulit ditambah lagi harus jemput jam 7 agar bisa mengantarkan kami ke Stasiun Lampegan sebelum jam 9 apalagi angkot yang digunakan bukan miliknya sendiri dan dia berasal dari Cianjur, terlalu jauh.

Pintu Gerbang Situs Gunung Padang

Oke, urusan dengan mamang angkot sudah kelar. Intinya kami masih belum tahu bagaimana kami bisa kembali menuju stasiun Lampegan sebelum jam 9 untuk keesokan harinya. Masih ada kemungkinan kami akan sewa ojek tapi itu masih besok, sekarang sih jalan-jalan aja dulu.

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menaiki tanjakan yang kali ini jalan aspal jadi sangat mudah. Tidak jarang pula kami berpapasan denga para pengunjung yang turun. Wajar sih, apalagi waktu saat itu sudah menunjukkan jam 14.00 Waktu Indonesia Bagian Ponselku, sudah terlalu sore sebenarnya atau lebih tepatnya kami kesorean dan sudah lebih dari itinerary yang kami susun. Ah ya wes lah, teruskan saja, berarti tidak perlu lama-lama di Gunung Padang langsung lanjutkan perjalanan ke Curug Cikondang.

Untuk masuk ke dalam situs Gunung Padang ini biayanya sangat murah, cuma Rp 2000. Terlalu murah untuk sebuah pengalaman yang akan sangat panjang untuk diceritakan. Untuk menuju puncak gunung terdapat dua jalur, semuanya berupa tangga. Sebelah kiri merupakan jalan lama dengan ketinggian yang sangat curam namun dapat mencapai puncak dengan cepat sementara di sebelah kanan merupakan tangga yang baru cukup landai namun membutuhkan waktu yang lebih lama. Sempat terjadi perdiskusian di antara kami, beberapa waktu yang lalu Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengunjungi situs ini, pertanyaannya lewat jalur yang mana kah beliau? Lewat jalur kiri yang curam namun cepat, jalur kanan yang lebih lama, atau jangan-jangan ada semacam lift tersembunyi khusus kepresidenan. Wallahu’alam bishowab.

Aku dan Mas Gie sebagai pria sejati memilih untuk menggunakan jalur yang sulit sementara Mas Adit, Mas Zaky, Mas Azer, Ana, dan Mbak Dhanar memilih jalanan yang lebih landai alias tangga baru. Mas Doli? Dia mau beristirahat dulu mengeringkan keringat di warung sebelum naik. Setelah karcis diserahkan kepada petugas, aku dan Mas Gie mantap menggunakan jalur tangga curam.

Bismillah.

Langkah pertama menaiki tangga. Setelah itu aku terus melaju naik 5, 10 langkah masih tidak kuat, semakin ke atas paha mulai terasa linu langkah pun mulai terasa berat. Mas Gie yang sejak semula berada di depanku sudah mulai menurun staminanya dan berhasil aku salip. Sambil ngos-ngosan aku mulai mengatur langkah, tapi apalah daya tangga yang tidak teratur membuatku susah untuk mengatur tempo langkah. Paha makin linu, Mas Gie semakin tertinggal di belakang. Aku melihat ke atas. Alamak, tinggi banget itu tangganya, sudutnya itu loh. Mulai muncul keraguan tapi aku harus tetap mengarungi tangga yang akan membawaku ke surga.

Kiri atau Kanan?

Hingga akhirnya aku melihat ada seberkah cahaya dari atas, Oh Tuhan apakah itu surga yang Kau janjikan? Oh ternyata bukan itu hanyalah akhir dari tangga yang aku naiki. Aku pun menoleh ke belakang, berusaha memanggil Mas Gie yang terduduk di tangga seakan sedang mengalami sakarotul maut.

“Ayo mas, udah dekat nih. Udah mau di puncak nih”

“Sebentar lah, istirahat dulu”

Tapi aku meninggalkan Mas Gie yang berada beberapa anak tangga di bawah namun justru ketika aku sudah mencapai puncak kenikmatan tangga kakiku yang sudah linu mendadak menunjukkan kelinuannya dan membuatku hampir saja terpeleset hingga aku sampai harus sedikit merangkak untuk mencapai tangga tertinggi. Akhirnyaaaaaaaa

Sampai

Setelah mengambil nafas, aku menuju tempat yang agak tinggi lagi agar bisa melihat sekeliling dari atas. Oh iya, jadi saudara-saudara, ternyata aku adalah orang pertama yang berhasil mencapai puncak. Hahaha. Dari atas, aku bisa melihat sekeliling, melihat pemandangan-pemandangan yang membuatku takjub. Benar-benar indah. Dan membuatku semakin yakin, Indonesia inilah surga dunia. Masih banyak tempat-tempat yang harus dieksplorasi nih.

tangga

Tangga

Tak lama kemudian, satu persatu anggota tim bermunculan ke atas layaknya jamur-jamur di musim hujan. Kami semua beristirahat, ngobrol sambil menikmati semilir angin dan pemandangan yang menyejukkan jiwa dan tak lupa, foto-foto dongs.

Jadi di Gunung Padang ini adalah sebuah situs peninggalan prasejarah zaman Megalitikum atau zaman batu besar. Namanya situs zaman batu, segalanya terbuat dari batu. Beberapa membentuk formasi seakan-akan sebuah ruangan, ada juga yang berbentuk seperti meja, termasuk tangga yang curam tadi juga merupakan susunan batu yang diperkirakan sudah ada sejak lama sehingga bentuknya tidak teratur padahal kalau disusun teratur kan mempermudah orang-orang zaman dulu juga buat naik ke atas. Selain itu masih banyak juga beberapa formasi batuan di sana, jika teman-teman menyewa seorang guide mungkin bisa dijelaskan mengenai apa maksud dan fungsi dari formasi batuan tersebut. Kalau kami sengaja tidak menyewa karena tujuan kami selain yang penting sampai dan menikmati pemandangan juga prioritas keuangan kami.

IMG_0053

Foto sama kakak

Gunung Padang

Gunung Padang

Pemandangan

Tik.. tik.. tik..

Wah, hujan. Kami segera mencari tempat berteduh. Kebetulan di bagian belakang situs ada beberapa warung yang menjual makanan dan jajanan. Tanpa perlu pikir panjang kami menuju salah satu warung untuk berteduh sambil melanjutkan ngobrol dan beristirahat. Beruntungnya warung yang kami singgahi ini harga-harga makanannya sangat murah atau bisa dibilang masih standar dari harga warung di luar tempat wisata padahal berdasarkan pengalaman kalau di tempat wisata pasti harga makanannya naik 2x lipat sudah begitu ibu-ibu penjualnya sangat ramah kepada kami jadi aku sendiri secara pribadi sangat menyarankan kalau mau beli sekedar makanan ringan atau minum. Di sini kami sempat ngobrol dengan pemilik warung mengenai jalan menuju Curug Cikondang. Beberapa dari kami sudah terlihat mengendur semangatnya mengingat perjalanan masih juga absurd dan waktu yang sudah sore, tercatat waktu itu sekitar jam 16.00. Kami tidak boleh lebih lama lagi berada di sini sebelum akan kemalaman untuk mencapai Curug Cikondang.

“Bu, kalau dari sini ke Curug Cikondang jauh nggak bu? Kira-kira berapa lama lagi?” tanya Mas Doli

“Kalau dari sini teh masih jauh a’. Lewat sini aja *sambil nunjuk jalan setapak di sebelah warung* nanti lewat Gunung Rosa. Paling cuma satu jam. Emang mau ke sana? Udah sore ini.” ujar ibu-ibu warung.

“Mau ke curug buk, nanti nge-camp nanti di sana.” Mas Doli menyahut. “Jadi gimana ini, masih pada mau lanjut? Yang mau lanjut siapa saja?”

Akupun mengangkat tangan pertanda setuju perjalanan dilanjutkan, begitu pula Mas Gie dan Mas Doli. Sementara Mas Zaky terlihat berat mengangkat tangannya karena merasa dirinya sudah tidak kuat lagi namun dia masih memilih untuk lanjut dengan alasan kebersamaan. Aku sendiri bersikeras harus menjumpai Curug Cikondang karena berdasarkan foto-foto yang di internet pemandangannya sangat indah bahkan sempat terpikirkan untuk melewatkan perjalanan ke Gunung Padang dan langsung ke Curug Cikondang.

Selesai melakukan voting dan menunaikan sholat, kami segera bersiap-siap. Membeli kebutuhan logistik karena sekali lagi kami tidak membawa peralatan masak dan informasi yang kami dapatkan adalah di Curug tidak ada warung 24 jam apalagi Indomaret Point. Begitu hujan reda, kami segera berpamitan kepada penjual warung untuk melanjutkan perjalanan dan berpisah dengan Mas Azer yang memang dari awal berencana untuk ke Gunung Padang saja dan harus kembali ke Jakarta karena ada urusan.

Bismillah. Perjalanan ke Curug Cikondang pun dimulai.

<bersambung>

Iklan

16 thoughts on “Gunung Padang – Curug Cikondang part 1 (Stairway to Heaven)

  1. hahahaaaa… keren bahasanya, alurnyaa.. i am really enjoying your story telling my lil bro! hayuk lah jalan-jalan lagi~
    btw, itu akun gallaw punya km juga? (._.)a

    Suka

  2. uweiitttsSSss bang Gall bikin FR juga
    keren2 banyak pict yg baru ane liat dan sudut pandang berbeda yang sy jadi tau
    di tunggu part 2nya loh 😀

    Suka

  3. Ping-balik: Gregory Smith

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s