Gunung Padang – Curug Cikondang part 2 (Buntut Panjang Keterlambatan)

Menyianyiakan waktu merupakan sebuah dosa besar yang akan berbuntut panjang

Setelah menjalani sebuah perjalanan penuh pengalaman, mulai dari menjelajahi terowongan, berjalan kaki menyusuri rumah dan sawah, naik truk hanya bermodalkan jempol, hingga mendaki tangga menuju surga yaitu puncak Gunung Padang. Beberapa pengalaman mulai dari berjalan kaki sampai dicium oleh ranting yang berujung pada luka di alis sebelah kiri sudah aku rasakan namun cerita kali ini lebih seru dan menegangkan. Menuju ke Curug Cikondang yang penuh dengan tantangan, hanya berbekal harapan dan imajinasi yang menuntun kami ke sana.

Curug Cikondang

Sekitar jam 17.00 kami meneruskan perjalanan kami dari warung yang super murah dan ibunya yang baik hati di area Gunung Padang. Petunjuk yang diberikan ibu penjaga warung tersebut cukup jelas, “ikuti saja jalan setapak lewat Gunung Rosa sampai ketemu jalan raya, nanti sudah dekat dan tinggal turun menuju curug dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam perjalanan”. Kami dengan mantap mulai berjalan setapak demi setapak menyusuri persawahan. Pemandangan yang sangat indah di sisi kiri perjalanan dengan terasering persawahan. Sesuai ekspektasi tanah desa yang asri ditambah dengan suasana sehabis hujan yang cukup sejuk.

Perjalanan kali ini lebih menantang, jika dibandingkan dengan menyusuri persawahan pada perjalanan sebelumnya. Jalanan yang ditempuh becek sehabis hujan, perjalanan tidak bisa cepat meskipun baru saja mengisi tenaga di warung tadi. Jalanan licin bercampur lumpur membuat kami harus berhati-hati memilih jalan yang bisa dilewati, salah-salah bisa terpeleset seperti yang terjadi pada mas Adit (#kamusabaro mas adit). Selain harus pandai-pandai memilih jodoh jalan, ternyata peralatan awal wajib bawa yang kemarin disepakati sangat menentukan. Kali ini banyak korbannya, beberapa orang tidak menggunakan alas kaki yang standar yang menyebabkan sering kali terpelosok, terpelest, dan terlambat datang bulan *lah.

Perjalanan yang semula dibayangkan akan mudah ternyata tidak begitu adanya dan justru semakin sulit. Perjalanan menuju curug saja rasanya sudah seperti mendaki gunung. Kondisi jalan yang becek, licin, dan kadang diselingi batuan menambah suasana seperti mendaki gunung dan jauh dari bayangan kami yang menurut beberapa cerita untuk menggapai curug ini tidak terlalu sulit dan tergolong mudah.

pemandangan selama perjalanan

 

jalan

jalan

Tanpa terasa kami sudah mulai lelah berjalan namun jalan raya, eh bukan, yang dinamakan Gunung Rosa saja kami belum tahu. Entah sudah berapa lama kami berjalan yang kami lihat hanyalah sawah, bukit, dan hutan tanpa ada perumahan sedikitpun. Hanya terdengar suara langkah kaki kami dan juga beberapa hewan yang bersenandung sahut-menyahut bahkan tak ada suara bercengkrama dari kami. Kami semua terdiam, entah karena fokus dengan perjalanan yang cukup berat ini, karena terpesona pemandangan di sekitar kami, atau karena sudah tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Ya, yang tahu hanya pribadi masing-masing.

Semakin sore bukan rumah yang kami temui namun kabut yang turun membuat nyali kami semakin ciut dan membuat kami semakin tak yakin akan keberadaan Curug Cikondang yang indah jika dilihat di foto-foto itu. Harapan kami semakin tipis. Perumahan tidak ada artinya kami tak bisa bertanya tentang arah. Apakah kami tersesat? Beruntung masih ada sinar matahari sehingga masih ada cukup penerangan untuk terus melanjutkan perjalanan. Hingga kemudian kami menemukan sebuah rumah dan secara kebetulan pula ada seorang kakek-kakek yang entah sedang menjemur pakaian atau kenapa. Namanya kakek-kakek, pendengaran jelas sudah mulai berkurang, bahkan kami harus sedikit berteriak dan mengulang pertanyaan kami tentang arah Curug Cikondang.

Setelah bertanya dan memberikan sedikit harapan karena kata kakek tadi Curug Cikondang hanya tinggal 1 jam perjalanan lagi, kami melanjutkan perjalanan dan sama seperti sebelumnya, kami berjalan dengan hening. Kami tetap fokus dalam perjalanan yang sangat menantang ini. Mas Adit dan Mas Zaky yang hanya menggunakan sandal biasa beberapa kali terpeleset dan terperosok bahkan sampai jatuh ke dalam lumpur.

Malam, Hutan, dan Anjing

Hari semakin gelap namun Curug Cikondang tak jua ada kejelasan, seperti para PHP yang hanya suka memberi harapan tanpa ada kepastian, begitu pula Curug Cikondang dan seharusnya Curug Cikondang masuk ke dalam golongan para PHP. Eh tapi kan PHP itu nggak ada, yang ada hanya orang yang kege-eran dan ngarep jadi itu artinya kami semua ini termasuk golongan orang-orang yang ngarep dan ge-er?

hari mulai gelap

Setelah tidak menjumpai kejelasan mengenai arah dan hanya berbekal peta buta dari Google Maps dan GPS yang ada di ponsel Mas Gie kami mulai menemukan permasalahan baru, PERSIMPANGAN. Suasana gelap, berkabut, kondisi kami yang buta lokasi hanya mengandalkan GPS dan keberuntungan agar kami tidak tersesat. Kondisi jalanan masih silih berganti antara jalanan tanah becek dan batu-batu makadam. Hingga akhirnya kami menemukan suatu perkampungan di dalam kegelapan. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak karena sudah cukup lama kami berjalan lebih lama dari satu jam seperti yang disampaikan oleh ibu-ibu penjaga warung di Gunung Padang itu. Kondisi jalan yang gelap dengan penerangan yang minimalis (hanya mas Adit dan mas Gie yang bawa lampu senter) dan berkabut memaksa kami menghentikan sejenak perjalanan ini karena beberapa anggota sudah terlihat menyerah.

“*tok tok tok* Assalamu’alaikum. Permisi.” aku mengetuk salah satu pintu rumah berharap mencari jawaban atas arah Curug Cikondang yang semakin tidak jelas.

Tidak terbuka.

Aku mencoba beberapa kali, hingga akhirnya ada sahutan dari dalam rumah. “Wa’alaikumsalam.” Dan seorang ibu keluar membukakan pintu rumahnya.

“Permisi bu, maaf mengganggu malam-malam. Kami mau bertanya, arah ke Curug Cikondang ke mana ya bu?” tanyaku

“Wah, kalau dari sini masih jauh. Tinggal ikuti saja jalan ini, kalau ada percabangan ambil lurus saja. Dari sini masih 3 jam lagi. Ini adik-adik dari mana?” si ibu balik bertanya.

“Dari Jakarta bu, ini tadi dari Gunung Padang terus mau ke Curug Cikondang. Permisi bu, boleh kami numpang istirahat dulu sebentar mau sekalian sholat.” kakakku menyahut.

“Oh iya silakan-silakan, masuk saja. Kok malam-malam ke Curugnya.” si ibu mempersilakan kami masuk.

Aku, kakakku, Ana, Mas Zaky, dan Mas Adit langsung masuk. Aku dan Mas Adit segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat berjama’ah. Selesai sholat terjadi sedikit diskusi antara kami yang berada di dalam rumah. Kakak dan Mas Zaky sudah benar-benar habis tenaga dan keyakinannya. Mereka memilih untuk mundur dan menginap di rumah ibu tersebut. Mereka sudah tidak yakin dengan perjalanan ini, dengan bekal logistik yang sangat terbatas, penerangan yang sangat minim, serta kondisi kami semua yang tidak tahu arah dan mengambil keputusan arah hanya berdasarkan GPS dalam Google Maps yang itu juga ditakutkan akan kehilangan sinyal karena lokasi yang berada di dunia antah berantah. Mereka berdua pun memilih untuk berhenti. Mereka meminta izin kepada ibu pemilik rumah. Sementara yang lain, aku, mas Adit, mas Doli, mas Gie, dan Ana masih lanjut. Ini yang membuat aku terkejut, Ana yang mengaku ini adalah petualangan pertamanya harus mengalami kejadian luar biasa yang sangat luar biasa ini. Sebenarnya aku sudah menyarankan agar ikut berhenti saja, biarkan kami yang pria-pria sejati ini yang akan meneruskan perjalanan mencari kejelasan akan Curug Cikondang namun dia bersikukuh untuk terus maju di saat perjalanan ini sendiri, bahkan para lelaki sejati, pun tak tahu akan ke mana arah perjalanan ini, apakah akan sampai di Curug atau justru tersesat di hutan tanpa perbekalan logistik dan berbekal komunikasi berupa sms.

Kamipun akhirnya berpisah menjadi dua tim. Kakak dan Mas Zaky memilih untuk beristirahat dan esok pagi akan langsung naik ojek ke Stasiun Lampegan, sementara sisanya, aku, Mas Adit, Mas Gie, Ana, dan Mas Doli tetap melanjutkan perjalanan menuju Curug Cikondang untuk kemudian esok kembali berjalan kaki ke Stasiun Lampegan. See you at Lampegan Station tomorrow, I’ll show you the beauty of Curug Cikondang kira-kira begitu yang aku pikirkan saat itu.

Setelah berpamitan dan bertanya arah Curug Cikondang kepada ibu di rumah itu (dan masih diberitahu kalau Curug Cikondang hanya butuh 1 jam berjalan), kami berpisah dan melanjutkan perjalanan. Hari sudah malam, dengan penerangan yang sangat minim kami membentuk formasi agar tidak ada yang terpisah. Sebelumnya kami membuat target yakni akan beristirahat setelah 1 jam berjalan. Kami terus berjalan namun kali ini kami tidak diam saja dan mulai bercengkrama sebagai pengalihan perhatian dan menambah keakraban. Beberapa kali kami terpaksa berhenti sejenak hanya untuk mengatur napas karena perjalanan yang serba terbatas dan hanya bisa melihat kegelapan di mana-mana tanpa ada lampu selain lampu senter yang kami bawa. Benar-benar seperti sedang acara petualangan malam ketika masih zaman-zaman Pramuka SMP atau SMA.

Setelah entah berapa lama kami berjalan, kami mulai menemukan perkampungan. Di perkampungan ini sejenak kami beristirahat cukup lama untuk mengisi tenaga. Kami menuju salah satu rumah yang tampaknya tak berpenghuni, nah makin serem aja kan, untuk sekedar duduk, minum, atau makan perbekalan. Setelah membaca plang yang ada di sekitar rumah tersebut, ternyata rumah itu adalah sebuah Balai Kesehatan yang sudah ditutup karena malam. Makin serem deh tapi bodo amat lah, kami butuh istirahat juga. Dari sini ternyata kami telah menempuh sepertiga perjalanan menuju Curug Cikondang, begitulah yang disampaikan juru peta kami, Mas Gie. Entah ngomong seperti itu hanya demi menyenangkan dan tidak membunuh harapan kami atau memang benar yang jelas aku hanya ingin melihat Curug Cikondang itu.

Istirahat dulu

Perjalanan pun dilanjutkan kembali, kami kembali menyusuri gelapnya malam di tengah hutan dan kebun teh. Jalan yang kami tempuh juga masih tidak jauh berbeda dari tadi sore bergantian antara jalanan yang becek dan jalanan batuan. Kami harus berhati-hati memilih jalan karena sejak tadi pula kami berjalan di tepi jurang di sebelah kiri. Perjalanan selepas Balai Kesehatan itu cenderung menurun, mungkin ini kami sedang menuruni gunung. Tak lama kemudian kami bertemu dengan sebuah perkampungan lagi, kalau diamati perkampungan di sini hanya terdiri dari beberapa rumah saja kemudian hutan atau kebun teh baru ada perkampungan lagi. Di sini kami bertemu dengan mas-mas yang sedang mencuci motornya. Kami pun bertanya kepada mas-mas tersebut yang nampak agak sedikit takut begitu tahu kedatangan kami, mungkin kami dikira gerombolan pencuri atau perampok gitu.

“Aa’, permisi numpang tanya. Kami mau ke Curug Cikondang ke arah mana ya?” Mas Adit bertanya.

“Oh, itu muterin jalan itu kang, ketemu perkampungan, ketemu sama pabrik terus *sinyal ilang alias gak kedengeran*” jawab si akang setelah yakin kalau kami bukan orang jahat.

Kami pun melanjutkan perjalanan setelah mengucapkan terima kasih tentunya. Perjalanan kali ini lebih didominasi dengan jalanan batu namun masih bervariasi naik dan turun. Setelah meninggalkan perkampungan, keadaan kembali gelap gulita tanpa ada lampu selain lampu senter. Tak lama kemudian kami masuk lagi ke dalam sebuah perkampungan yang kali ini lebih terang dari sebelum-sebelumnya karena ternyata inilah pabrik yang dimaksud. Dan beruntungnya kami menemukan ada warung yang masih buka di jam segitu, ada masjid pula. Hasrat ingin pipis yang sempat tertahan dari tadi segera dilepaskan di toilet masjid tersebut sementara yang lain masih ke warung untuk mengisi ulang air yang sudah mulai habis dan membeli makanan ringan sekadar untuk mengganjal perut. Mas Doli mengisi ulang tumbelernya dengan kopi panas sementara aku (setelah selesai pipis) membeli (lebih tepatnya memborong sih) permen Jagoan Neon sekadar untuk diemut. Cukup lama kami beristirahat di sini, karena memang penjaga warungnya harus merebus air panas untuk membuat kopi yang dipesan Mas Doli.

Setelah kopi selesai dimasukkan ke dalam tumbeler, kami melanjutkan perjalanan. Sebelumnya kami sudah meminta untuk dibuatkan peta buta arah menuju Curug Cikondang dari Akang penjaga warung tersebut. Semangat naik lagi apalagi penjaga warung itu mengatakan perjalanan tinggal 1 jam lagi (ahelah dari tadi kok 1 jam terus). Meski hanya peta buta tapi ini mempermudah kami untuk menuju Curug Cikondang. Pada awalnya, akang penjaga warung kaget begitu tahu kami berasal dari Gunung Padang dan menuju Curug Cikondang dan melakukan perjalanan di malam hari pula. Dengan peta buta dari akang penjaga warung itu, kami bisa lebih mudah karena kerja ponsel Mas Gie menjadi berkurang sehingga bisa menghemat baterai. Dengan mantap kami maju mengikuti arah di peta tersebut. YEAH!

Perjalanan berjalan lancar, awalnya. Hingga tiba-tiba.

“Auuuuuuwwwwww”

Bukan, itu bukan suara Tukul dalam acara Mr. Tukul Jalan-Jalan di Trans 7.

“Guk guk,, arwwrrr, guk guk”

ASU! Tidak, aku tidak berkata kotor, yang ini memang benar ada anjing.

“Guk guk guk, arwwwrrrawwwrr, guk guk guk guk guk.”

ASU! Suaranya makin lama makin ramai. Mereka menggonggong bersahut-sahutan. Ini gara-gara anjing pertama tadi yang bekerja sebagai provokator. Bangkee udah kayak orang-orang yang lagi demo aja tuh. Udah gitu pas kami melewati rumah pertama yang anjingnya jadi provokator itu, ternyata anjing itu sudah nggak menggonggong lagi tapi dia berhasil membuat teman-temannya saling bersahut-sahutan. Lempar gonggong sembunyi wajah. Bisa dibayangkan wajah anjing itu seperti wajah seorang provokator yang tertawa puas berhasil mempengaruhi yang lain. Kami mulai takut. Ya siapa yang nggak takut suara anjing yang sangat keras, meskipun tak terlihat tampangnya tapi itu cukup membuat kami berhenti berjalan. Aku sudah menyiapkan tongkat kayu yang sejak dari tadi aku bawa. Aku sudah berada dalam mode Siap. Siap untuk lari.

Sambil berjalan pelan, kami masih tetap maju hingga tiba-tiba.

“Arwwwwrrrrrr,, guk guk guk!”

Suara anjing yang kali ini terdengar lebih dekat dan sangat kencang. Kami langsung berhenti, ketakutan lah. Apalagi. Kami serasa dikepung dari segala arah. Kampret, bisa-bisanya. Saat itulah aku merasa sudah ingin mengakhiri perjalanan ini dan kembali ke tempat pabrik tersebut dan tidur di masjidnya. Bodo amat dengan Curug Cikondang. Yang penting selamat dulu deh. Bukan sumber selamat apalagi wafer selamat. Kami hanya terdiam kala itu, sementara si empunya anjing hanya terdiam melihat kami ketakutan dari dalam rumahnya yang remang-remang.

“Paak, kang, tolong ini anjingnya ditenangin dong.” sahut Ana memanggil tapi pemiliknya masih terdiam saja.

Beberapa kali kami dalam kebimbangan, pengen teriak memanggil si pemilik anjing tapi dalam keadaan yang sudah malam takut mengganggu orang lain atau kami tetap terus ketakutan menghadapi lolongan anjing ASU ini. Sudah malam, di sebuah desa yang kami bukanlah warga di sana, di pegunungan pula menjadi tidak etis jika kami harus berteriak-teriak. Kami dalam kebimbangan yang amat sangat. Sempat terlintas dalam benak, kalau menghadapi anjing yang menggonggong sebenarnya hanya bersikap santai, tenang, dan tidak menunjukkan sikap akan berbuat jahat karena pernah baca disebuah artikel anjing mampu merasakan seseorang itu akan berbuat jahat atau tidak. Seharusnya kami cukup cuek saja dan terus berjalan karena seperti kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya, anjing yang menggonggong justru tidak mengigit. TAPI INI BEDA SUUU. Semua teori itu tidak berlaku saat ini. Prek dengan teori-teori itu! Yang ada dalam pikiran kami hanyalah bagaimana kami bisa terbebas dari anjing-anjing kampret ini.

Baiklah, kami mundur. Ampun njing, kami mengaku kalah dan kalian menang jadi diamlah kalian. Kami akhirnya mundur. Namun baru beberapa langkah, pemilik anjing itu keluar dari rumah dan menghampiri kami.

Alhamdulillaaaaaaahh. Masa-masa yang mencekam itu berakhir sudah. Begitu pemilik anjing itu mendatangi, kami langsung saja menghampiri dan mengatakan maksud kami untuk ke Curug Cikondang tak lupa kami mengatakan kalau kami ketakutan dengan anjing-anjing tadi. Akhirnya kamipun di antar oleh Bapak-bapak pemilik anjing. Kami dilewatkan jalan setapak hingga berhenti di sebuah persimpangan, di sini kami digambarkan sebuah peta di tanah dan kami semua menyimak dengan seksama seperti ketika kuliah di dalam kelas. Setelah mengerti arah dan mengucapkan terima kasih, kami melanjutkan perjalanan kami yang tertunda. Kami sempat ditawari untuk diantar hingga sampai di Curug Cikondang, tapi karena kami sungkan dan berpikir kalau itu tidak akan seru jika menggunakan pemandu, kamipun menolaknya.

Jalan yang kami lalui kali ini tidak melewati perkampungan mungkin bisa dikatakan kami melewati jalan alternatif. Jalan setapak yang berada di tengah sawah dan perkebunan teh. Masih deg-degan dengan kejadian tadi kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Di tengah-tengah kebun teh. Tanpa tahu ke mana arah mata angin sekalipun. Ana merasakan sedikit kram di kakinya, keputusan yang tepat untuk beristirahat. Tiba-tiba.

“Waduh, ponsel gue mati.” Mas Gie berkata.

DEG… kami semua tiba-tiba hening. Kami sedang berada di tempat yang kami tidak tahu di mana kami. Entah apalagi yang kali ini harus kami lakukan. Balik ke tempat bapak tadi? Tidak mungkin, kami bahkan tidak tahu arah balik seakan kami hanya mengikuti kaki ini melangkah. Tempat ini tidak kalah menyeramkan dibanding ketika berada di tengah kerumunan anjing tadi. Nanti kalau tiba-tiba kami diculik dan dibawa ke dunia lain gimana? Kalau dibawa ke dunia gemerlap atau dunia maya? Tidak, aku masih ingin makan nasi pecel. Sempat terpikirkan untuk mendirikan tenda di tempat itu dan menunggu pagi. Tapi itu bukan kami. Kami tetap melanjutkan perjalanan hanya dengan bermodalkan ingatan dari peta yang dibuat oleh bapak tadi di tanah tadi.

Perjalanan berlanjut hanya dengan mengikuti insting dan kemana kaki melangkah. Peta dari GPS nggak ada, peta dari akang penjaga warung dekat pabrik tadi juga tidak lagi berguna karena kami tidak melewati jalan yang digambarkan alias tidak lagi sesuai peta. Kami hanya berbekal ingatan peta dari tanah yang digambarkan bapak pemilik anjing. Sambil berjalan mengikuti jalan, ternyata keberuntungan masih menyertai kami. Ponsel Mas Gie tiba-tiba sudah tidak ngambek lagi, wah ini ponsel udah kayak cewek lagi PMS nih, pakai acara ngambek-ngambek segala. Tapi masih mending ponselnya Mas Gie, ngambeknya cuma sebentar. Lha kalau cewek, sudah ngambeknya lama kadang perlu duit banyak biar dia nggak ngambek lagi. Iya dengan diajak belanja.

Setelah ponsel kembali menyala, Mas Gie langsung mengecek lokasi kami berada. Ternyata jalan yang kami lalui ini sebenarnya adalah jalan pintas yang memotong jalur utama dan tak jauh dari lokasi kami berada, kami akan kembali ke jalan utama. Alhamdulillah. Dan ternyata memang benar, kami akhirnya menemukan sebuah pertiga-perempatan, maksudnya 3 jalan utama dan 1 jalan pintas. Di sini juga ada semacam saung atau gubuk yang tadi juga disebut baik oleh Akang penjaga warung maupun bapak pemilik anjing. Di sini kami merasa itu artinya sudah tidak jauh lagi, ya begitu setidaknya yang diungkapkan sama beliau-beliau itu.

Langkah kami menjadi pasti tak ada lagi keraguan, setidaknya dari saung tersebut kami hanya perlu berjalan 3-4 km lagi. Eh tapi perasaan dari tadi dibilangnya 3-4 km terus deh. Saat berjalan kami akhirnya bertemu dengan manusia lagi, kali ini adalah 2 orang yang sedang berjalan berlawanan arah dengan kami. Saat kami cek kaki mereka berdua alhamdulillah kakinya masih menyentuh tanah dan alhamdulillah seluruh anggota tubuh (setidaknya yang terlihat oleh mata) masih lengkap. Kami bertanya kepada bapak-bapak itu. Jawabannya? Mau tau aja apa mau tau banget ? tinggal lurus aja. Bagus, ini pertanda kami tak kehilangan arah dan tak tau arah jalan pulang. Kami sudah berada di jalan yang benar dan diridhoi Allah. Nggg… ini apasih kok ngelantur gini kalimat-kalimatnya. Ahelah.

Di tengah perjalanan kami melihat seberkas cahaya, bukan ini bukan api yang melayang yang biasanya ada di film-film horor itu. Ini tampak seperti sebuah perkampungan. Lampu berwarna putih terang itu berada di bawah, artinya kami berjalan di tepi jurang. Jalan yang kami tempuh berupa jalan batu dan menurun. Tanpa terasa, kami akhirnya sampai di sumber cahaya yang terang itu. Ternyata itu bukanlah sebuah perkampungan melainkan sebuah tambang. Wih, di tempat seperti ini ada penambangan juga. Dan luar biasanya lagi, ada sebuah warung di sini. Mungkin warung ini kalau siang menjadi tempat beristirahat para pekerja tambang dan dua orang yang berpapasan dengan kami tadi adalah pekerja tambang di sini. Keren ya, mereka malam-malam begini masih saja pergi ke tambang.

Kami memilih untuk beristirahat sejenak di warung tersebut. Tidak sejenak sih, lama lebih tepatnya. Mas Adit langsung merebahkan badan, aku, Mas Gie, dan Ana hanya duduk-duduk saja sementara Mas Doli sibuk memotret dengan kamera yang kemudian dilanjutkan dengan membuat minum kopi dan merokok.

istirahat

Kami juga saling bercengkrama, melepas lelah, bercanda hingga tanpa terasa suara kami cukup keras untuk membangunkan seorang bayi. Bayi? Ya. Di saat kami asyik bercanda tiba-tiba ada suara tangisan bayi, yang sepertinya terbangun, dari dalam warung tersebut. Walah, ternyata warung itu ada penghuninya. Wah, kami jadi tidak enak. Tapi apa boleh buat, kami masih kecapaian dan kami butuh istirahat. Di saat kami beristirahat yang cukup lama itu ada sebuah mobil pick-up yang lewat dari arah penambangan menuju arah Curug Cikondang (setidaknya begitu menurut peta) dan kami semua hanya saling pandang tanpa berani untuk memberhentikan mobil tersebut. Ah ya sudahlah, toh lokasi sudah dekat. Kami melanjutkan waktu istirahat kami hingga cukup lama sampai aku mulai merasa ngantuk. Memang kalau sedang berjalan seperti ini istirahat cukup lama justru bikin malas untuk melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba mobil tersebut kembali lagi dan berhenti tepat di warung tempat kami beristirahat.

“Kalian mau kemana kang?” Bapak-bapak itu bertanya kepada kami.

“Kami mau ke Curug Cikondang, Pak.” jawab Ana.

“Wah tau begitu tadi bareng sama saya saja nanti saya antarkan ke sana. Kalau tadi saya nggak bawa muatan, kalau sekarang muatan yang saya bawa. Oh, tapi tunggu dulu saja di sini.” kata bapak tersebut.

“Wah, nggak usah nggak apa-apa, Pak. Nanti merepotkan.” kami menolak dengan halus.

Bapak tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya menuju tambang. Setelah bapak tersebut menghilang dari pandangan kami, kami melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami, mobil tadi ternyata menyusul kami. Sontak kami langsung menghentikan mobil tersebut karena kami yakin mobil ini adalah mobil bapak yang menawarkan bantuan kepada kami.

Mobil berhenti, dan ternyata benar mobil ini adalah mobil milik bapak pekerja tambang. Kami langsung naik. Alhamdulillaaaahh. Benar-benar anda adalah penyelamat kami pak.

Mobil terus melaju dengan kencang di jalan berliku dan berbatu ini. Cara nyetirnya lebih edan dari supir bis Sumber Koncono deh pokoknya. Kami berhenti di sebuah rumah, di sini kami menurunkan batu-batu yang tadi dibawa oleh bapak tersebut. Jadi sepertinya batu-batu tadi diolahnya di rumah ini mengingat di rumah ini juga ada mesin-mesin gitu tapi nggak tahu mesin apa. Setelah selesai menurunkan batu-batu tersebut, kami naik kembali dan meneruskan perjalanan yang masih cukup jauh. Lhah, tadi katanya 3-4 km, ini sih masih jauh banget. Jadi ingat ada yang pernah bilang :

Kalau bertanya tentang lokasi suatu tempat kepada orang Sunda, perhatikan jemponya bengkok atau enggak. Kalau bengkok, meskipun dia bilang “udah deket” itu artinya masih jauh.

Akhirnya mobil berhenti. Entah di mana lagi ini. Bapak sopirnya turun.

“Udah, kita udah sampai. Curug Cikondangnya itu naik ke situ terus jalan ke sana udah ikutin jalan saja.” begitu Bapak tersebut menyampaikan.

What!! Is it true??? Are we really in the Curug Cikondang?? Aku masih tak percaya dengan kata-kata bapaknya hingga akhirnya Mas Gie melihat GPS dan mengatakan “Iya, kita udah sampai. Jalannya itu, tinggal ikutin aja. Udah deket emang.”
Wow Man. Akhirnya perjalanan panjang ini bisa diakhiri. I still don’t believe it. But I still on the earth, aku berusaha untuk tidak terlalu senang dan belajar dari pengalaman bahwa dekat atau jauh itu sebenarnya relatif.

“Kalian sudah makan? Kalau belum, makan dulu saja di warung itu. Saya bangunkan yang punya warung.” ujar bapak itu sambil menunjuk ke salah satu bangunan yang memang tampak seperti warung tapi sudah tutup.

“Wah, kebetulan pak. Kami memang belum makan.” jawab kami.

Bapak itu langsung berjalan menuju warung tersebut, sementara kami masih mendiskusikan kepulangan kami besok dari sini menuju Stasiun Lampegan karena kereta yang akan membawa kami akan berangkat jam 09.00 WIB.

Warung dibuka oleh seorang ibu. Beliau dengan segera menawarkan kami akan pesan apa. Setelah memesan kami pun duduk dan menunggu makanan datang. Aku dan Mas Adit memilih untuk makan mie sementara yang lain pesan nasi. Makanan pun datang, ternyata yang dikeluarkan tidak hanya mie dan nasi sayur plus lauk-pauk. Ibu itu, yang pada akhirnya kami tahu namanya Ibu Tita, mengeluarkan semua menu makanannya. Atau malah seluruh isi lemarinya, yang jelas dia mengeluarkan berbagai jenis makanan di sana.

Sebagai orang Jawa yang dikenal dengan keramah-tamahannya, aku justru merasa bahwa orang-orang Sunda ini lebih ramah dariku. Entah diriku ini yang belum pantas menyandang gelar orang Jawa dengan segala keramah-tamahannya. Atau memang benar orang Sunda ini jauh lebih ramah daripada orang Jawa? Setidaknya orang-orang Jawa yang sudah pernah kutemui. Sebelum menyantap makanan ini, kami sempat bertanya kepada bapak sopir tadi, yang akhirnya kami tahu namanya yaitu Kang Dede, apakah beliau mau mengantarkan kami ke Stasiun Lampegan besok pagi sebelum jam 09.00. Namun Kang Dede menolak, beliau juga menolak uang yang kami berikan sebagai imbalan mengantarkan kami dari jalan tadi hingga di warung ini, karena beliau harus bolak-balik ke penambangan sampai jam 08.00 takutnya malah nanti telat, namun beliau memberikan saran untuk menyewa mobil pick-up milik tetangga ibu Tita itu.

Selamat Makan

Kang Dede akhirnya menyampaikan maksud kami kepada Ibu Tita untuk menyewa mobil pick-up milik tetangganya. Ibu Tita pun setuju untuk membantu kami menyampaikan maksud kami tersebut. Ah, lega sudah. Besok kami sudah mendapatkan transportasi untuk menuju ke Stasiun Lampegan.

Kami berbincang sejenak dengan Ibu Tita, beliau juga terkejut mendengar penjelasan kami yang berasal dari Gunung Padang dan ke Curug Cikondang dengan berjalan kaki. Jangankan Ibu, kami saja tidak percaya sebenarnya bu tapi meskipun anda tidak percaya, toh buktinya memang nyata. Ibu Tita juga bercerita kalau warung miliknya ini sering dipakai untuk istirahat bagi komunitas bikers yang mau ke Curug Cikondang. “Wah keren juga ini warung” begitu setidaknya pikirku. Sekali lagi kebaikan orang Sunda.

Selesai membayar makanan, kami memutuskan untuk berpisah. Ana akan tidur di warung tersebut, entah di luar entah masuk di dalam rumah Ibu Tita. Sementara para pria memilih untuk mendirikan tenda di dekat curug karena memang itu adalah tujuan utama. Kami masih harus berjalan lagi menuju curug sekitar 200 meter (kayaknya nggak sampai sih). Di tengah perjalanan aku sempat melihat ke atas (langit, -red) dan sekali lagi aku harus berdecak kagum dengan ciptaan Allah. Memandangi bintang di malam hari, di alam bebas memang salah satu kenikmatan tersendiri. Apalagi jika ditemani sama pac…. *sinyal ilang*

Perjalanan ini melewati perkebunan teh dan persawahan, kira-kira tidak jauh berbeda dari perjalanan pertama setelah menyusuri Terowongan Lampegan. Suara air terjun terdengar sangat jelas. Kami sangat yakin Curug Cikondang ada di dekat kami. Kamipun memutuskan untuk mendirikan tenda di sekitar tempat kami berdiri. Setelah mencari lahan yang cukup lapang dan datar kami mulai membongkar tenda dari dalam sarungnya. Aku yang pernah membantu teman mendirikan tenda langsung mengambil alih. Yak, dan tendanya memang tidak berbeda dari yang dulu pernah aku tahu. Segera aku memasang tiang-tiang pancang tenda dengan dibantu Mas Adit dan Mas Gie. Tapi ternyata tenda tak bisa berkembang membentuk setengah bola. Begitu terus hingga akhirnya Mas Gie menyadari satu hal yang kecil tapi sangat fatal. Ternyata dari tadi yang dinaikkan adalah bagian alas. Begitu menyadari akan hal ini, kami segera membenahi tenda dan membangunnya dengan cepat meski hasilnya tak sempurna. Ah, bodo! Yang penting tenda sudah berdiri dan kami bisa tidur.

Setelah tenda berdiri, kami segera memasukkan barang-barang kami dan memosisikan diri untuk tidur. Oke Selamat malam dunia. See you in the morning.

tenda

Mari Tidur

Mari Tidur

Insiden Kereta yang Berbuntut Panjang

BONJOUR ~~~

Waktu sudah menunjukkan jam setengah 6 waktu itu. Aku teringat kalau kami harus segera bangun dan mulai membereskan tenda untuk segera kembali warung Bu Tita dan menuju Stasiun Lampegan sebelum jam 9. Seteleha berusaha membangunkan Mas Doli sambil ngantuk, apalah daya ternyata mata ini masih sulit untuk terbuka. Tahu-tahu saat mata ini sudah benar-benar terbuka, mereka semua sudah tak ada.

“Sialan, aku ditinggal ke Curug.” setidaknya begitu pikirku.

Begitu keluar dari tenda, mereka bertiga plus Ana sudah bermain air di Curug. Aku masih saja di sekitar tenda. Mencoba mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa. Setelah puas mencari-cari sesuatu yang tak pasti, aku segera menyusul mereka semua menuju Curug. And you know guys. This Curug is very beautiful. Sebuah kelegaan karena akhirnya bisa membuktikan bahwa Curug ini ada setelah selama ini hanya dalam sebuah imajinasi mengenai curug yang indah.

Setelah puas bermain air dan berfoto ceria, kami kembali ke tenda dan segera membereskan tenda. Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 7. Perasaan was-was juga mulai muncul apalagi Ana memberitahu kalau mobil pick up milik tetangga Bu Tita tak bisa disewa karena akan digunakan untuk pergi ke pasar. Ini gawat segawat-gawatnya. Tapi kami tetap berusaha tenang. Yang penting beres-beres dan sarapan dulu. Kemudian kamipun kembali ke warung Bu Tita.

Selamat Tinggal Curug Cikondang.. Suatu saat aku kan kembali ke sini..

Melewati persawahan dan perkebunan teh, kami semua masih menikmati suasana pagi di sana. Benar-benar indah pemandangannya. Indonesia ini memang sebuah negara sejuta atau bahkan lebih pemandangan. Sepertinya butuh waktu lebih dari satu tahun untuk merasakan segala keindahan negara ini. Keindahan alam dan prestasi anak bangsa yang bisa dibanggakan dari negara ini jangan sampai dirusak oleh tangan-tangan kotor para politikus.

Kebun Teh

Di Warung Bu Tita, aku dan Mas Gie segera memesan sarapan. Pokoknya isi perut dulu. Sementara Mas Doli berganti pakaian, Mas Adit berusaha negosiasi dengan yang punya mobil. Ana hanya duduk-duduk saja, dia sudah sarapan terlebih dahulu. Kemudian muncul seorang bapak-bapak naik motor. Beliau bercerita bahwa pagi ini warga cukup dihebohkan dengan kehadiran sekelompok orang yang berjalan menyusuri kampung pada malam hari dan menuju ke arah Curug. Mereka mengira sekelompok orang tersebut adalah para pemburu. Bapak tersebut bertanya kepada kami, namun karena kami yakin yang dimaksud bapak tersebut adalah kami, kami segera menjawab kalau sekelompok orang tersebut adalah kami. Ternyata kegaduhan anjing semalam menyebar dengan cepat. Mungkin kami ini dikira sekelompok pencuri. Hahahaha. Maafkan kami pak, kami tidak bermaksud membuat heboh kampung.

Sampai jam 07.30 kami masih belum mendapatkan transportasi ke Stasiun Lampegan. Bapak menawarkan bantuan untuk mencarikan transportasi bagi kami. Kami setuju dan Mas Adit merelakan diri sebagai delegasi kami untuk mencari transportasi. Mas Adit dan Bapak itu segera pergi dari hadapan kami. Hingga jam 08.00 akhirnya mas Adit kembali dengan membawa sebuah mobil pick up. Berdasarkan hasil negosiasi dengan yang punya mobil, biayanya 125ribu dengan rincian 100ribu untuk mobil dan 25ribu untuk bapak tadi yang menawarkan bantuan. Mungkin semacam diendorse gitu kali yak.

Kami segera berpamitan dengan bapak penjaga warung dan naik ke dalam mobil. Mobil pun melaju dengan cepat. Setara dengan para sopir bis Sumber Kencono kira-kira. Hanya saja kondisi jalanan berbatu cukup besar membuat kami harus terpontang-panting. Perut yang baru diisi mendadak sakit. Digoncang mobil pada kondisi jalan seperti itu, waktu yang sangat mepet, aku mendapat pesan singkat dari kakak yang isinya mereka berdua (Kakak dan Mas Zaky, -red) telah sampai di stasiun Lampegan. Aku semakin khawatir.

Jalan berganti aspal, kecepatan mobil meningkat tanpa memedulikan tikungan. Sempat muncul dalam pikiran rasa takut jika terjadi tabrakan. Mobil masih melaju kencang hingga kami melewati titik di mana kami kemarin mendapat tumpangan truk setelah menjelajahi terowongan Lampegan. Di sini aku mendapat pesan singkat lagi, kali ini isinya “Kereta sudah sampai di Stasiun Lampegan”. Jreng jreng. Sudah dapat dipastikan kami tidak akan bisa mengejar kereta tersebut. Harapan kami hanyalah kereta tersebut mau menunggu kami. Sebuah harapan kosong belaka.

Setibanya di Stasiun Lampegan, kami melihat tak ada kereta di sana. Ketika kami melihat jam, waktu menunjukkan jam 9 lebih. Artinya? FIX!! KAMI KETINGGALAN KERETA!! Meskipun sebenarnya kereta baru berjalan beberapa menit yang lalu. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya kalau tiket kereta yang jam 2 siang pun telah habis. Mas Doli pun mencoba untuk negosiasi dengan petugas agar mau mengangkut kami meskipun kami harus duduk di kereta makan karena tidak mendapat tempat duduk. Tapi usaha tersebut sia-sia belaka karena memang sejak awal kami sudah tahu kalau hal itu tidak diperbolehkan. Dan perutku masih saja melilit ingin muntah gara-gara perjalanan tadi.

Dan dari sinilah perjalanan yang lebih seru terjadi…

Setelah disepakati kami akan diantarkan ke jalan raya Sukabumi-Cianjur oleh sopir, mobil pun segera beranjak meninggalkan Stasiun Lampegan. Kecepatan masih sama mungkin sedikit berkurang. Sedikit. Jalanan aspal tapi lubang di sana sini membuat kami masih harus terpontang-panting lagi. Di saat seperti ini aku menyesalkan pemerintah daerah setempat. Jika memang Gunung Padang akan dijadikan obyek wisata seharusnya jalanan atau transportasinya juga disiapkan. Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan PT. KAI memang sudah terjalin dengan baik terlihat dari reaktivasi jalur Cianjur-Bogor dan Stasiun Lampegan namun transportasi dari Stasiun Lampegan menuju Gunung Padang masih sangat kurang. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan ke depannya.

Di perjalanan yang sebagian besar aku habiskan dengan tidur di bak terbuka ini akhirnya berakhir juga. Kami telah sampai di Pertigaan Warung Kondang, Jalan Raya Sukabumi – Cianjur. Di pertigaan Warung Kondang itu ada tulisan Stasiun Lampegan masih 17 km lagi. Jauh amat 17 km.

Dari sini kami harus ngeteng ke Jakarta. Perjalanan kali ini awalnya tidak begitu istimewa dan cenderung monoton. Kami naik angkot menuju pertigaan entah-di-mana. Dari situ kami naik sebuah mobil L-300 jurusan Bogor. Mobil ini ternyata sangat istimewa dan punya  sensasi-sensasi yang bisa dirasakan. Yang pertama, karena yang naik cuma kami berlima mobil ini tidak juga berangkat dan menunggu sampai penuh. Kami harus menunggu lebih dari setengah jam hingga akhirnya bapak sopirnya mau memberangkatkan mobilnya. Karena penumpang yang sedikit, mobil berjalan pelan sambil berharap mendapat penumpang bahkan sempat berhenti di titik-titik tertentu atau istilahnya ngetem. Oke itu sensasi kedua.

Dari jam 10.30 kami terus berjalan dengan pelan lebih pelan dari jalannya sepeda. Hingga suatu saat akhirnya mobil berhenti dan sopirnya berkata, “Ini kayaknya saya mau muter, kalian naik mobil yang ada di depan itu saja *sambil nunjuk mobil yang warnanya sama tapi jumlah penumpangnya lebih banyak*. Tapi kalian bayar sama saya, nanti nggak usah bayar lagi.”

Oke fix, sensasi ketiga, kami di-oper ke mobil lain. Setelah membayar sebesar 20ribu perorang, kami pindah ke mobil yang ada di depan. Di mobil ini ternyata sudah ada sekitar 8 orang dan kami dipaksa masuk. Beruntung bagi kami karena masih cukup. Kali ini mobil berjalan lebih kencang dari sebelumnya. Alhamdulillah lancar meskipun agak gerah di dalam. Namun, semua berubah semenjak negara api menyerang ketika sampai di kawasan Puncak. Kami terjebak macet. FIX.

@#$*^@KBG%@!*

Ya anggap saja kalimat di atas ini adalah sebuah umpatan yang mendapat sensor dari Lembaga Sensor Indonesia. Kami terjebak macet di dalam sebuah mobil dengan kapasitas penumpang yang penuh. Gerah men. Ini adalah sensasi keempat yang dirasakan.

Aku mulai cemas. Berkali-kali aku bertanya kepada Mas Gie apakah aku bisa sampai tepat waktu sebelum kereta Bogowonto jam 18.55 berangkat. Tapi jawaban Ana dan Mas Gie masih menenangkan diriku meski sebenarnya aku masih tetap cemas karena sebenarnya punya rencana untuk berkunjung ke kos-kosan kakak.

Bapak sopir dengan percaya diri masuk ke dalam sebuah gang, sepertinya mau mengambil jalan pintas. Aku sedikit lega karena berharap jalan pintasnya bisa melewati macetnya jalanan meski harus melewati jalanan batu. Mobil keluar dari sebuah gang menuju jalan raya. Dan ternyata masih macet bahkan kali ini lebih lama daripada sebelum lewat jalan pintas ini.

@&!@#??!$?>@#

Sekali lagi, kalimat di atas adalah umpatan yang disensor.

Aku semakin cemas ditambah cuaca panas. Di saat itu aku mencoba untuk tidur. Gila bisa-bisanya tidur. Tapi ya begitulah memanfaatkan mobil yang benar-benar berhenti tak bisa bergerak sedikitpun. Ketika bergerak mobil hanya pindah beberapa meter saja kemudian berhenti lagi. Begitu seterusnya sampai melewati pintu masuk Taman Safari puncak kejadian tersebut masih saja. Akupun menghubungi kakak dan meminta maaf karena tidak bisa mampir. Fix rencanaku menjadi kacau gara-gara kemacetan seperti ini. Aku benar-benar merasa tidak nyaman, tapi di saat itu pula aku berpikir kalau orang-orang yang kerja di Jakarta itu berarti punya kesabaran tingkat tinggi ya. Padahal kondisi Jakarta yang amat sangat macet tapi masih mau bekerja di sana. Aku sebagai orang yang berdomisili di Jogja, kendaraan berhenti gara-gara lampu merah dan terpaksa melewatkan 3 kali lampu hijau saja sudah tidak sabar. Di situ aku mendapatkan satu lagi pelajaran tentang kesabaran.

tik…tik…tik.

Rintik hujan mulai turun. Gila nih mobil tanpa AC yang berhenti ini harus dibuka jendelanya agar panas berkurang, eh malah hujan yang artinya jendela harus ditutup. Untungnya kemacetan bisa terurai berkat bapak polisi memberlakukan sistem buka tutup jalur puncak. Mobilpun melaju kencang. Tapi ada satu hal yang baru aku sadari, ternyata mobil ini berjalan tanpa ada wiper, itu lho pembersih kaca yang biasanya ada di kaca dan membersihkan kaca mobil dari hujan jadi sopir bisa melihat dengan jelas. Sopir tak mengurangi kecepatan mobil meskipun jarak pandangnya terbatas. Ini adalah sensasi berikutnya, yang kelima. Mobil masuk tol dan melaju dengan kencang hingga sampai di pangkalan dari mobil tersebut. Dari sini kami naik angkot menuju stasiun Bogor. Kira-kira kami sampai dengan selamat di Bogor sekitar jam 15.30. Gila, perjalanan dari jam 9 pagi sampai jam 15.30. Di sini kami berlima naik KRL Bogor-Jatinegara dan mulai memisahkan diri. Mas Doli turun di Stasiun Depok Baru, aku dan Mas Gie turun di Stasiun Manggarai, mas Adit turun di Stasiun Tanah Abang lanjut KRL Serpong, sementara Ana turun Stasiun Duri lanjut KRL Tangerang.

KRL ini berangkat dari Stasiun Bogor jam 16.45, aku masih belum bisa lepas dari rasa cemas takut tidak bisa mengejar kereta ke Jogja. Mas Gie membuka jadwal KRL yang ada di ponselnya, melihat jadwal yang ada aku bisa sampai di Stasiun Pasasr Senen jam 18.07 dengan rincian :

Bogor 16.45 – Manggarai 17.45
Manggarai 17.50 – Jatinegara (KRL Bekasi) 18.00
Jatinegara 18.02 – Pasar Senen 18.07

Atau paling telat aku naik KRL jam 18.30 dari Jatinegara dan sampai di Pasar Senen jam 18.35. Namun hal ini tidak aku inginkan karena aku punya rencana untuk mandi, sholat maghrib, dan makan malam di Warung Rawon Arema di Pasar Senen dan menghindari makan di Kereta karena harganya yang mahal.

Rencana pertama masih bisa teratasi dan sampai di Manggarai tepat jam 17.45, kemudian langsung naik KRL Bekasi jam 17.50 menuju ke Jatinegara. Di stasiun Manggarai ini aku berpisah dengan Mas Gie. Setibanya di Jatinegara, sesaat sebelum masuk stasiun aku melihat ada sebuah KRL dari arah Jatinegara ke arah Pasar Senen. Aku melihat jam yang ada di ponselku. Ini baru jam 18.00 kok sudah ada KRL ke arah Pasar Senen? Apa aku telat KRL yang jam 18.02? Dan ternyata begitu aku sampai di stasiun Jatinegara sudah tidak ada lagi KRL yang ke arah Pasar Senen, berarti fix itu tadi adalah KRL ke arah Pasar Senen. *hiks.

Terpaksa aku harus menunggu KRL jam 18.27. Itu artinya semua rencanaku gagal berantakan. Fix sejak hari sabtu aku tidak mandi. Bahkan aku belum berganti pakaian sejak hari Jum’at. Duh betapa baunya.

Setelah KRL Jatinegara diberangkatkan tepat jam 18.27 dan tiba di Pasar Senen jam 18.35, aku segera berlari melewati lorong pintu keluar dan kembali masuk lagi setelah melakukan boarding tiket. Waktu menunjukkan jam 18.45 ketika aku sudah menempati Kursi nomer 11D. Segera setelah meletakkan tas, aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat di dalam kereta. Kemudian datang 3 anak muda (aku juga masih muda sih) yang sempat aku lihat tadi di KRL Bogor, salah satu dari ketiga anak muda ini mengenakan jas almamater UGM. Kereta pun berangkat tepat jam 18.55. Setelah mereka memosisikan diri, aku langsung menyapa mereka.

“Anak UGM ya? angkatan berapa?” tanyaku.

“Eh, iya mas. Kok tau?” jawab salah seorang dari mereka.

“Tadi aku tahu kalian naik KRL Bogor terus ada salah satu dari kalian pakai Jas Almamater UGM. Namaku Gallant” aku menjawab dan mengenalkan diri.

“Oh iya, ini kami dari UGM. Angkatan 2012. Masnya juga dari UGM? Angkatan berapa mas? Namaku Hamas, yang itu Azza, yang cewek itu Das *sambil menunjuk ke rekannya yang lain*” dia mengenalkan dirinya sebagai Hamas.

“Iya aku juga UGM, angkatan 2009 tapi masih belum lulus. Hehehe. Ada acara apa di Bogor?” aku bertanya.

“Tadi ada acara mas di IPB, kami diundang. Masnya dari mana?” Hamas bertanya.

“Oh, tadi habis main-main aja ke Cianjur. Ini nanti kamu kalau mau tidur, tidur aja di sini. Aku mau ke kereta makan saja.” kataku. Memang harapanku pada awalnya aku duduk sendirian biar aku bisa tidur, tapi mau bagaimana lagi ternyata ada orang yang duduk di sebelahku. Ditambah lagi ada seorang ibu-ibu yang cukup tua sakit asam urat dia harus meluruskan kaki dan berencana tidur di kolong kursi membuatku nggak enak kalau kaki harus dilewatkan ke atas beliau sehingga aku memutuskan untuk tidur di kereta makan saja bersama kru kereta api Bogowonto.

“Oh, nggak usah mas. Aku sendiri susah tidur kalau ada di perjalanan.” Hamas menolak.

Sebelum ke kereta makan, aku sempatkan untuk berganti pakaian di toilet kereta. Mau mandi tapi nggak enak akhirnya cuma ganti baju saja. Selepas itu aku menuju kereta makan setelah sebelumnya dilakukan pengecekan tiket oleh bapak kondektur. Di kereta makan aku langsung memesan paket nasi goreng seharga 23ribu. Sedikit terkejut karena desain kereta makannya berbeda dengan saat aku naik kereta Serayu sebelumnya. Desain kereta api Bogowonto ini single seat seperti dalam gambar ini.

Interior kereta makan KA Bogowonto pict by jelajahunik.us

Dengan desain seperti ini aku tidak bisa tidur. Ah, tapi perjalanan hanya 8 jam masih bisa ditahan, apalagi nanti ada kegiatan silang dengan kereta lain yang kelasnya lebih tinggi. Otomatis aku akan keluar ke stasiun karena memang sudah menjadi kebiasaan kalau ada silang kereta aku turun ke stasiun sekedar untuk meluruskan kaki dan melihat kereta lewat. Pesananpun datang, segera aku makan dengan cepat. Namanya juga kelaparan bro.

Selesai makan aku kembali ke tempat duduk dan mendapati Hamas sudah tidur. “Lah, tadi katanya kalau di perjalanan sulit tidur. Ini belum sampai Cirebon sudah nggak kuat.” batinku. Wah, ternyata dia tersadar dari tidurnya dan langsung duduk. Aku jadi nggak enak sama Hamas. Setelah mengambil sesuatu di tas, aku pun kembali ke kereta makan hanya sekedar untuk bercengkrama dan mengakrabkan diri dengan kru kereta Bogowonto.

Kereta berjalan dengan kencang hingga tanpa terasa sudah sampai di Stasiun Cirebon Prujakan setelah sebelumnya bertemu kereta Ciremai Ekspress dari Bandung tujuan Cirebon di stasiun Cikampek. Terjadi pergantian kru di stasiun ini. Sambil ngobrol dengan kondektur yang baru, aku tahu kalau ternyata kereta Bogowonto ini sampai di Cirebon Prujakan lebih cepat 7 menit dari jadwal yang ditentukan. 7 menit berlalu, ternyata masih harus ditambah beberapa menit menunggu kereta Bengawan dari arah Purwokerto. Baru setelah kereta Bengawan masuk, kereta Bogowontopun diberangkatkan.

Sejak dari Cirebon Prujakan ini aku lebih memilih untuk duduk di kursi. Kemudian sampai di stasiun berikutnya kereta Bogowonto harus mengalah dari kereta Purwojaya (sepertinya). Kereta diberangkatkan kembali. Sampai di stasiun Ciledug, sudah ditunggu oleh kereta Gaya Baru Malam Selatan dari Surabaya. Setelah kereta Bogowonto masuk sebentar dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan meninggalkan kereta Gaya Baru Malam sendirian di Stasiun Ciledug.

Selepas Stasiun Ciledug mata mulai terasa berat. Kepala aku sandarkan ke dinding dan mulai kupejamkan mata ini hingga tiba-tiba..

*jeduugh* *duughh* *ckiiitt* *ckiitt*… sempat terjadi goncangan kecil.

Kereta berhenti. Kepalaku terbentur pinggiran jendela. Lumayan sakit. Seketika itu aku terbangun dan aku menoleh keluar jendela. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah masinis dengan kasar melakukan rem mendadak tapi tak lama seharusnya kereta berjalan kembali. Namun ini terlalu kasar bagi sebuah pengereman, keretapun tak kunjung berjalan. Begitu pula ketika aku melihat keluar jendela, warga sekitar rel kereta api semua melihat ke arah belakang kereta. Terdengar suara dari warga kalau kereta menabrak. Aku segera menuju ke kereta 6, membuka pintunya, dan menoleh ke belakang. Seketika itu pula lututku terasa lemas.

Apa yang aku lihat? Kepala truk terguling dan ada kain yang keluar dari bagian sopir truk.

“Astaghfirullah, jangan-jangan tadi aku melihat mayat sopir truk itu.” begitu yang aku pikirkan sambil berjalan ke dalam kereta.

Terdengar suara orang berteriak, “Turun, turun! Ada bau bensin. Pindah ke arah kiri kereta!” Dengan kondisi lutut yang masih lemas karena merasa melihat mayat, aku berjalan dengan tenang menuju ke tempat duduk.

“Gimana mas? ada apa?” tanya seorang ibu yang duduk di kursi seberang.

“Keretanya nabrak truk bu, sebaiknya kita turun dulu. Barang-barangnya dibawa saja. Ada bau bensin katanya.” jelasku dengan tenang.

“Waduh, mas tolongin deh. Ini kebetulan bawa barang banyak. Ayo mas. Ayo mas. Wah. kenapa pas gini malah aku bawa barang banyak?” kata ibu itu mulai panik.

“Tenang bu, nggak ada apa-apa kok. Iya ini saya bantu.” kataku sambil membantu membawakan barang-barang milik ibu itu. Kami berdua turun dari kereta dan memilih untuk duduk-duduk di atas rel (kebetulan sudah double track) yang berada di sebelah kiri. Penumpang-penumpang yang lain juga turun. Aku bersama Das dan ibu itu bercengkrama sambil bercanda sementara Hamas, Azza, dan satu orang anak berkacamata masih berada di dalam mungkin mereka masih penasaran, kalau aku karena lutut sudah lemas gara-gara merasa melihat mayat jadinya sudah tidak tertarik.

“Mas, mas. Tenang saja, kalau solar kan nggak memicu ledakan. Oh iya, itu lokomotifnya ngguling loh mas di depan. Nggak pengen lihat?” tanya anak berkacamata itu.

“Oh iya, benar juga. Wah, gara-gara tadi kayak lihat mayat jadinya ikut-ikutan gak bisa berpikir dengan tenang. Lho iya kah? Ya udah ayo.” aku mengiyakan ajakannya namun dicegah oleh ibu-ibu tadi. Ya mungkin ibu-ibu tadi masih ketakutan. Akhirnya aku urungkan niatku untuk melihat lokomotif yang naas itu dan memilih untuk bercanda agar pikiran menjadi tenang. Hingga kemudian Azza dan Hamas keluar dan ikut bersama kami, ibu itu dan Das sibuk menelepon keluarganya, aku masuk ke dalam kereta makan mencari kru kereta untuk bertanya kelanjutan kereta ini.

Sempat terjadi sedikit kericuhan ketika ternyata ada sorot lampu lokomotif bergerak dari arah yang berlawanan. Namun untungnya kereta yang bergerak dari arah berlawanan itu berhenti sekitar 100 meter dari lokasi kejadian kecelakaan ini. Selain itu menurut laporan Hamas dan Azza ada juga warga penduduk sekitar yang masuk ke dalam kereta dan seperti mencari-cari sesuatu di dalam sambil meminta penumpang untuk keluar. Oleh Azza dan Hamas, “Mau nyari apa mas? Udah nggak ada apa-apa di sini.” Dan orang-orang itu langsung turun tanpa mengatakan sepatah katapun.

Dari kru kereta Bogowonto ini aku mendapat informasi bahwa tidak ada korban jiwa, masinis dan asisten masinis juga hanya luka, sementara ada satu orang kru Restorasi yang kepalanya sempat terbentur pintu sehingga harus diperban. Sama seperti aku yang sempat dicium ranting pohon. Lokomotif terguling dan gerbong pembangkit di depan anjlok 2 as roda dan sedang menunggu lokomotif penarik dari Cirebon. Sementara sopir truk sudah diamankan oleh pihak berwajib. Loh berarti tadi yang aku lihat apa dong? Kejadian ini benar-benar tanpa korban jiwa. Luar biasaaa. Alhamdulillah. Sementara itu suasana di kereta restorasi sangat ramai setelah kejadian itu. Kru juga sibuk melayani pesanan dari penumpang.

Ada beberapa orang bapak-bapak yang sempat marah-marah, ngomel-ngomel atas kejadian ini dan semacam menyangkut-pautkan kejadian ini dengan politik. Ahelah pak nggak malah bantuin menenangkan penumpang malah ngomong gitu. Tipikal orang-orang sok tahu dan provokator gitu lah.

Kami semua mendapat pengumuman untuk segera masuk ke dalam kereta agar mudah untuk didata dan tidak tercecer di luar seakan-akan tidak ada penanganan dari pihak KAI. Penumpang menuruti perintah dan masuk ke dalam tempat duduk masing-masing. Suasana gerah karena AC yang mati dan sambungan listrik hanya ditopang oleh pembangkit dari kereta makan yang dayanya tidak terlalu besar. Jendela-jendela darurat dibuka oleh penumpang. Lampu pun sempat mati sesaat dan menyala kembali tak lama kemudian. Mungkin tadi adalah proses melepaskan kabel dari gerbong pembangkit dan hanya bergantung dari kereta makan. Terbukti dari AC yang mati di semua kereta agar tidak membebani kereta makan terlalu berat.

Aku yang memang tidak bisa diam bersama si anak berkacamata (wajahnya mirip bang adis, tapi lebih gemuk) jalan terus dari kereta satu ke kereta yang lainnya sambil menunggu lokomotif penarik dari Cirebon datang, terkadang kami juga sengaja keluar dari kereta dan berjalan-jalan sambil ngobrol tentang kereta. Tapi karena aku sudah merasa lelah tak lama aku kemudian memilih untuk duduk di tempat duduk saja. Tak terasa mata sudah sedikit demi sedikit terpejam meski sempat merasakan ada dorongan ketika lokomotif bantuannya dirangkai dengan kereta bogowonto. Tercatat kala itu sekitar jam 02.30 pagi atau sekitar 4 jam dari kejadian itu berlangsung kami baru dievakuasi. Bagiku hal ini tak jadi masalah, karena lokomotif harus berjalan mundur dengan membawa gerbong pembangkit sehingga lokomotif tidak bisa melaju kencang ditambah lagi jarak Cirebon dengan lokasi kecelakaan cukup jauh.

Kereta mulai berjalan meninggalkan lokasi kecelakaan dan tak berapa lama sudah sampai di stasiun Cirebon Prujakan. Loh kok cepet? Oh aku tertidur tampaknya. Terdengar suara announcer mengumumkan kereta Bogowonto akan dilangsir di jalur 3. Lho kok cepet? Astaga, aku sempat tertidur. Sesaat kemudian announcer stasiun mengumumkan kalau kereta Bogowonto akan diberangkatkan menuju stasiun Tegal. Kondisi saat itu sudah terang. Lhah, berarti aku sempat tertidur dong tadi? Ahelah. Dalam tiga kesempatan singkat aku masih bisa tertidur. Agar perjalanan yang bersejarah ini (aku melewati jalur Cirebon – Tegal – Prupuk) tidak aku lewatkan, aku segera menuju toilet dan wudhu kemudian sholat subuh meski saat itu sudah terang mungkin sekitar jam 06.00. Tak lama kemudian kru kereta memberikan po*mie gratis plus air mineral 600 ml sebagai bentuk service recovery atas keterlambatan kereta. Wah salut deh nih, meski keterlambatan ini bukan karena kesalahan dari pihak KAI tapi mereka masih menunaikan kewajiban mereka mengutamakan konsumen. Yang diberikan saat itu adalah satu buah mie instan dalam bentuk cup (sebut saja popmie, bukan nama sebenarnya) dan air mineral botol 600 ml, jika ingin dimakan silakan datang ke kereta makan sambil membawa mie tersebut dan meminta air panas di sana.

Aku sempat bertanya kepada salah seorang penumpang jam berapa tadi diberangkatkan dari Stasiun Cirebon Prujakan, dia  menjawab jam 05.15 jadi itu artinya kami sempat ditahan di stasiun Cirebon Prujakan lebih dari setengah jam. Kereta sempat berhenti di beberapa stasiun sebelum stasiun Tegal. Kereta yang saat itu menjadi kereta luar biasa (KLB) karena berjalan tidak sesuai dengan rute harus berhenti di stasiun Brebes, Losari, dan sempat tertahan di sinyal masuk stasiun Tegal yang miring bersama kereta Sawunggalih. Ngeri juga sih berhenti dalam kondisi miring begini. Sempat bertanya, cepet banget Sawunggalih dari Pasar Senen sudah sampai di Stasiun Tegal, tapi menurut penumpang kereta Sawunggalih ternyata itu adalah kereta Sawunggalih dari Kutoarjo, walah kalau ini sih telat banget namanya. Dan ternyata sorot lampu lokomotif yang aku lihat semalam itu adalah lampu lokomotif kereta Sawunggalih ini, jadi jika kereta Bogowonto semalam telat sedikit yang menabrak truk naas tersebut adalah kereta Sawunggalih.

Whussss, sebuah kereta melaju dari arah Stasiun Tegal. Oh jadi tadi sedang menunggu kereta ini. Setelah kereta itu berangkat, kereta Bogowonto dipersilakan masuk Stasiun Tegal. Di Stasiun Tegal ini terjadi proses pergantian posisi lokomotif. Proses ini memakan waktu cukup lama dan tepat jam 09.00 kereta Bogowonto diberangkatkan menuju stasiun Purwokerto lewat Prupuk. Tak sesuai dengan rute seharusnya kereta berjalan cukup cepat hingga sampai di Stasiun Slawi, di sini sudah menunggu kereta Senja Utama Jogja dan sebuah kereta eksekutif, Argo Dwipangga sepertinya. Setelah Senja Utama Jogja diberangkatkan, tak lantas Bogowonto berangkat karena harus menunggu kereta Gajayana masuk stasiun Slawi. Wah, ini PPKA stasiunnya pasti sibuk banget nih.

Kereta Bogowonto dilepas dari stasiun Slawi sekitar jam 09.30, perjalanan yang pertama bagi saya melewati jalur Tegal – Slawi – Prupuk membuatku sengaja tidak tidur. Di sini disuguhi dengan hutan jati alami dan persawahan. Gunung Slamet juga terlihat jelas dari dalam kereta. Tiba di stasiun Prupuk, berakhirlah status kereta Bogowonto sebagai Kereta Luar Biasa. Di sini menunggu kru memberikan laporan serta menunggu kereta Kamandaka dari Purwokerto tujuan Semarang yang juga telat karena terkena imbas dari kejadian tersebut.

Tepat jam 10.30 kereta Bogowonto memasuki stasiun Purwokerto. Banyak penumpang yang turun di sini termasuk dua penumpang di depanku dan ibu-ibu baik hati itu. Selamat jalan bu, semoga selamat sampai di rumah. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi.

Di sini kereta terhenti lama karena harus mengisi ulang air dan akhirnya dilepas sekitar jam 12.00. Begitu berangkat dari stasiun Purwokerto ini ternyata kami diberikan lagi sebuah service recovery dari pihak KAI berupa roti dan air mineral gelas. Wah ini keren, sampai mendapat dua kali servis. Benar-benar totalitas KAI demi memberikan kenyamanan pagi penumpangnya.

Kereta sempat beberapa kali berhenti di stasiun untuk menurunkan penumpang. Namun karena sudah cukup capek harus menjalani perjalanan yang lama ini aku hanya duduk di kursi, tertidur, dan ketika terbangun mendengarkan pembicaraan menarik antara Das, Hamas, dan Azza mengenai filsafat, sosial, ilmu pengetahuan. Mendengar pembicaraan mereka tentang sifat laki-laki dan perempuang, tentang ilmu alam yang menyatakan sesuatu yang tak nyata dan sebagainya membuatku hanya bisa tersenyu, Salut buat mereka bertiga, semoga mereka bertiga senantiasa diberikan kemudahan untuk mencari ilmu dan bisa mengamalkannya.

10313142_10201989879537555_8386619605227263450_n

dari kiri ke kanan Azza, Das, dan Hamas Semoga kalian bisa menjadi generasi yang menaikkan derajat bangsa ini

Waktu menunjukkan jam 14.30, akhirnya perjalananku selama 4 hari ini berakhir sudah. Kedatanganku di Yogyakarta disambut dengan hujan di daerah Lempuyangan. Alhamdulillah ini cukup mendinginkan tubuh yang sudah mulai panas karena tidak mandi.

Credit to :

1. Mas Doli a.k.a Dokumen dan Mas Zaky atas foto-foto yang keren

2. Mas Gie, Ana, Mas Adit

3. Mas Arief atas sponsornya

4. Mbak Dhanar tercinta

5. Das, Azza, Hamas, anak berkacamata yang gemuk, dan penumpang lain yang duduk di seat 11-12 kereta 5 KA Bogowonto

6. Terutama kepada kru KA Bogowonto yang selalu siaga

Dan cerita yang sangat panjang ini tak akan bisa kutuliskan tanpa kehadiran kalian. Terima kasih

<tamat>

Iklan

18 thoughts on “Gunung Padang – Curug Cikondang part 2 (Buntut Panjang Keterlambatan)

  1. lunas bacanya! mantep tenan pengalaman di Bogonya boz. tadinya gue kira efek benturan yang terjadi adalah sampe bikin penumpang terguling atau nyusruk ke depan, ternyata yang dirasa benturannya ga terlalu gede?

    yang masih gue bingung, kok warga dan ente ngeliat kebelakang? atau posisi duduknya yang berlawanan arah perjalanan, jadinya liatnya kebelakang?

    Suka

    1. aku di kereta-5, jadi gak begitu kerasa pas benturan pertama.
      nah, keretanya itu sukses membelah truk yang biasanya mengangkut mobil itu.
      jadi nabrak bisa sampe ngebelah truk, makanya bangkai truknya ketinggalan di belakang. sementara lokomotifnya setelah nabrak itu menurut warga sempat berjalan terseok-seok gitu sebelum terguling

      Suka

  2. maaaas gilaaaaaak
    baca yg part pertama langsung ikutan capek n mikir. kira2 aku masi bisa jalan sejauh itu gak ya. apalagi stelahnya masih ad perjalanan balik pulak. zzzzzzzz
    ni kaki minta diajak treking lg kayanya. kelamaan nganggur

    Suka

    1. hahaha..
      sering-sering jalan kaki aja dulu mbak.
      tips sih :
      pake ojek aja kalo gak mau capek, 60ribu udah PP kalo dari stasiun Lampegan. Bisa dan wajib ditawar, rata2 sih kena 50 ribu
      kalo naik bis, gak tau lagi deh berapa ojeknya, yg jelas lebih jauh daripada dari stasiun Lampegan
      jangan dibiarin nganggur mbak kakinya, kasian 😀

      Suka

      1. entah dulu pdhl treking n jalan kemana mana biasa aja. selo selo n hepi hepi aja gak capek.
        kmaren pas ke ijen koq ya sempet ngos ngos an di stengah perjalanan pertama. pdhl Ijen doaaaank. walopun stelahnya ud enteng lagi tapi tapi tapi betapa manja nya kaki ku lama gak jalan. ;(

        Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s