Pesona Senja Pok Tunggal dan Sundak

Pantai Sundak taken by Olympus Digital Camera u7040,S7040 series

Pantai Sundak taken by Olympus Digital Camera u7040,S7040 series

Pertama kali aku upload foto di atas itu ke media sosial Facebook, beberapa orang teman langsung menekan tombol “like” dan menanyakan di mana pantai itu berada. Saat itu aku hanya menjanjikan akan membahas di blogku ini.

Pantai yang indah itu adalah Pantai Sundak, salah satu dari gugusan pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta. Kebetulan hari Sabtu kemarin, aku dan Mas Adit, seorang teman dari Kaskusepur mengunjungi dua pantai dari puluhan (atau bahkan malah ratusan) pantai di Gunung Kidul (meskipun kenyataannya kami berkunjung ke tiga pantai).

Bulan Ramadhan, di saat kebanyakan orang lebih memilih untuk diam di rumah dengan alasan puasa, kami justru mengunjungi pantai di Gunung Kidul yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dari Yogyakarta, di saat terik pula. Tentu saja kami masih melaksanakan kewajiban kami sebagai seorang muslim, berpuasa.

Kami mulai meninggalkan kost setelah sholat Dhuhur dengan sepeda motor yang sudah disewa pada pagi harinya. Perjalanan dimulai dengan menyusuri ring road timur menuju Jalan Wonosari dan dilanjutkan dengan tantangan pertama, menaklukkan tikungan di bukit bintang yang terkenal berkelok dan tajam. Cuaca yang cukup terik di Yogyakarta saat melintasi jalan wonosari berubah menjadi dingin ketika memasuki tikungan-tikungan di daerah Patuk. Mengapa begitu? Jalanan di daerah Patuk ini di kanan kirinya banyak pepohonan sangat berbeda dengan Jalan Wonosari di daerah Piyungan.

Perjalanan pun sampai di Kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunung Kidul. Kami berbelok ke selatan menuju jalan Baron. Sejenak kami menyempatkan diri untuk membeli bensin eceran di sebuah warung di pinggir jalan. Aku juga tak menyiakan kesempatan ini untuk bertanya kepada penjaga warung.

“Bu, ini kalau mau ke Pok Tunggal lewat mana ya?” aku bertanya kepada sang penjual.

“Oh lurus saja nanti ketemu pertigaan yang ada pos ojeknya, belok kiri. Sampai pertigaan desa Tepus belok kanan.” jawab ibu penjaga warungnya.

Entah karena tertutup helm sehingga aku kurang jelas mendengar, karena puasa sehingga konsentrasiku sedikit kacau, atau karena memang daya tangkapku lemah, aku sampai mengulang 3 kali pertanyaan tersebut. Mungkin juga karena aku butuh kepastian, seperti para wanita yang membutuhkan kepastian hubungan dari para gebetannya. Bedanya, aku berani meminta kepastian itu sementara banyak wanita-wanita di sana yang justru memilih untuk memberikan kode-kode yang tak dipahami sang pria dan berujung pada “semua cowok sama aja” atau “cowok itu tukang PHP” daripada meminta langsung kepastian kepada sang pria .

Dengan petunjuk dari ibu penjaga warung dan ridho Allah tentunya kami berhasil mencapai gerbang terluar sebelum menuju Pantai Pok Tunggal. Setelah membayar uang sukarela di pos retribusi yang dijaga secara sukarela pula oleh penduduk sekitar, kami melanjutkan perjalanan semakin ke dalam. Perjalanan 2 jam dari Yogyakarta tadi belum ada apa-apanya. Jalan raya aspal yang sedari tadi kami lalui berganti dengan jalanan batu yang cukup tajam dan terjal, sempit pula mungkin hanya cukup untuk 1 mobil dan 1 motor. Perjalanan ini jauh lebih menantang daripada tikungan-tikungan di kawasan Patuk sana tadi. Beberapa kali motor matic yang kami tumpangi berbunyi cukup keras di roda bagian belakang, semoga motor ini kuat. #motorrapopo #motorkudukuat

Pantai Pok Tunggal, Surga di Tengah Karang

Setelah motor ini berjuang menerjang jalanan batu yang keras dan terjal, akhirnya kami melihat sebuah pantai berpasir putih dan bersih. Luar biasa. Sebagaimana telah digariskan, Allah telah menciptakan surga yang ditutupi oleh karang-karang. Allah telah menyiapkan hal yang indah di balik kesusahan. Dan Pantai ini di sore yang masih terasa siang (baca : jam 15.00 WIB, -red) benar-benar indah. Pantainya yang bersih, sepi dari pengunjung, serasa seperti di pantai sendiri. Terik matahari yang mulai condong ke arah barat tak begitu terasa dengan hembusan angin laut yang cukup kencang.

“Loh mas, kayaknya kita nggak bisa dapat sunset di sini. Tuh mataharinya tertutup karang.” celetukku setelah melihat posisi matahari yang condong ke arah barat laut.

“Wah, iya. Terus gimana. Berarti masih harus ke barat lagi ya kita?” timpal Mas Adit mengiyakan.

“Ya sudah, naik dulu di atas bukit itu. Terus nanti kalau mau berburu sunset kita jalan lagi.” aku menimpali.

Kamipun akhirnya naik ke atas bukit karang di sebelah barat. Setelah bayar secara sukarela, nggak bayar juga nggak apa-apa sih karena emang nggak ada penjaga tapi ya hitung-hitung sebagai salah satu bentuk bantuan agar pantai ini dikelola, kami naik ke atas bukit yang lebih tepat disebut tebing ini. Di sini dapat terlihat jelas pantai dari ketinggian. Pemandangannya? Sudah pasti luar biasa.

Ciee Galau Ciee

Ciee Galau Ciee

Pok Tunggal dari Atas Tebing

Pok Tunggal dari Atas Tebing

Karang dari Atas Tebing

Karang dari Atas Tebing

Anjing, dan Kenangan yang Muncul Kembali

Dengan alasan bahwa Pantai Pok Tunggal tak mampu memenuhi hasrat kami untuk melihat pesona matahari terbenam, kami pindah pantai. Di tengah perjalanan dan harus menempuh jalanan berbatu, kami teringat petunjuk dari pemuda setempat di pos retribusi di depan tadi. Ada pantai lagi di dekat sini. Namanya Pantai Seruni. Kami pun berbelok arah. Kondisi jalan tak berbeda dari sebelumnya, namun kali ini sedikit lebih lembut batuannya (jangan dipikir batu yang lembut itu yang seperti apa). Lebih tepatnya dikatakan kondisinya lebih banyak tanah daripada batuannya. Jarak yang ditempuh semakin jauh dan kami masih belum melihat tanda-tanda pantai, justru serasa masuk ke dalam hutan. Motor pun semakin menunjukkan keraguan bisa menembus kondisi jalan. Sampai akhirnya aku melihat ada laut di kejauhan. Akhirnya sampai juga, tapi..

“Wah ada anjing.” aku sebagai sopir memberitahu mas Adit. “Gimana? Mau diteruskan?”

“Walah, nggak deh kalau anjing. Balik saja.” jawab Mas Adit.

Ya, kami berdua memang pernah mengalami pengalaman yang cukup buruk dengan yang namanya anjing. Akhirnya pantai yang sudah di depan mata pun tak jadi kami kunjungi. Kami putar balik. Menempuh jalan yang sama, dan menyapa beberapa warga yang sama hingga akhirnya kami bisa keluar dari jalan yang berat ini. Namun justru dengan beratnya medan seperti ini membuat pantai masih tetap asri dan terlindungi dari tangan-tangan kotor manusia tak beradab.

Pantai Sundak, Ngabuburit

Kembali ke jalanan aspal. Kami kembali menyusuri jalanan dan bertemu pos retribusi resmi dari Pemkab Gunung Kidul. Membayar 20.000 untuk dua orang dan satu motor, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Kami bertemu dengan Pantai Pulang Syawal atau lebih dikenal dengan Pantai Indrayanti, pantai ini telah terkenal jadinya ramai. Kami tak berhenti. Lanjut berikutnya, kami bertemu dengan pantai Sundak. Kami belok, teringat kalau belum menunaikan sholat Ashar. Kami berhenti, memarkir motor dan menuju masjid untuk menunaikan sholat Ashar, tapi sial tak ada cukup air untuk berwudhu. Aku menumpang wudhu kepada salah satu warung yang juga menjadi tempat penitipan motor kami. Di masjid, kekhawatiran kami tak juga berakhir. Adakah sarung di sana? Mengingat kami hanya mengenakan celana pendek yang tak menutup aurat.

Selesai sholat kami tak langsung menuju Pantai Krakal yang kata bapak-bapak penjaga retribusi sebagai tempat yang cocok untuk melihat matahari terbenam. Kami memilih untuk mengunjungi pantai Sundak saja sambil menunggu waktu berbuka puasa atau yang biasa kita kenal dengan Ngabuburit. Keren kan? Ngabuburit menikmati suasana senja di sebuah pantai yang pengunjungnya bahkan bisa dihitung jari. Pantai Sundak ini juga tak kalah indah dengan Pantai Pok Tunggal. Namun sama saja, kami tak bisa menikmati matahari terbenam di sini. Dan lagi-lagi tertutup karang. Namun aku berharap hingga ke depan pantai-pantai di Gunung Kidul mampu dikelola dengan baik dan tetap terjaga kelestariannya.

Terlepas dari itu semua sebuah pengalaman tersendiri bisa menikmati suasana ngabuburit tanpa hanya diam di dalam rumah sambil menunggu adzan maghrib dengan alasan lemas. Dan aku bisa membuktikan juga bahwa puasa tak akan menghalangi untuk traveling dan jika dilakukan dengan tepat bisa menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1435 Hijriah.

ps : dan ketika pulang, aku mendapat pertanyaan “Lho, Jogja banyak cewek cantik tapi kok kamu masih jomblo Gal?” errrrr ._.

Iklan

21 thoughts on “Pesona Senja Pok Tunggal dan Sundak

  1. pok tunggal? i’ve been there! πŸ˜€
    sama satu lagi pantai di pesisir selatan, ombaknya gede, karang2, mirip uluwatu, lupa namanya! hahaha πŸ˜€

    Suka

  2. yipp! disana panas tp pas nyemplung ke laut kok adem ya? hahaha XD

    oh iya, ngobaran kalo ga salah, hehehe
    pantai daerah selatan jogja bagus bagus :3

    Suka

  3. Waktu kuliah di Yogya Kukup, Krakal, Baron, Sundak, Sepanjang sampe Wedhi Ombo sudah pernah. Tapi baru sekarang ini Pok Tunggal denger dan lagi naik daun di kalangan photografer professional itu tahu dari open trip Photography mereka. Bagus banget yang dari atas tebing mirip sama Padang Padang Beach Bali.

    Suka

    1. huaaa, aku juga baru kali itu sih ke Pok Tunggal. tapi dari udah pernah denger tentang keindahannya. dan pas ke sana, lha kok keindahannya warbiyasak gini. kapan2 ke sana mbaaa. mumpung masih sepi. πŸ˜€
      kalo udah rame entar gak bisa menikmati pantainya πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s