Aku Jatuh Cinta Padamu, Pantai Sundak

Kali ini aku pengen cerita sedikit tentang pantai. Ya namanya pantai kayaknya hampir semua orang seneng kalau diajak main ke pantai. Ya nggak? Apalagi kalau dipadu dengan suasana sunrise atau sunset. Begh, kayaknya orang nggak nolak deh. Khususnya bagi orang-orang yang lagi jatuh cinta. Pasti seneng banget, romantis. Meskipun definisi romantis tiap orang beda-beda sih dan bukan suasananya yang bikin romantis, tapi pasangan yang dimabuk cinta itulah yang membuat suasana menjadi romantis.

Pantai + sunset atau sunrise + pasangan = romantisme tingkat tinggi

Pantai Sundak

Pantai Sundak

Bagi sebagian orang, pantai merupakan tempat wisata yang menyenangkan. Relatif mudah dijangkau dan tidak membutuhkan perlengkapan yang banyak. Ditambah lagi bagi sebagian kalangan yang sedang dimabuk cinta, pantai menjadi tempat yang spesial dan sangat pas untuk memadu kasih.

Indonesia, negara kepulauan, sudah pasti memiliki banyak pantai yang sangat indah. Ya meski beberapa pantainya sekarang sudah kotor, penuh sampah, dan bau yang menyengat tapi aku yakin masih ada banyak sekali pantai-pantai yang perawan, belum terjamah, masih bersih tanpa sampah.

Seperti pantai Sundak. Pantai yang berada di garis pantai selatan Yogyakarta (Gunung Kidul lebih tepatnya) ini memiliki keindahan yang yaaa nggak kalah deh sama Pantai Kuta di Bali. Letaknya di sebelah barat Pantai Pulang Syawal (Pantai Indrayanti), Pantai Sundak ini terdiri dari dua bagian, Sundak Timur dan Sundak Barat, begitu informasi yang aku dapatkan dari warga sekitar pantai.

Pantai Sundak

Pantai Sundak

Sudah dua kali aku berkunjung ke sini, hampir tiga kali jika saja saat awal kuliah dulu aku ikut teman-temanku ke sini, tapi aku masih takjub dengan keindahan pantainya. Yang pertama dulu adalah ketika aku habis dari Pantai Pok Tunggal lalu yang berikutnya adalah ketika aku kedatangan tamu berupa 3 orang cewek. Sebelum ke Pantai Sundak, kami sempat ke Pantai Pulang Syawal (Indrayanti) yang sudah terkenal. Penilaian sekilas untuk Pantai Pulang Syawal (Indrayanti) sih memang bersih, tapi sudah ramai. Berbanding terbalik dengan Pantai Sundak ini. Lokasinya sih berada tepat di sebelah barat, hanya dibatasi oleh tebing, dari Pantai Pulang Syawal (Indrayanti) tapi Pantai Sundak ini kemarin pas aku ke sana bareng tiga orang cewek itu, benar-benar sepi, nggak ada orang lagi selain kami bertiga. Bahkan hanya ada satu warung yang buka, padahal dulu pas aku sama Mas Adit ke sini aja masih ada setidaknya 2-3 warung.

Begitu pula di Pantai, dulu aku ke sini masih ada satu keluarga yang sedang bermain, eh kemarin bener-bener sepi. Serasa pantai milik sendiri. Hahaha. Sayangnya di Pantai Sundak ini mushollanya kurang memadai, nggak hanya di Sundak sih, di Pantai Drini yang waktu itu buat ngecamp juga kurang memadai menurutku.

Siluet Senja

Siluet Senja

Sampai di Pantai nggak afdol rasanya kalau nggak main-main cewek air. Kalau pas surut, kita bisa berjalan menyusuri terumbu karang, melihat organisme-organisme yang hidup di sana.

Di sore itu aku menjumpai seorang pria, berumur sekitar 40 tahunan sedang mencari sesuatu di antara terumbu karang. Aku menghampiri beliau, ketika bertanya ternyata beliau adalah warga sekitar yang sedang mencari sesuatu untuk dijadikan lauk untuk makan malam. Aku sih nggak ngerti itu namanya apa, tapi kira-kira bentuknya agak bulat, berduri, berwarna hitam. Bukan dagingnya yang dimakan, tapi telurnya. Beliau juga menawarkan sebuah penginapan dengan harga Rp 300.000 per malam dengan fasilitas berupa 2 kamar, kamar mandi dalam, dan ada juga semacam balai untuk berkumpul entah itu rapat atau acara apa gitu. Biasanya kayak gini dipakai buat anak-anak himpunan buat diklat sih.

Waktu sudah semakin sore, kami berempat segera balik ke Jogja. Kami megusahakan sebelum gelap sudah harus di Wonosari, ya karena teman-temanku cewek semua dan semuanya baru kali pertama ke Gunung Kidul.

Di tempat parkir, aku sempat bertanya kepada ibu yang rumahnya menjadi tempat parkir kami.

“Bu, ini kok tumben sepi sekali?” Tanyaku sambil membayarkan uang parkir.

“Wah iya mas, kalau mau ramai ya pas akhir pekan.” Jawab ibu itu.

“Oh, tapi kok ini bener-bener sepi bu? Sampai-sampai rumah juga banyak yang tutup.” Aku bertanya kembali.

“Mungkin sedang persiapan buat wayangan mas. Nanti malam ada wayangan di situ (sambil menunjuk tempat yang sudah terbentuk seperti panggung).” Jawab beliau.

“Mau nonton mas? Mau nginep sekalian?” Ibu itu bertanya sambil tersenyum.

“Oh enggak bu, terima kasih. Kami harus kembali ke Jogja.” Jawabku sambil menyalakan mesin motor.

Setelah berpamitan dengan ibu tersebut, kami berempat segera memacu kendaraan agar bisa mencapai Wonosari sebelum gelap.

Iklan

16 thoughts on “Aku Jatuh Cinta Padamu, Pantai Sundak

  1. Udah Oke banget…. 🙂 hanya saja saran saya… kamu harus total, Lan… kalo pengen pakai gaya yang gokil, gokil sekalian… tapi kalo pengen gaya yang lebih serius, serius sekalian… dan kalo menurutku, kamu pantesnya pakai gaya yang gokel… Oke… tambah lagi kegokilannya… Semmangat… sukses buat kamu…

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s