Tawangmangu, Setelah Sekian Lama

Kamis, 13 November 2014 pukul 04.00 WIB

“Mas Gal, kereta Prameks ke Solo jam berapa aja?”

Begitu isi pesan yang masuk ke telepon selulerku pada pagi itu. Pesan yang masuk itu dari Tanti, teman sesama komunitas Kaskusepur, sebuah komunitas traveler yang hobi menggunakan transportasi kereta api ketika bepergian. Sebelumnya aku dan Tanti memang sudah janjian untuk jalan-jalan ke Tawangmangu dan Candi Abang. Melalui aplikasi Whatsapp, dia meminta tolong untuk ditemani jalan-jalan ketika berada di Jogja antara tanggal 13-17 November ini.

Peta Kawasan Taman Wisata Alam “Grojogan Sewu”

 

Setelah berbincang-bincang melalui pesan singkat akhirnya disepakati kami hari itu berangkat ke Tawangmangu, ke Grojogan Sewu, meski saat itu aku belum sempat tidur sama sekali.

Pukul 05.00 WIB

Aku menyempatkan untuk tidur sejenak dengan pertimbangan : tidur sekitar setengah jam, beli tiket, pinjam kamera,ย  mandi, packing sejenak, kemudian berangkat. Tapi belum sampai setengah jam aku tidur, Tanti mengirimkan pesan singkat lagi yang membuatku terbangun. Kali ini isi pesannya menyuruhku untuk segera beli tiket karena dia tidak mendapatkan nomor tempat duduk. Hello, Tanti. Prameks kan emang nggak ada nomor tempat duduknya.

Ya sudah, toh memang aku sudah cukup tidur meski kurang lebih hanya 15 menit. Lumayan daripada lumanjat, capek. Oke skip. Setelah merasa cukup tidur, aku langsung menyalakan motor dan bergegas ke stasiun Lempuyangan untuk membeli tiket Prameks. Selanjutnya, aku pergi ke kontrakan ceria si Didit untuk meminjam kameranya.

Kamera dan tiket sudah di tangan, aku kembali ke kost, menyalakan laptop sejenak. Buka Twitter, ngetwit dulu biar kayak anak gaul. Nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, aku menuju kamar mandi. Nggak perlu lama-lama mandi, karena emang udah ganteng sejak lahir (digetok), aku langsung kembali ke kamar, berpakaian, dan packing seadanya saja. Lepas itu, langsung cabut ke Stasiun Lempuyangan.

Tiba di Stasiun Lempuyangan, aku langsung memarkir motor di parkir inap depan stasiun meski tidak menginap juga. Setidaknya untuk meminimalisir pembengkakan biaya hanya karena parkir.

Tak lama setelah boarding, kereta Prameks tujuan Solo Balapan tiba. Aku segera menuju ke gerbong paling belakang tempat aku janjian dengan Tanti. Aku belum pernah bertemu dengan Tanti sebelumnya, hanya melalui Whatsapp saja. Sebelumnya memang dia sudah bilang kalau ada di gerbong kereta paling belakang. Begitu naik, dia yang menyadari kedatanganku langsung menyapa. Ternyata tempat duduk sebelahnya sudah ada yang ngisi, wah sepertinya aku harus berdiri nih sampai ke Solo. Ah nggak masalah, toh cuma 1,5 jam ini.

Kereta berangkat tepat waktu, berjalan dengan kecepatan sedang dan sempat berhenti sejenak di stasiun Srowot, menunggu disusul oleh Kereta Jaka Tingkir relasi Pasar Senen-Purwosari (Solo). Selepas itu kereta melaju dengan lancar hingga Stasiun Solo Balapan meski dengan kecepatan sedang. Alhasil kereta pun terlambat tiba kurang lebih 30 menit.

Di dalam kereta, aku sempat meminta Tanti untuk menghubungi Dwi, salah satu teman dari Kaskusepur juga, untuk menemani kami di Tawangmangu nanti. Ya lumayan kan dia sendiri kuliah di salah satu Universitas di Solo jadi tidak begitu jauh juga. Sayangnya Dwi baru bisa meluncur menuju Tawangmangu selepas dia kuliah, jam 11.00. Iyalah memang Tanti ini mendadak sekali memberi kabar ke Tawangmangu. Meski dia memang sudah memberi kabar akan ke Jogja tanggal 13-17 November, tapi aku sendiri tidak menyangka dia akan tiba-tiba langsung mengajak ke Tawangmangu. Aku juga kaget ketika di pagi buta, di saat aku belum tidur dia sudah mengajak ke Tawangmangu.

Aku dan Tanti kemudian keluar dari Stasiun Solo Balapan menuju Terminal Tirtonadi Solo dengan berjalan kaki. Tidak jauh sih. Untuk perjalanan dengan berjalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih 10-20 menit. Lumayan kan untuk olahraga juga. Sebenarnya ada tukang ojek dan tukang becak juga yang menawarkan untuk ke Terminal, tapi kami menolaknya. Hemat (atau pelit ya?).

Beruntung, begitu kami tiba di Terminal sudah ada bus menuju Tawangmangu yang berangkat, jadinya kami tak lagi menunggu lama. Dengan membayar uang sebesar Rp 12.000, kami disuguhi pemandangan berupa sawah dalam bentuk terasering yang hijau ketika melintasi daerah Karang Anyar dan naik terus menuju Tawangmangu. Jalan yang berbelok-belok dan telinga yang mulai agak “deng” akibat perbedaan tekanan udara menandakan sudah mencapai kaki gunung Lawu. Dan benar saja, tak lama kemudian bus kami sudah masuk ke terminal Tawangmangu. Kami turun di sini, sempat beristirahat sejenak sembari menunggu kabar dari Dwi.

Salah Jalan

“Gimana, Dwi udah sampai mana?” Aku bertanya.

“Nggak tau nih mas. Kayaknya masih di jalan.” Jawab Tanti.

“Ya udah, ditunggu sambil jalan aja yuk.” Kami pun akhirnya bergerak menuju ke Grojogan Sewu.

Sebenarnya sih aku sendiri belum pernah ke Grojogan Sewu lagi setelah terakhir kali aku ke sini saat aku masih kecil. Kira-kira umur 4-5 tahun mungkin. Aku hanya ingat air terjunnya saja tanpa tahu rute menuju ke Grojogan Sewu. Beda lagi ceritanya kalau mau naik gunung Lawu karena sudah pernah.

Setelah bertanya kepada petugas retribusi terminal, kami memutuskan untuk berjalan kaki. Ah, cuma 1,5 km ini. Pertimbangannya lebih ke daripada bayar angkutan atau ojeg mending jalan kaki. Sekali lagi, ini bentuk hemat atau bentuk pelit. Silakan dinilai. Menurutku sendiri lebih ke arah pelit bukan hemat. Karena jika menggunakan kendaraan seperti mobil colt atau ojeg, kita juga turut pula membantu masyarakat sekitar dalam mencari nafkah bukan? Ya mungkin aku memang pelit dan egois, bahkan ketika saat itu aku sedang bersama seorang wanita, aku tetap mementingkan kepentingan sendiri dengan tidak mengeluarkan biaya lebih banyak dan memilih untuk “menderita” dengan berjalan kaki.

Dengan menyusuri jalan Tawangmangu yang menanjak, Tanti yang melihat ada plang arah loket Tawangmangu segera berbelok. Aku sangsi, karena menurut penuturan bapak tadi, seharusnya kami berjalan lebih jauh lagi untuk mencapai loket. Ya, tapi aku menurut saja dulu. Memang sudah sewajarnya kalau tempat wisata memiliki lebih dari satu loket. Atau mungkin saja ini jalan yang lain gitu.

Dalam perjalanan kami bertemu dengan seorang bapak. Aku bertanya kepada bapak itu dalam bahasa Jawa. Kurang lebih kalau diartikan seperti ini. A : aku, B : bapak.

A : Pak, kalau mau ke loket Grojogan Sewu lewat mana?

B : Ya itu mas, lurus saja. Saya juga mau ke arah sana kok.

A : Oh, Bapak mau ke mana memangnya?

B : Rumah saya di sana mas *sambil menunjuk ke arah bukit*. Di balik gunung itu. Saya dukuh di sana.

A : *terkejut* Terus bapak setiap hari jalan kaki dari sana desa ke Pasar?

B : Ya nggak juga mas. Kalau pas Pon dan Legi (kalo nggak salah) pasar rame, ini tadi kebetulan beli mata arit *sambil menunjukkan mata arit yang baru dibeli*.

A : Ooh, gitu. Lha tadi bapak dari desa ke pasar jalan kaki?

B : Iya mas, ya meskipun kadang-kadang juga ada angkutan yang ke sana. Nggak lama kok mas, kira-kira 15 menit.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Keren sekali, beliau mampu berjalan kaki dengan kondisi jalan yang naik turun seperti ini. Sejauh itu. Aku sebagai anak yang jauh lebih muda merasa malu kalau cuma begini saja aku sudah mengeluh. Padahal desa bapak itu masih lebih jauh dari loket.

“Kalian di mana? Aku tunggu di loket atas.” Dwi mengirim pesan ke Tanti.

Wah, berarti benar. Aku dan Tanti tidak melalui loket yang utama. Bisa dibilang ini adalah jalur belakang. Meski sama-sama resminya. Ya sudahlah, aku dan Tanti tetap melanjutkan perjalanan sementara Dwi aku minta untuk langsung masuk saja dan menunggu di air terjun.

Setelah berjalan cukup lama, entah aku tak menghitung waktunya. Kami sudah sampai di loket Grojogan Sewu. Kami mencari bapak-bapak tadi, tidak ada. Sepertinya tadi sempat berhenti di sebuah warung. Loket ini cukup sepi, ya mungkin karena memang bukan loket utama. Ada satu pasangan naik mobil yang juga parkir di sini, entah apa yang menyebabkan mereka parkir di sini.

Setelah membayar karcis masuk sebesar Rp 11.000 perorang, kami langsung masuk, menyusuri batu-batu yang membentuk jalan. Karena ini bukan pintu masuk utama, tidak ada acara menuruni 1000 tangga yang terkenal jika kita mau ke air terjunnya itu.

Perjalanan belum cukup jauh, Tanti mendapat pesan singkat dari Dwi yang masuk melalui ponselnya. Ternyata Dwi ikut menyusul kami untuk masuk lewat loket belakang. Ya sudah, kami pun akhirnya berhenti sejenak sekalian untuk berisitirahat. Di sepanjang perjalanan dari loket menuju air terjun sudah disediakan beberapa pos tempat beristirahat bila lelah. Entah karena bukan musim liburan atau karena memang jalur ini jarang dilalui pengunjung, tapi sepi sekali di perjalanan.

Tak lama kemudian Dwi datang dengan wajah sumringah. Kami pun saling berkenalan. Sekali lagi, ini adalah pertemuan pertamaku dengan dua orang teman baruku ini. Setelah itu, kami bertiga melanjutkan perjalanan. Suasana hutan pinus, udara yang dingin menjadi teman perjalanan kami. Di beberapa pos tampak ada sepasang muda-mudi yang sedang istirahat (sekaligus pacaran mungkin). Bagi yang sudah pernah naik gunung atau camping di dataran tinggi, ya seperti itulah suasananya. Namun, pada perjalanan kali ini yang aku takutkan yaitu hujan. Apalagi sekarang sudah memasuki musim hujan dan berada pada kaki gunung yang amat sangat mungkin terjadi hujan sewaktu-waktu. Langit memang tidak gelap, tapi aku tak dapat melihat matahari. Sementara ketika tadi naik bus, sempat aku melihat titik-titik air di kaca depan sopir. Untungnya memang ketika sudah di Tawangmangu tak turun hujan.

Air Terjun Grojogan Sewu

Tak lama perjalanan kami sudah sampai di Air Terjun Grojogan Sewu. Aku kembali mengingat-ingat masa lalu, ketika aku masih kecil. Tampak bayangan aku sedang turun dari tangga dibimbing oleh mama. Bukan digandeng. Aku masih ingat kala itu mama menanyakan padaku apakah aku capek. Aku juga masih ingat saat itu aku berharap bisa turun dengan cara meluncur menggunakan pegangan tangga. Ya, 1000 anak tangga itu memang cukup berat bagiku yang saat itu masih kecil. Sempat ditawari oleh ibuku untuk berhenti tapi aku tak menyerah, aku tetap melanjutkan perjalanan, tanggung. Antara ke air terjun dan kembali ke tempat parkir di atas sama jauhnya. Yang aku ingat saat itu adalah suasana Air Terjun cukup ramai. Tapi hal itu berbeda dengan sekarang yang tampak tak begitu banyak pengunjung. Mungkin karena memang bukan masa libur lebaran. Kenangan ini masih melekat sampai sekarang dan membuat Air Terjun Grojogan Sewu ini menjadi salah satu destinasi wajibku. Ya mengenang masa lalu. Dan akhirnya keinginanku itu terwujud. Sederhana kan? Sederhana sekali. Aku masih jauh dibanding para traveler kondang yang hampir keinginannya pergi ke luar negeri. Aku? Keinginanku mungkin hanya sekedar jalan-jalan ke Tawangmangu atau ke Candi Abang.

Belum puas sebenarnya untuk berdiam di sini dengan hawa yang sejuk. Tapi bagaimanapun juga aku harus kembali ke Jogja, dan ditambah lagi bus terakhir dari Tawangmangu menuju Solo ini paling akhir jam 16.00 WIB. Jika tak kembali tepat waktu dari air terjun, bisa-bisa kita diharuskan menginap di antara banyak penginapan yang ada di jalan menuju pintu utama Tawangmangu. Kami sendiri memutuskan untuk keluar melalui pintu utama. Sekedar untuk merasakan berjalan di 1000 anak tangga yang terkenal.

Ternyata apa yang aku khawatirkan terjadi juga, hujan. Untungnya ketika hujan aku sudah berada di bus untuk turun menuju Solo. Di musim hujan seperti ini memang harus diperhitungkan pula hal-hal seperti itu sehingga bisa membuat sebuah rencana perjalanan yang matang atau langkah antisipasi yang tepat.

Dan setelah kunjunganku ke Tawangmangu (setelah sekian lama) ini aku merasa senang sekali karena bisa mencoret salah satu destinasi wisata yang harus kukunjungi. Lalu ke mana lagi tujuan berikutnya? Malang, Surabaya, atau Bali? Atau menuju ke hatimu mungkin?

Sampai jumpa lagi Grojogan Sewu, aku akan mengunjungimu di waktu yang berbeda.

Iklan

30 thoughts on “Tawangmangu, Setelah Sekian Lama

  1. sekarang tiketnya naik jadi Rp. 13.500, –
    ๐Ÿ˜‰
    sekedar info….. tapi lebih mahal lagi tiket buat wisatawan asing, 12 x lipat ๐Ÿ˜ฎ

    Suka

  2. Solo sangat cantik, ya. Saya belum pernah ke sana. ๐Ÿ™‚

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s