Mencari Jalan ke Kalibiru

kalibiru wahyu herlina
Wisata Alam Kalibiru. Foto oleh Herlina Wahyu

Berawal dari foto yang diunggah oleh mbak Herlina di Twitter dan Instagram yang kemudian menjadi hits, aku dan Didit yang terpesona oleh kecantikan Mbak Herlina pemandangan alamnya pun penasaran dengan lokasi tempat pengambilan foto tersebut. Nama tempatnya adalah Wisata Alam Kalibiru, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pagi itu, tanggal 2 Desember 2014, aku dan Didit mewujudkan rasa penasaran kami akan tempat wisata alam Kalibiru di Kulon Progo. Awalnya sih kami berdua yang sama-sama stress berencana untuk jalan-jalan entah ke mana. Stress? Stress kenapa? Didit sedikit jenuh dengan kerjaannya di @SneakerSandwich nya. Sementara aku, stress karena skripsi. Stress kenapa? Lha wong skripsimu gak kamu kerjakan gitu? Eheheh ya pokoknya stress gitu deh.

Terus, mengapa judul postingan ini “Mencari Jejak ke Kalibiru”? Karena kami berdua ini sama-sama belum pernah ada yang ke Kalibiru, jadi hanya berbekal penasaran dengan foto yang diposting oleh mbak Herlina di instagram dan foto-foto lain yang ada di internet, ditambah dengan informasi seadanya tentang lokasi Wisata Alam Kalibiru ini kami nekat berangkat. Ah cuma Jogja ini. Toh masih ada GPS, baik itu GPS di ponsel atau GPS manual (Gangguin Penduduk Sekitar).

Waduk sermo dari Kalibiru
Waduk sermo dari Kalibiru

Sekitar 2 hari sebelum keberangkatan, kami dengan mendadak merencanakan untuk jalan-jalan, entah kemana saja. Dan karena penasaran tadi dengan Kalibiru, akhirnya diputuskan untuk jalan-jalan ke sana.

Aku langsung mencari-cari informasi di internet mengenai lokasi, cara, dan rute menuju ke sana. Hasilnya, beberapa blog sudah memublikasikan banyak hal, mulai dari tips, rute, hingga ada yang ngepost sensasi menikmati matahari terbit di sana. Jadi semakin penasaran.

Hanya berbekal hasil screening hasil browsing di internet selama kurang dari satu hari aku dan Didit nekat untuk mengunjungi Wisata Alam Kalibiru. Ya udah lah ya, yang penting berangkat dulu daripada banyak rencana malah gagal. Toh ini juga baru kali pertama jadi tujuannya juga buat “nyari jalan” atau survey gitu biar kalo ke sana berikutnya nggak nyasar.

Pemandangan dari Kalibiru
Pemandangan dari Waduk Sermo
Pemandangan dari Kalibiru
Pemandangan dari Waduk Sermo

Perjalanan dimulai sekitar jam 08.30 waktu Indonesia bagian masih-ngantuk-tapi-berangkat-ajalah, kami berangkat dari kontrakan si Didit di belakang Hyatt. Menyusuri ring road barat menuju jalan Wates. Hingga waktu menunjukkan jam 09.00 kami memasuki kabupaten Kulon Progo, sejauh ini sih masih normal. Masih sesuai ingatan tentang rute. Hingga kemudian kami bertemu dengan pertigaan, tepat di dekat Stasiun Sentolo.

Pada pertigaan itu terdapat plang bertuliskan Sermo ke arah kanan dari Jogja, aku yang mengetahui hal itu segera ngomong ke Didit untuk belok kanan. Kami akhirnya masuk di Pengasih, aku semakin yakin jalannya bener karena menurut google maps juga ada kata Pengasih, kalau nggak salah tertulis “berbelok di Jalan Pengasih – Sentolo” di google maps. Meski sempat ragu karena beberapa blog menyarankan untuk lewat kota Wates dan kami belum melewati kota Wates. Perjalananpun dilanjutkan, kami hanya mengikuti jalan yang besar. Pokoknya nanti ngelewati pinggir Waduk Sermo, begitu yang ada dalam benakku.

Seharusnya gampang, pokoknya ketemu Waduk Sermo nanti tinggal ngikutin jalan saja. Hingga sesekali kami bertanya kepada warga tentang arah ke Waduk Sermo dan menurut warga tinggal lurus ngikutin jalan. Oke sip kami tetep melaju saja, ada persimpangan entah itu pertigaan atau perempatan kami memilih jalan yang paling lebar dengan pertimbangan itu jalan utama. Jalanan aspal, bagus banget, masih mulus lebih mulus dari pahanya ceribel, mungkin baru diaspal, tapi sepi.

Hingga akhirnya, jalan aspalnya habis ganti jalan batu. Sial, sepertinya salah jalan ini. Didit mulai ragu, kami berhenti sejenak di warung untuk bertanya, dan jawaban dari penjaga warungnya, Waduk Sermo masih lurus. Keraguan tampak di raut wajah Didit, tapi setelah aku mengatakan kalau jalannya lurus saja dia pun nurut saja. Jalanan masih berbatu, terdapat sebuah papan plang di pinggir jalan bertuliskan “Suaka Margasatwa”. Waduh, aku sudah melewati jalur yang tidak seharusnya dilewati. Tak butuh waktu lama kami menemukan ada plang penunjuk arah Kalibiru di sini kami kembali bertemu jalan aspal tapi kali ini sempit. Di jalan ini sudah tampak Waduk Sermo.

Jalan yang kami tempuh. Foto diambil dari Waduk Sermo
Jalan yang kami tempuh. Foto diambil dari Waduk Sermo
Jalan yang kami tempuh. Foto diambil dari Waduk Sermo
Jalan yang kami tempuh. Foto diambil dari Waduk Sermo

Di sini kami merasa jalan kami sudah benar tapi kami sempat mengira kami tak lewat di Waduk Sermo sesuai yang sesuai google maps karena jalanan mulai menanjak. Tapi kemudian berubah menjadi turunan yang cukup tajam, kami bingung lagi. Untungnya ada seorang ibu yang sedang berjalan, Didit kemudian menghentikan motornya, aku pun bertanya arah waduk sermo. Jawabannya, “Lurus saja mas, ya tinggal ngikutin jalan ini aja. Waduknya itu ada di atas situ.” Yoweslah, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan yang kami lewati itu berada di balik Waduk Sermo, lewat bawah tanggulnya.

Sampai di atas, kami merasa lega bisa melihat Waduk Sermo. Tapi tak berhenti lama, kami lanjut lagi menuju ke Kalibiru sesuai tujuan awal kami. Jalanan cukup lebar kira-kira bisa dilewati oleh dua mobil bersimpangan. Melihat ada plang penunjuk arah Kalibiru, kami langsung mengubah arah, kali ini jalanan menjadi sempit kembali, oh iya selain sempit jalanan menanjak dan banyak tikungan. Kondisi jalan sepi sekali, Didit yang beberapa kali membunyikan klakson untuk memastikan tidak ada kendaraan di lawan arah tak pernah ada jawaban. Sepi mana sama hati? Ya kalau itu gak usah dijawab lah ya.

Waduk Sermo
Waduk Sermo

Tepat jam 09.48 atau sekitar 30 menit dari Waduk Sermo atau satu jam dari Jogja kami sampai di parkiran wisata alam Kalibiru. Cukup satu jam saja. Jauh lebih cepat dari blog yang aku baca atau dari google maps yang katanya membutuhkan waktu 1,5 sampai 2 jam. Kayaknya sih, jalan yang kami lewati itu semacam jalan pintas deh, tapi jalannya belum jadi. Biasanya kalau menjelajah, yang namanya jalan pintas kan ngelewati sawah atau rumah yang jalannya ekstrem tapi bisa memangkas waktu. Nah sama kayak yang aku dan Didit alami ini. Pertanyaannya sekarang adalah, kalau ke Kalibiru aja ada jalan pintasnya, ke hati kamu ada jalan pintasnya juga nggak?

Bayar Rp 2.000 untuk parkir motor dan Rp 3.000 untuk tiket masuk per orang. Di atas kami disambut pemandangan indah sejauh mata memandang. Waduk Sermo terlihat kecil dari sini, sementara perbukitan menoreh terlihat menenangkan. Kami langsung menuju ke tempat “rumah pohon”, untuk apalagi kalau bukan untuk foto-foto. Di sini kita harus bayar lagi loh, Rp 10.000 untuk 5 menit di atas rumah pohon itu. Mahal ya? Iya. Jadi harus bener-bener dimanfaatkan tuh 5 menitnya. Kamipun dipasangkan tali agar tidak jatuh. Untuk keselamatan.

Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru

Setelah cukup puas berfoto ria, aku menyempatkan bertanya kepada mas-mas penjaga. Beliau mengenalkan dirinya sebagai Mas Harji atau biasanya dipanggil Mas Gondrong.

“Mas, ini kok 5 menit sih? Cepet banget.” Aku mencoba sedikit memohon agar bisa diperlama.

“Iya mas, soalnya ngantre, kasihan yang belakang.” Jelas mas Gondrong. Oke, aku paham dan mengerti kenapa cuma 5 menit jatahnya. “Lha ini kok sepi ya mas?” Aku bertanya lagi. “Iya, soalnya bukan pas musim liburan atau weekend. Makanya kalau ke sini mending pas tengah minggu mas. Biar sepi. Kalau sepi sih, kami masih mau ngasih lebih dari 5 menit tapi ya tetep nggak lama-lama. Kalau pas lagi rame, kami bikin 5 menit fix. Nggak boleh lebih. Kasian yang belakang.” Begitu tutur mas Gondrog. Wah ini tips yang berguna nih.

“Oh iya mas, kalau mau ngejar sunrise gitu bisa nggak mas? Soalnya aku baca ada blog yang bilang kalau bisa ngejar matahari terbit di sini.” Tanyaku. “Bisa aja mas, tapi ya kalau cuma 1 atau 2 orang kami males (melayani pasang tali dan sebagainya). Kalau rombongan gitu mungkin kami baru mau. Ya kan namanya kerja di luar jam kerja mas.” Mas Gondrong kembali memberi penjelasan. “Oh, gitu, berarti nanti bisa dong ya kalau mau dapet matahari terbit menghubungi mas Gondrong lagi?” Aku bertanya. “Oh boleh sangat kok mas.” Mas Gondrong mengiyakan.

 

Bromance
Bromance
Yang kiri Calon Traveler, Yang kanan Pengusaha
Yang kiri Calon Traveler, Yang kanan Pengusaha

“Nah, kalau pas sunset gitu? Bagus nggak mas di sini?” Didit ganti bertanya. “Mataharinya di sana (sambil nunjuk ke arah barat), ketutupan sama bukit. Kayaknya kurang bagus. Hehehe. Yang bagus itu kalau di sini kalau ada kabut. Habis hujan biasanya muncul kabut mas. Tapi ya kami nggak berani menaikkan, bahaya, licin soalnya meskipun udah pakai sandal gunung.” Kata mas Gondrong. “Nih kayak gini nih mas kalau lagi muncul kabut” Lanjut mas Gondrong sambil menunjukkan foto ada pengunjung yang naik di rumah pohon dan ada kabutnya.

“Wedyaaann, apik tenan mas (wedyaan bagus banget mas). Tapi itu kok boleh naik mas?” Aku bertanya kembali. “Kalau itu pas dia beruntung mas, lagi di atas terus turun hujan. Dia nunggu di atas sampai reda terus muncul kabut.” Kata Mas Gondrong.

Wuaah beruntung sekali orang itu. Beneran bagus loh, sayangnya aku nggak bisa memunculkan foto tersebut di sini. “Di sini itu, selain pas kabut, pas musim kemarau juga bagus mas. Entar dapet foto kayak gini.” Mas Gondrong bercerita sambil menunjukkan foto yang lain.

“Waaahh ya ini mas, ini yang ada di instagram temen saya.” Kata Didit. “Oh kalau yang ini pas matahari terbenam mas. Tapi kalau di sini, makin siang makin ramai. Masnya ini beruntung juga ke sini pas masih pagi, masih sepi.” Tukas mas Gondrong. Dan benar apa kata mas Gondrong, tak berapa lama mulai ada tambahan beberapa pengunjung lagi. Padahal pas kami datang, hanya ada aku dan Didit, kemudian ada 2 orang mbak-mbak, dan satu pasangan anak muda saja. Tapi semakin siang bertambah lagi pengunjungnya.

Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru
Pemandangan Kalibiru

“Nah kalau mau flying fox gimana mas? Bayar Rp 25.000 ya?” Aku bertanya karena di depan tadi aku melihat bisa ber-flying fox-ria. “Iya. Kayaknya kalau mau flying fox baru ada penjaganya pas udah siang deh mas.” Jawab mas Gondrong setelah bertanya kepada temannya yang lain. Pengunjung semakin banyak, Mas Gondrong pun kembali bekerja. Sementara aku dan Didit pun beranjak turun kembali ke tempat parkir. Di tempat parkir juga mulai ada beberapa rombongan anak muda yang baru tiba. Beneran nih kalau ke sini, lebih baik pagi dan bukan pas musim liburan atau weekend. Tujuan kami berikutnya? Pulang? Eh, mampir Waduk Sermo dulu, foto-foto.

"Selfie dulu yoo." Didit
“Selfie dulu yoo. Mumpung di Waduk Sermo” Didit
Pose Wajib : Membelakangi kamera
Pose Wajib : Membelakangi kamera

Kami mencoba melalui jalan yang lain, sempat nyasar lagi, bertanya lagi, dan kembali lewat jalan tidak beraspal seperti sebelumnya. Buseet. Akhirnya setelah berfoto-foto ria di Waduk Sermo, kamipun pulang ke Jogja. Tapi karena kami nggak mau lewat jalan yang tadi, yang kami anggap kurang layak jika kami harus ke Kalibiru lagi bersama teman-teman yang lain, akhirnya kami mencoba jalan yang lain. Alhamdulillah, ternyata jalan yang kami lalui untuk pulang lebih normal. Dan melewati Kota Wates sesuai petunjuk yang aku baca. Ternyata jalur yang melalui kota Wates lebih gampang lagi. Plang penunjuk arah juga sudah terpampang jelas. Jalanan juga lebih ramai. Nggak perlu takut nyasar meski membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding kalau lewat jalan ketika kami berangkat tadi. Kira-kira sih lebih lama setengah jam.

Sampai di kost, aku perhatikan ada yang beda fotoku, foto Didit, dan fotonya mbak Herlina. Lho ternyata lokasi rumah pohon yang dipakai foto mbak Herlina emang beda dengan kami tadi. Wah nggak bisa dibiarkan ini, artinya aku harus ke Kalibiru lagi suatu saat nanti.

 

===============================================

Banyak yang tanya gimana ke Kalibiru setelah naik kereta. Begini tipsnya :

Kalau dari Jakarta atau Bandung naik kereta bisa turun di Stasiun Wates, lalu naik ojek. Perlu diingat, jarak Stasiun Wates dengan Kalibiru masih cukup jauh jadi jangan lupa nego harga sama tukang ojeknya ya. Kalau paling aman, turun di Stasiun Tugu atau Lempuyangan di kota kemudian sewa kendaraan sendiri.

 

Iklan

88 tanggapan untuk “Mencari Jalan ke Kalibiru

  1. “Kamipun dipasangkan tali agar tidak jatuh. Untuk keselamatan.”

    Ralat: supaya mirip topeng monyet πŸ˜€
    Gal tulisan ini keren, tapi keknya lebih keren kalo ada poto gw disitu wkwkwk

    Suka

    1. gak gratis juga sih 😐
      mungkin masuknya bisa gratis, tapi kalo mau foto di atas pohon itu tetep bayar 😐
      dan kalo nggak salah yang jaga gak mau kalo cuma 1 atau 2 orang doang terus naikin orang di luar jam kerja mereka πŸ˜€

      Suka

    1. kalo udah sampe di parkiran, parkir kendaraan dulu mas.
      terus jalan kaki masuk ke retribusinya, bayar dulu di situ mas. nah dari situ masih naik terus. jalan kaki tapi. entar ada semacam “food court” eh bukan, ya pokoknya tempat istirahat dan warung gitu, nah itu masih masuk aja deh, udah ada jalannya kok mas πŸ™‚
      nanti masnya juga tau sendiri, yakin deh πŸ™‚
      udah ada papannya, ada yang sepaket sama flying fox ada yang enggak. kalo aku itu yang nggak sepaket soalnya datangnya masih pagi, yg jaga flying fox belom ada πŸ˜€

      Suka

  2. Wah, kapan ke sana lagi? ajak2 saya dong πŸ™‚

    Mungkin klo flying fox saya harus menambah berat badan supaya ga nyangkut di tengah jalan πŸ˜€

    Suka

  3. Saya punya feeling Lan, kalau musim kemaru tiba, dan kamera bisa dipinjem lagi dari rumah, bisa temani saya ke sini? Saya yakin kita bisa bikin heboh tempat ini πŸ™‚

    Suka

  4. Seru nih, yang lg ngehits duduk diatas pohon itu πŸ˜€
    Maaf sebelumnya numpang ngasih info nih, buat yang gamau repot masak waktu mau ngadain pesta/syukuran/resepsi pernikahan tapi tetep pengen nyicip makanan enak?
    kami dari Bu Mentik Catering and Wedding Organizer bisa loh menyediakan jasa catering dan paket pesta pernikahan.. makan dari kami dijamin fresh.. lezat.. halal.. dan tentunya tanpa vetsin.. langsung cek situs kami yuk.. http://www.bumentik.com
    Terimakasih.. smile emoticon

    Suka

  5. Mas gallant saya berencana kesana jumat besok…kalau dari jakarta turunnya di stasiun mana ya ?? Stasiun lempuyang atau stasiun yogya ?? Mohon infonya

    Suka

  6. Info plis mas nya, wates itu stsiun kota besar bukan ya? Dan kalibiru ini msh bisa di visitkah? Terakhir november lalu adik ku ke jogja, tanya sama orng2 di jogja kata nya udh ditutup. Akhir januari ini insyaAllah ada rencana ke sana soalnya, makasih

    Suka

  7. mas gallant, info dong, kalau ke kalibiru naik mobil elf bisa tidak ? karena menurut kabar, jalannya agak ekstrem ya ? mohon dibantu solusi kendaraan yang baik utk kesana ya, thanks

    Suka

  8. Halo mas, saya mau tanya kalo ke kalibiru bawa anak umur 1.5 tahun bisa ga ya? Naik tangga ke atas pohonnya untuk foto itu kira2 berapa tingginya mas? Terima kasih

    Suka

  9. bagus. dan indah
    jdi pengen ksana. krna lhat photo teman uda dsna 😦
    kapanlh bisa ksna??? mudah”an ada yg ngajak riski ksna πŸ˜‰ :* ❀

    Suka

  10. Thanks for sharing excellent informations. Your site is so cool. I am impressed by the details that you’ve on this blog. It reveals how nicely you understand this subject. Bookmarked this web page, will come back for more articles. You, my pal, ROCK! I found just the info I already searched everywhere and just could not come across. What a great website.

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s