Apa Kabar Wacinwa?

Dari pagi hingga sore, langit Jogja amat sangat cerah. Bahkan salah seorang teman berkomentar kalau Jogja sedang panas. Ada juga teman lain di kost yang sukses mencuci pakaian hingga kering. Sementara di Twitter, banyak juga yang berkicau tentang panasnya Jogja hari itu.

-hujan yang tiba-tiba-

Namun tidak pada sore harinya, selepas maghrib aku yang memang sudah melewatkan 3 hari pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta berencana untuk mendatangi perayaan kebudayaan Tionghoa yang dihelat setahun sekali itu tak peduli hujan atau tidak.

Sebelum menuju ke Kampung Ketandan, Kampung Pecinan di Jogja, aku menuju ke mesin ATM. Baru memarkirkan motor, hujan turun dengan deras. Beruntung (orang Indonesia selalu bisa melihat untung dari suatu musibah) aku membawa jas hujan.

Hujan deras tersebut hanya mengguyur beberapa menit saja, selebihnya hanya gerimis. Gerimis mengundang. Mengundang kenangan. Kelihatannya sih gerimis, tapi kalau aku meneruskan perjalanan sampai ke Ketandan tanpa jas hujan ya tetep aja nanti basah.

-wacinwa, kebudayaan yang hilang-

Kampung Ketandan amat sangat ramai saat itu. Acara Pekan Budaya Tionghoa ini berlangsung selama 5 hari dan baru dibuka pada jam 17.00.

Aku berjalan memasuki lorong dan menemukan sebuah petunjuk arah bertuliskan “Pameran Wacinwa (Wayang Cina Jawa)”. Aku tertarik dan melangkahkan kaki menuju tempat pameran. Bayangan sebuah pementasan wayang khas China memenuhi otak. Aku sudah tak sabar.

Sayangnya, bayangan itu hanya sekedar bayangan. Sama seperti gebetan yang hanya hadir dalam bayangan. Jangankan sebuah pertunjukan, pameran Wacinwa ini berada dalam sebuah ruangan yang tak begitu luas. Kira-kira seluas 9 x 3 meter saja. Yang dipamerkan pun cuma beberapa wayang. Bagaimana dengan yang datang? Saat itu cuma aku dan sepasang muda-mudi saja. Tapi tampaknya hanya waktu itu saja sepi, soalnya pas aku melirik ke arah mbak-mbak berkerudung biru gelap yang minta tolong difotoin buku tamu, ternyata cukup banyak juga yang datang.

“Pak, ini dibuat dari apa ya wayangnya?” Aku bertanya kepada seorang bapak yang mengenalkan dirinya bernama Arya.

“Ya, sama kayak wayang biasanya, Mas. Dari kulit.” Jawab Pak Arya. “Wacinwa ini nggak berbeda jauh dari wayang Jawa. Namanya saja Wacinwa, Wayang Cina Jawa, jadi ya perpaduan antara Cina dan Jawa.” Lanjut Pak Arya sementara aku hanya mengangguk-angguk.

Dari bapak Arya ini pula aku tahu, Wacinwa ini dalam pementasan hampir sama dengan Wayang Jawa. Perbedaannya hanya Wacinwa menggunakan tokoh, nama, dan cerita Cina, serta dipadukan dengan Ketoprak atau wayang orang. Selain itu, masih sama semua. Ya ada dalang, kain yang jadi layar, bahasa Jawa, dan perangkat-perangkat pewayangan lainnya.

“Di dunia ini hanya ada dua set (pewayangan), Mas. Yang satu lagi ada di Jerman.” Lanjut Pak Arya.

“Oh, gitu Pak. Terus ini nggak dipentasin?” Tanyaku.

“Besok mas, di Panggung Utama. Coba mas lihat di jadwal saja terus datang ke Panggung Utama besok.” Jawab Pak Arya. Aku hanya bisa bergumam, “Oh besok toh. Kirain tiap hari ada.”

Aku pun berpamitan dengan Bapak Arya setelah mengisi buku tamu.

-Pentas Wacinwa-

Wacinwa (Wayang Cina Jawa) dipentaskan di hari terakhir pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Pementasan dimulai pada  jam 20.30 dengan membawakan lakon Sie Jin Kui Ngumbara (Pengembaraan Sie Jin Kui). Dan seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Arya sehari sebelumnya, di pertengahan pentas terdapat wayang orang atau ketoprak yang muncul. Dalam Wayang Cina Jawa memang ada perpaduan antara Wayang Kulit dan Wayang orang atau ketoprak sehingga di tengah jalannya cerita, wayang kulit akan digantikan oleh wayang orang ketika sang dalang sedang lelah.

Kesanku? Lucu. Lucu banget malah. Menggunakan bahasa Jawa dan dibawakan dengan kocak oleh penampilnya. Aku bisa tertawa padahal Ketoprak ini sudah termasuk acara zaman dulu banget yang mulai jarang dipentaskan dan dimunculkan. Bahkan mungkin generasi sekarang sudah tak mengenal lagi Ketoprak, apalagi Wacinwa ini, yang menurut literatur, tak lagi dipentaskan sejak tahun 1967.

Sayangnya, kalau dalang yang ngomong aku mendadak nggak ngerti apa yang diomongkan. Kayaknya sih karena sound systemnya. Kurang jelas kalau didengerin. Aku cuma denger dalangnya “nggremeng”. “Nggeremeng” itu ngomong yang nggak jelas, bukan omongannya yang nggak jelas (ngelantur), tapi kita nggak bisa dengar apa yang diomongkan dan terdengar hanya “ngg ngg ngg”.

Wacinwa ini dibuat oleh seorang Tionghoa bernama Gan Thwan Sing pada tahun 1925. Beliau adalah seorang keturunan Tionghoa yang tinggal di Jogja sehingga lingkungan seni di Jogja mempengaruhi kehidupan beliau. Tak seperti warga keturunan Tionghoa lain yang memilih jalur niaga, beliau lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidup. Dan kini set wayang bisa dinikmati di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Satu set lagi berada disimpan di Uberlingen (Bodensee, Jerman) mungkin bagi yang sedang berkunjung ke Jerman bisa mengunjungi.

Penampilannya di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ini menjadi yang pertama sejak 1967 dan diharapkan akan senantiasa dipentaskan setiap tahun dalam kegiatan Pekan Budaya Tionghoa.

Iklan

10 tanggapan untuk “Apa Kabar Wacinwa?

  1. Jadi kalau dalangnya lelah, penonton pindah panggung untuk menonton ketopraknya, atau bagaimana Mas, mekanismenya?
    Budaya Jawa dan Tionghoa memang sudah berasimilasi dengan sangat apiknya :)). Semoga tetap lestari.

    Suka

  2. Baru tahu kalo di Yogya ada Kampung Pecinan. Sangat menarik!

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s