Berburu Jajan di Pekan Budaya Tionghoa

Di hari keempat pelaksanaan PBTY, aku lebih memilih untuk melihat-lihat saja tanpa ada niatan untuk beli sesuatu. Termasuk mengunjungi tempat pameran Wacinwa atau Wayang Cina Jawa.

Tapi kali ini berbeda, di hari terakhir ini aku sudah membulatkan tekad untuk berburu kuliner. Kuliner-kuliner yang mungkin tak bisa aku dapatkan di tempat-tempat lain, di waktu yang biasa saja.

Sore itu aku berangkat lebih awal. Tak seperti kemarin yang akhirnya aku harus berjubel dan kesusahan untuk mencari tempat parkir, aku belajar dari pengalaman. Bahwa balikan sama mantan itu nggak baik, eh bukan maksudnya berangkatlah lebih sore biar nggak susah masuknya.

Aku mengambil langkah untuk makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat, mengantisipasi keluarnya uang dari dompet yang tak terkendali. Ternyata keputusan untuk datang lebih awal terbilang cukup tepat. Aku masih bisa mendapatkan parkir di dekat Kampung Ketandan.

Asap hasil pembakaran sosis mulai memasuki hidung seiring dengan langkah kakiku semakin jauh ke dalam. Sosis daging ayam dan sapi tercium harum, ahh untung aku sudah makan. Aku tak tergoda.

Sosis yang lagi dibakar sama mas-nya
Sosis yang lagi dibakar sama mas-nya
sosis bakar siap makan
sosis bakar siap makan

Semakin ke dalam, semakin bermacam-macam makanan yang aku temui. Muncul bakpao-bakpao dalam bentuk yang lucu, mungkin jadi sayang banget kalau mau dimakan. Ahh bahkan Chelsea Islan pun kalah lucu sama bakpao ini.

Banyak dijual makanan-makanan khas Tionghoa di sini, ada bakpao, ada bakcang juga. Isiannya pun bervariasi, mulai dari kacang, ayam, atau babi.

Bakcang
Bakcang
Bapak Penjual Bakcang

Aku tergiur begitu melihat salah satu penjual makanan. Dengan membuat buah strawberry dan beberapa buah lain yang ditusuk menggunakan tusuk sate kecil kemudian dilumuri coklat. Terlihat enak meski aku tahu nggak bakal kenyang. Ya namanya juga cuma jajanan.

coklat yang nanti melumuri sate buah
coklat yang nanti melumuri sate buah

Semakin ke dalam semakin bermacam-macam godaan makanan yang tampak enak. Aku harus bisa menahan dompetku. Mulai dari Gulali, kemudian Shihlin atau Jajanan jalanan dari Taiwan, kemudian banyak dijual juga lontong Cap Gomeh. Bahkan Soto Kudus juga ada!

Tak hanya dari jajanan jalanan, tapi di panggung utama juga ada dari hotel gitu juga yang ikut memeriahkan acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Harga makanannya ya jelas beda dengan yang dijual oleh pedagang-pedagang di jalanan.

booth dari salah satu hotel di jogja
booth dari salah satu hotel di jogja

Oke, jalan-jalan ngeliatin makanan emang bikin ngiler. Nah kalau udah capek jalan-jalan kan habis itu haus, ada juga yang jual es jeruk baby. Adem jadinya tenggorokan.

bapaknya lagi meras jeruk
bapaknya lagi meras jeruk

Di sebuah pojokan, aku menjumpai ada Slowfood. Entah maksudnya apa sih ini Slowfood, makanan lambat? Yang dijual apaan? Yang dijual adalah JAJANAN PASAR!!! Asyik banget ada jajanan pasar di sini, cenil, lupis, ahhh… nggak perlu mikir lama aku langsung ke booth tersebut, beli cenil sama lupis.

Jajanan sudah dibeli, sekarang waktunya ke Panggung Utama, menyaksikan kemeriahan penutupan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2015. Nonton bagaimana serunya lelang perangko bergambar kambing kayu yang diterbitkan oleh PT. POS Indonesia (FYI : Perangkonya tidak diproduksi masal, hanya satu saja dan sudah ditanda tangani oleh Sri Sultan) yang bisa laku hingga 101 juta rupiah. WOW!!.

Di akhir acara juga ada pentas Wacinwa untuk kali pertama sejak 40 tahun yang lalu.

Selamat Tahun Baru Imlek. Sampai jumpa di tahun depan.

Iklan

37 tanggapan untuk “Berburu Jajan di Pekan Budaya Tionghoa

  1. Ih, bakpao nya cute banget! Yg bentuknya babi itu isinya babi barangkali ya? Itu sate coklat mirip sama yg dijual di Amplaz depannya Solaria. Apa yg jual sama ya? Tapi yg bikin aku tertarik dari foto2mu itu yg ada tulisan “B2 Kecap”, hahaha! 😀

    Suka

  2. Ada Slow Food juga di sana. SF adalah suatu pergerakan dari Italia untuk mengkonter Fast Food dengan kembali ke makanan lokal, mengusung keragaman dan diolah secara sepatutnya makanan dibuat…Gak pakai instant-instant-an gitu deh..,

    Suka

  3. Bakpaonya lucu-lucu :hihi.
    Perayaan yang kaya kuliner Tionghoa! Sejauh ini saya tidak pernah dibuat kecewa dengan masakan Tionghoa–mereka selalu tahu bagaimana cara membuat makanan yang enak dan memuaskan lidah saya :hihi. Saya yakin semua makanan di sana rasanya juga ciamik tenan :hehe.

    Suka

  4. Bakcang! Suka sekali sama Bakcang. Terakhir kali makan itu waktu lebaran Idul Fitri di Bangka. Isinya udang. Enak! Dan pengen juga ah festival kayak gini diadain di setiap provinsi ya…Pasti keren!

    Suka

  5. Ah, gue suka banget sama suasana pluralis kayak gitu. Sayang gue pas nggak lagi di Jogja saat itu. Ternyata kuliner Jogja juga nggak kalah dari kota tetangganya, apalagi budayanya 🙂

    Never ending Asia..

    Suka

  6. Saya keturunan Tionghoa tapi belum pernah ke sana. Jadi tertarik 🙂

    Josefine Yaputri
    Content Writer & Editor
    PT. Grivy Dotcom
    P: +62(0)21 2960 8168
    Office 8 Tower, Floor 18A
    Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53
    Jakarta Selatan, 12190, Indonesia

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s