Soto Lamongan Pengobat Kerinduan Kampung Halaman

Akhirnya nge-blog lagi setelah sekian lama terbengkalai dan cuma blog walking saja. *bersihin sarang laba-laba dan debu*

Sibuk menyelesaikan salah satu kewajiban agar bisa meninggalkan status mahasiswa membuatku membiarkan blog ini terbengkalai. Ya, aku sedang sok sibuk mengerjakan skripsi yang sudah tertunda sejak lama. Lalu apa yang membuat aku kembali menulis di sini?

Jenuh. Aku cukup jenuh ketika harus berkutat dengan skripsi. Sampai di bab pembahasan, sedikit lagi memang, tapi justru tak membuatku semakin bersemangat untuk menyelesaikannya. Bukan karena tak ingin selesai, tapi masih berusaha menjelaskan fenomena yang terjadi secara ilmiah ini tidak cukup mudah.

bab pembahasan
bab pembahasan

Sebagai mahasiswa yang memiliki prinsip pantang pulang sebelum sidang, aku harus tetap di Yogyakarta hingga semua urusanku dengan kampus selesai. Hal ini tentunya membuatku merindukan kampung halaman, baik itu suasana hingga kulinernya.

Malam itu, aku beranjak dari kost hanya sekedar untuk mencari Soto Lamongan. Aku sudah terlalu rindu untuk bisa pulang. Hanya dengan mencari Soto Lamongan ini aku bisa sedikit mengobati kerinduanku akan kampung halaman meski aku harus mengendarai motor cukup jauh, ya baiklah tidak begitu jauh sebenarnya tapi biar sedikit dramatis.

Lamongan memang sudah menjadi sangat terkenal karena kulinernya, terutama soto dan pecel lele, yang banyak ditemukan di kota-kota lain. Soto Lamongan sendiri memang sudah cukup dikenal di Indonesia. Salah satu brand mie instan bahkan menggunakan Soto Lamongan sebagai salah satu varian rasanya, bukti yang cukup kuat kalo Soto Lamongan memiliki banyak penggemar.

Soto Lamongan memiliki ciri khas yang membedakan dari berbagai varian soto di Indonesia. Koya. Bubuk yang ditaburkan ini berbahan dasar kerupuk udang dan bawang putih. Penyajian sotonya dicampur dengan nasi. Mungkin bagi tim #NasiDipisah hal ini cukup aneh, tapi bukankah perpisahan itu menyakitkan? Apalagi yang terpaksa (atau dipaksa) untuk berpisah.

Soto Lamongan memiliki kuah yang bening dengan telur dan daging ayam kampung yang menjadi bahan utama. Rasanya kaldu kuah sotonya gurih ditambah taburan daun bawang dan bawang goreng. Nasi, bihun, tauge, dan irisan kubis yang disiram kuah soto dengan taburan koya di atasnya cukup untuk mengenyangkan perut malam itu. Jangan lupa ditambah sedikit kecap, sambal, dan juga “kecretan” jeruk nipis sebagai pelengkap. Ditambah irisan kentang goreng juga boleh.

Pengalaman mengikuti acara kuliner yang diprakarsai oleh mas Arie Parikesit membuatku tahu, ternyata soto juga menjadi salah satu wakil Indonesia di ajang World Street Food Congress di Singapura beberapa waktu yang lalu. Sebuah bukti bahwa soto bisa go international. Mungkinkah soto mengikuti jejak rendang, nasi goreng, dan sate yang sudah lebih dulu masuk jajaran 50 besar kuliner paling enak di dunia? Kenapa tidak?

Perut kenyang, rindu sedikit terobati. Mari kita selesaikan skripsi.
*brb nulis skripsi lagi*

*PS : Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog jelajah gizi. Mau ikutan juga? Klik banner lomba di bawah ini.

banner lomba

Iklan

56 tanggapan untuk “Soto Lamongan Pengobat Kerinduan Kampung Halaman

  1. soto lamongan juga makanan favoritku lant 😉
    layak untuk dijadikan makanan yg bisa go.internasional hihihi. .
    mudah2an bisa jadi pemenang yo di lomba blog jelajah gizi. .

    Suka

  2. Tau ngga sih, Kak, Soto Lamongan buat aku malah ngingetin ke jaman kuliah di Bintaro dulu. Di depan kampus ada bakul Soto Lamongan yang super endeuz. Hampir tiap Minggu pagi, aku jalan dari kosan ke sana, sarapan di sana. Huhuhuhu ..

    Mendadak melow, udah lama banget ternyata itu. Aku udah tuaaa .. *ups* 😀

    Suka

  3. Soto Lamongan jadi obat demam buatku mas. Kalo lagi meriang pasti deh nyari warung lamongan buat pesen ni Soto plus kuahnya yang banyak dan panas. Kalo udah keringatan berasa sehat.

    Suka

  4. Awal kenal Soto Lamongan itu bagi saya sedikit aneh,
    karena Sotonya dicampur dengan nasi, ini hal pertama saya liat.
    Tapi ternyata rasanya juara, bahkan bikin saya ketagihan.

    Dulu punya langganan Soto Lamongan di Cepu, jalan menuju stasiun.
    Tiap hari selalu ramai, apalagi di jam makan siang selalu full.

    Salam kenal yah..
    dari Penggila Coto Makassar

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s