Menggalau di Gua Gelatik

Apa sih yang kamu lakukan kalau lagi galau? Mungkin orang akan menjawab dengan jawaban-jawaban seperti membaca, traveling, main game, atau bahkan makan. Pernahkah terpikir ketika sedang galau yang kita lakukan justru bertapa atau beribadah?

Siang itu aku dan beberapa temanku, sebut saja mbak Dwi, Reza, mbak Aqied, Hannif, dan mas Udi mengunjungi Desa Wisata Bejiharjo. Asing? Mungkin nama desa Bejiharjo kurang dikenal dibanding obyek wisatanya, Gua Pindul. Hampir semua orang mengenal Gua Pindul dengan kegiatan outdoornya, cave tubing. Apalagi dengan beberapa foto di sosial media kala itu yang menunjukkan betapa ramai dan padatnya Gua Pindul.

Kami berenam mengunjungi desa wisata Bejiharjo bukan untuk bermain air di Gua Pindul, melainkan berkunjung ke salah satu tempat yang masih jarang didengar oleh publik, ke Gua Gelatik, karena pagi harinya kami sudah bermain air di Kalisuci. Lokasi Gua Gelatik ini nggak jauh dari Gua Pindul namun karena silaunya ketenaran Gua Pindul, Gua Gelatik pun meredup.

gua gelatik 1

“Gua Gelatik ini dulunya menjadi tempat Prabu Angling Dharma bersemedi,” tutur pemandu kami saat itu, Pak Sukis dan Mas Angga.

Kami harus memakai pengaman berupa helm untuk melindungi kepala sebelum memasuki gua.

“Lorongnya masih sempit mas, pakai helm biar tidak terbentur nanti kepalanya.” Begitu ucap sang pemandu.

gua gelatik 8

Memasuki lorong gua, hawa pengap dan bau menyengat dari kelelawar mendominasi. Pintu masuk gua cukup lebar tapi kemudian menyempit hingga kami harus memasukinya satu persatu secara bergantian dan dengan menunduk menghindari stalaktit gua diawali oleh pemandu sambil menyalakan senter sebagai penerang. Di dalam gua memang sangat gelap. Bahkan mustahil bagi kita untuk melihat di dalam gua tanpa bantuan senter. Menjadi lokasi strategis bagi para kelelawar untuk tinggal bukan?

Cahaya matahari yang terang di luar langsung menghilang begitu kami melewati lorong sempit tadi, gelap kayak hati aku tanpa kamu. Pemandu kamipun menyalakan senter yang dibawanya. Hawa di dalam cukup panas dan pengap. Suara decit kelelawar yang sedang tidur, mungkin merasa terganggu dengan kedatangan kami. Dan bau kotoran kelelawar tak menyurutkan niat kami untuk menjelajahi gua semakin ke dalam. Agak takut juga sih sebenernya.

Pemandu kami menjelaskan bahwa gua gelatik ini masih termasuk gua yang aktif. Maksudnya barisan stalaktit dan stalagmit masih bisa terus tumbuh. Hal ini mengingatkanku, sepertinya Gua Maharani di Lamongan, kampungku, juga masih aktif. Jadi kangen kampung halaman, apalagi sudah beberapa bulan belum pulang *kemudian pesen tiket kereta*.

gua gelatik 3

Kami semua dipenuhi peluh keringat. Kaos yang kami kenakan menjadi cukup basah oleh keringat ketika kami tiba di ujung gua. Ruang utama gua ini cukup luas. Di sini pemandu kami menceritakan cerita legenda menyangkut gua gelatik.

“Dulu, Prabu Angling Dharma pernah bertapa di tempat ini. Namun ketika sedang bertapa, ada seorang wanita cantik yang datang. Makanya Prabu menjadi kecewa atau dalam bahasa Jawa itu Gela. Kecewa karena proses bertapanya terganggu.” Begitu pemandu kami bercerita.

gua gelatik 4

“Tapi sang prabu nggak terlalu lama kecewa. Kecewanya sedikit saja. Soalnya yang datang saat itu adalah seorang wanita cantik. Makanya gua ini diberi nama gelatik gabungan dari bahasa jawa ‘gela saithik’ atau kecewa sedikit.” Lanjutnya.

Sang prabu aja masih bisa kecewa begitu tahu yang ganggu cewek cakep. Lha aku, begitu tau kamu tiba-tiba balikan sama dia padahal kita udah deket ya aku bisa apa? Aku cuma bisa pasrah.

gua gelatik 2

“Pak, itu kok ada semacam sesajen ya di beberapa batu?” tanyaku.

“Iya mas, kadang masih ada juga yang bertapa di sini. Sekedar berintrospeksi diri mungkin.” jawabnya.

Kami kemudian diminta untuk berkumpul dan membentuk lingkaran. Lampu kemudian dimatikan. Suasana berubah menjadi sedikit menyeramkan. Bapak pemandu kemudian bersuara memecah keheningan. “Yak, mari kita berdoa dulu sebelum keluar dari gua. Berintrospeksi diri dan berdoa. Di dalam gua yang gelap ini kita menyadari bahwa kita tak bisa apa-apa tanpa kekuatan Tuhan. Bayangkan suatu saat nanti nikmat mata kita dicabut, suasana gelap akan menyelimuti. Mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing.”

Kami berdoa sejenak, menyadari bahwa manusia memang makhluk yang terbatas. Jauh sangat kecil dibandingkan dengan kekuasaanNya yang Maha Tak Terbatas. Bapak pemandu pun mencukupkan berdoa, lampu dinyalakan kembali. Kami diberi kesempatan untuk berfoto sebelum keluar.

Di pintu keluar ternyata sudah ada beberapa pengunjung yang akan memasuki gua. Yah waktu kami sudah habis, sebuah pengalaman berharga tercatatkan, dan kesadaran diri dikembalikan.

“Eh, tadi pas kita berdoa itu kalian ngerasa ada orang yang mendengus di depan kalian nggak? Kok aku tadi pas berdoa kerasa ada yang mendengus dan kena wajahku. Udara yang dihembuskan hangat.” Ujar Hannif saat kami berjalan menuju tempat parkir. Kami semua menggeleng dan saling pandang.

Catatan : Untuk menuju ke kawasan Gua Pindul dan Gua Gelatik diharapkan untuk melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan pihak pengelola resmi. Akan banyak ditemui calo sepanjang perjalanan menuju kawasan dan dengan melakukan komunikasi terlebih dahulu akan mengurangi “gangguan” dari calo-calo tersebut.

Informasi Pokdarwis :
web : http://desawisatabejiharjo.net/
twitter : @goapindul_gk
telpon : 081227923007

Iklan