Candi Plaosan: Bukti Cinta dan Toleransi Beragama

Kamis, 20 Oktober 2016.

Langit masih gelap. Bintang-bintang masih belum beranjak. Bulan pun tetap berada di ufuk barat sembari menunggu tenggelam, berganti hari. Seorang pemuda sendirian sudah melajukan motornya ke arah timur menuju sebuah kompleks candi bukti cinta dan toleransi berbeda agama, Candi Plaosan. Pemuda tersebut adalah aku.

candi-plaosan-26

Waktu menunjukkan pukul 04.30, aku mulai keluar menuju jalan Solo. Langit masih tampak malu-malu menunjukkan warna birunya saat aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang. Perjalanan masih jauh, tapi aku tak mau terlalu cepat mengendarai motor. Masih ngantuk dan dingin. Dalam keadaan mengantuk aku melajukan motor dengan kecepatan sedang. Sebuah kegiatan yang tidak baik untuk ditiru.

Semalam aku memang kurang cukup tidur. Hanya tidur tak lebih dari sejak menit ke-70 babak kedua pertandingan antara Barcelona kontra Manchester City hingga adzan subuh berkumandang dan alarm di telepon selulerku berbunyi. Aku bergegas ke kamar mandi dan melakukan kegiatan yang sangat jarang kulakukan pada jam tersebut, mandi. Kalau bukan karena mandi besar sebelum sholat subuh aku akan ke Candi Plaosan pagi itu mungkin baru agak siang aku mandi.

Warna langit pun berubah sedikit demi sedikit seiring bertambahnya waktu. Warna dominan gelap menuju biru beralih menjadi ungu (atau merah muda?) dengan paduan keemasan saat aku melewati Bandara Adi Sucipto diiringi dengan kendaraan yang cukup ramai, truk, mobil, dan bus. Aku melihat telepon selulerku ketika lampu merah menyala. “Sudah hampir jam 5,” batinku. Seharusnya sunrise time di Candi Plaosan saat itu sekitar jam 5 lebih. Begitu setidaknya hasil penelusuranku melalui google sebagai bentuk persiapan sebelum bepergian.

candi-plaosan-1

“Sepertinya aku bakal telat,” pikirku ketika melihat warna langit yang semakin terang. Aku tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Karena keselamatanlah yang aku utamakan meski aku harus mengejar waktu sebelum matahari terbit. Daripada terjadi apa-apa dan malah melewatkan matahari terbit di rumah sakit, kan?

Matahari belum keluar dari peraduan. Dingin semakin menusuk menembus jaketku yang tipis. Sawah-sawah menghampar ketika aku membelokkan motor beralih dari Jalan Solo yang ramai melewati jalan yang lebih sempit dan sepi di sekitar Candi Prambanan. Langit sudah cukup terang.

Sepi sekali di sana. Hanya ada satu orang saja yang sudah datang sebelum aku dengan telepon pintar di genggamannya. Bersiap mengabadikan saat matahari terbit sepertinya. Aku berhenti di jalanan sebelah barat candi, berjalan kaki menyusuri sawah. Embun pagi membasahi rumput-rumput, jalanan menjadi licin, aku pun sempat terpeleset meski sudah memakai sandal gunung meski baru ingat kalau bagian bawahnyaΒ  sudah seperti paha anggota girl band dari Korea, mulus. Aku mengeluarkan kameraku saat itu juga. Bermodalkan kamera hasil pinjam aku mengabadikan saat-saat matahari terbit membuat Candi Plaosan terlihat semakin agung dengan buratan cahaya matahari terbit menghiasi langit. Mengubah warna langit dari gelap menjadi keemasan.

Matahari sudah semakin tinggi, satu dua jepret kamera, hingga tak terasa satu jam kuhabiskan di tengah sawah mengabadikan perubahan warna langit. Sudah waktunya masuk ke dalam candi setelah kutanya seorang ibu tempat aku menitipkan motor. “Sudah buka, Mas,” begitu ujarnya.

Loket masih belum ada yang jaga. Hanya beberapa orang satpam yang sepertinya mendapat tugas berjaga semalam tampak segar. Mungkin habis mencuci muka.

Aku membayar tiket sebesar Rp 3.000,00 sesuai arahan bapak satpam dan mengisi daftar hadir. “Ini loketnya sudah buka kok mas. Tapi yang jaga belum datang saja,” ujarnya sembari memasukkan uang ke dalam sebuah laci. Seharusnya aku mendapatkan karcis sebagai bukti masuk. Sayangnya aku lupa memintanya lagipula karcisnya mungkin juga tidak dipegang oleh bapak tadi. “Masuk ke candi-candi yang nggak dikelola swasta itu harusnya gratis. Kalaupun bayar berarti kita harus dapat karcis sebagai bukti,” aku teringat kata-kata Mas Joy dulu.

candi-plaosan-12candi-plaosan-16

Candi Plaosan terletak di Jalan Candi Plaosan, Bugisan, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Silakan klik tautan untuk membuka peta menuju lokasi.

Candi Plaosan, yang tergolong dalam candi Buddha, diyakini oleh para ahli dibangun pada awal abad ke-9 M. Dilansir dari berbagai sumber, Candi Plaosan dibangun oleh seorang putri dari wangsa Syailendra, wangsa yang membangun Candi Borobudur, bernama Pramodhawardhani (atau dari sumber yang lain diyakini bernama Sri Kahulunan) dengan bantuan suaminya, Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya. Rakai Pikatan yang beragama Hindu menikahi Pramodhawardhani, seorang putri mahkota Raja Samarathungga yang beragama Buddha. Perbedaan agama tak menyurutkan keduanya untuk melangsungkan pernikahan. Suatu hal yang pada saat sekarang ini menjadi dilema anak-anak muda Indonesia. Ketika sudah sayang tapi ternyata agamanya berbeda. Pada zaman dahulu pernikahan tak asal menikahkan seorang pria dan wanita. Tapi lebih dari itu. Ada banyak hal yang melatari terjadinya pernikahan, karena politik dan penyebaran agama adalah salah satunya.candi-plaosan-25

candi-plaosan-13

Ah, aku terlalu banyak berbicara tentang cinta. Padahal aku sendiri adalah fakir cinta.

Candi Plaosan terbagi menjadi dua bagian, Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Terdapat dua candi utama di Candi Plaosan Lor, salah satunya didominasi oleh relief perempuan dan relief laki-laki di candi yang lain. Aku masih asyik bermain dengan kamera ketika terdengar suara riuh beberapa orang gadis yang masih mengenakan piyama bergaya di candi utama sisi selatan. Candi Plaosan Lor ini memang menjadi tujuan utama karena Candi Plaosan Kidul masih dalam tahap pemugaran yang entah dari kapan dan sampai kapan akan selesai. Tak ada lagi pengunjung yang datang pagi itu selain aku dan beberapa gadis tadi.

Tak sekali ini memang aku mengunjungi Candi Plaosan. Sekitar dua atau tiga tahun lalu untuk kali pertama aku mengunjungi Candi Plaosan bersama Mbak Suci, Bang Daan, Mbak Ika, Mas Rois, dan seorang teman dari Mbak Ika yang sayangnya aku lupa namanya. Mbak Suci yang memang menggemari sejarah pun menceritakan sedikit tentang Candi Plaosan meski saat itu aku tak terlalu memedulikan ceritanya dan malah sibuk berkeliling namun ada kalimat yang aku ingat meluncur dari mulut Mbak Suci.

“Candi Plaosan ini candi Buddha yang nggak kecil padahal nggak jauh dari sini ada Candi Prambanan yang besar banget. Ini adalah salah satu bentuk toleransi beragama yang patut dicontoh. Umat Hindu yang saat itu berkuasa tetap mengizinkan pendirian Candi Plaosan di sini.” Mbak Suci berujar.

candi-plaosan-17

Di saat Indonesia tengah menghadapi krisis terhadap isu SARA, seharusnya kita semua belajar dari Candi Plaosan ini di mana umat Hindu dan Buddha saat itu bisa hidup tenang bermasyarakat dalam damai. Ya, aku berharap Indonesia mau belajar dari Candi Plaosan, dari masa lalunya.

Belajar dari masa lalu itu seperti belajar kisah cinta dengan mantan, tak masalah jika kita melihat kembali kisah cinta dengan mantan. Bukan untuk kembali bersamanya namun untuk belajar darinya.

Menengok ke belakang sejenak untuk belajar memang tak ada salahnya bukan?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Iklan

52 thoughts on “Candi Plaosan: Bukti Cinta dan Toleransi Beragama

  1. Mas fotomu epiic banget. Semuanya g ada satupun yg jelek :’)
    Terus itu karena habis mandi serasa udah keren gitu udah majang foto sendirian. Siapa yg motoin? Wkwk

    Sayangnya kalau nyunrise nya sama aku zonk yak, padahal pas ulangtaun lho itu lho 😊

    Disukai oleh 1 orang

  2. Eh memang keren bangetlah candi ini waktu fajar dan senja ya, Mas. Foto-fotonya bikin decakan-decakan kagum! Semoga berhasil dengan lombanya, tulisan ini nyata benar ditulis pakai hati dengan gambar yang mengambilnya butuh niat dan usaha yang tak sedikit, semoga mendapat hasil yang terbaik. Siapa yang cinta dengan Plaosan akan beroleh cinta dari monumen itu, itu yang saya yakini, hehe. Jadi ingat belum mengulas Plaosan sama sekali di blog, hoho.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Maaf balasan komen di blog hani salah ya, rupanya sudah lulus sejak agustus hihihi selamat ya gelarnya semoga berkah, lancar rejeki, sukses. btw candi plaosan memang spot sunrise ya? sunsetnya piye?

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wohoo keren nih Plaosan. Kapan2 ke Jogja musti coba sunrise di sini!

    Saya juga suka dengan latar belakang berdirinya candi ini. Kekuatan cinta, siapa yang bisa lawan. Tampaknya Indonesia sekarang kurang kekuatan cinta nih, apa mesti kita panggil Sailormoon? πŸ˜‰

    Disukai oleh 1 orang

  5. nggak pernah bosan dengan candi plaosan ini, meskipun relatif lebih kecil tapi memancarkan aura yang kuat, terlebih sejarahnya yang juga menggetarkan.

    sekilas memang mirip siluet candi di Bagan Myanmar ya, cakep kalau pas sunrise maupun sunset.

    Disukai oleh 1 orang

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s