#FamtourJawaTengah – Photo Stories

Rangkaian kegiatan Familiarization Tour yang diadakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah telah usai. Kegiatan ini berjalan pada tanggal 15-17 Februari 2017 yang lalu. Destinasi wisata yang dituju adalah dua buah kabupaten di sisi selatan Jawa, Purworejo dan Kebumen.

Beruntung, aku adalah salah satu dari sekian travel blogger dan pelaku wisata yang diundang. Berikut adalah rangkaian foto yang diambil selama kegiatan tersebut. Foto-foto yang ditampilkan di tulisan ini merupakan foto yang aku ambil sendiri, kecuali jika terdapat tanda air dalam foto sebagai bentuk penghargaan pemilik foto. Pembaca dapat memilih satu persatu foto yang ditampilkan untuk melihat cerita dalam foto tersebut.

Kami berfoto sejenak sebelum meninggalkan Semarang. Beranjak menuju Kabupaten Purworejo dan Kebumen. Foto oleh Mas Fahmi Anhar.

Perjalananku sendiri berasal dari sebuah kota kecil bernama Babat, sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan. Menuju Semarang, titik pertemuan, aku menggunakan jasa layanan kereta api. Kemudian aku lanjutkan dengan berjalan kaki dari Stasiun Semarang Tawang menuju kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah di Jalan Pemuda 108, Semarang. Cerita perjalanan kereta api dapat dibaca di sini.

*****

Tujuan pertama kami adalah Kabupaten Purworejo. Kami akan langsung melakukan aktivitas fisik berupa rafting di Sungai Bogowonto. Kegiatan rafting ini dikelola oleh tim dari BIA Purworejo.

Waktu sudah beranjak sore ketika kami menuju Gua Seplawan dan Gardu Pandang Batas Provinsi Jawa Tengah – Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya di Kecamatan Kaligesing, Purworejo. Meski kami dilarang memasuki gua karena sudah terlalu gelap, namun tidak dengan gardu pandang yang menyajikan pesona warna jingga berbalut lembayung khas matahari terbenam.

Nikmati juga, timelapse dari Kak Bobby.

Pukul 19.00 Waktu Indonesia bagian Purworejo dan sekitarnya kami meninggalkan Kecamatan Kaligesing menuju kecamatan Bener. Menuju sebuah rintisan desa wisata, Desa Benowo. Kami tiba cukup larut. Namun warga tetap menyambut kami dengan antusias. Hidangan tradisional seperti buntil dan ikan segar (yang sudah digoreng tentunya) disajikan. Tarian khas, Jathilan dipertontonkan. Sayang, baterai kamera sudah tak mampu memberikan daya lagi. Aku tak sempat merekam apapun malam itu.

Kami harus bangun pagi-pagi sekali. Tak perlu mandi (kecuali Vanisa yang berdasarkan cerita yang ditulisnya, sempat mandi dalam keadaan yang sangat dingin di sana. Ceritanya dapat dibaca di sini.), kami langsung dibawa menuju titik tertinggi desa. Gunung Kunir. Atau menurut Mas Ghozali lebih cocok disebut Bukit Kunir (penjelasannya dapat dibaca di sini).

Ojek-ojek yang disediakan dengan lancar mengantarkan kami ke tempat berikutnya, Curug (Air Terjun) Benowo. Selain air terjun, kami juga disiapkan hidangan berupa pisang, kacang rebus, teh, atau kopi khas Desa Benowo yang masih hangat. Cocok dinikmati di pagi hari yang dingin di hadapan air yang terjun meluncur deras di hadapan. Ya meskipun saat itu adalah waktuku berpuasa, tapi melihat ekspresi teman-teman terasa sangat menikmati hidangan itu, aku yakin mereka pun setuju.

Lensa kamera tampak berair terkena cipratan Air Terjun Benowo. Beruntung tak terjadi apa-apa. Berdiri di bawah air, membiarkan tubuh terkena guyuran air menjadi salah satu hal yang ingin aku coba jika diberi kesempatan berkunjung ke sini.

Kami kemudian diantar menuju Curug Padusan. Terdapat dua insiden. Yang pertama adalah “mandi pagi” a la Mbak Aya. Yang kedua adalah Kak Tracy yang tiba-tiba masuk ke dalam air. Rupanya, Mbak Aya tercebur ke dalam air karena jembatan bambu yang tak kuat menopang tubuhnya, sementara Kak Tracy terpeleset. Cerita Mbak Aya dapat dibaca di sini.

Menikmati curug Padusan. Tempat di mana Mbak jatuh ke air berada di belakangku. Sepertinya memang asyik jika berenang di sana. Aku difoto oleh Vanisa.

Cerita selengkapnya tentang berkunjung ke Desa Benowo dapat dibaca di sini.

Lepas sarapan dan mandi, kami kemudian beranjak menuju Kabupaten Kebumen. Ke Pantai Menganti dan Bukit Sawangan.

Cuaca memang kurang begitu mendukung untuk “berburu” sunset. Mendung. Hasil yang didapat kurang memuaskan tampaknya. Meski begitu kami semua masih tetap dapat menikmati dengan berfoto pada titik swafoto jembatan merah Pantai Menganti atau tulisan I β™₯ U di Bukit Sawangan. Oh iya, aku sempat bertemu selebgram cantik teman-teman dari Kebumen yang tergabung dalam komunitas #KebumenKeren di sini. Namanya Mas Feri dan Anggar. Apa itu #KebumenKeren ? Silakan ikuti instagramnya di sini.

Di Bukit Sawangan, kami juga bersama wartawan dari Net.TV biro Jawa Tengah. Ditonton juga ya. Silakan klik tautan ini.

Keesokannya, hari terakhir, kami dibawa ke Gua Barat. Tugas kami sekarang menyusuri aliran sungai dalam gua. Menemukan air terjun setinggi tiga puluh dua meter di dalam gua, yang diberi nama Superman’s Big Sister. Silakan baca ceritanya di sini. Gua Barat ini baru saja masuk acara televisi yang terkenal bernama My Trip My Adventure itu. Bagi yang ketinggalan silakan klik tautan ini.

Ini adalah salah satu air terjun yang ada di dalam Gua Barat. Kecil memang. Tapi aliran airnya cukup deras. Cukup susah payah juga untuk menaikinya. Jika air sedang bening, kita dapat melihat dasar gua. Foto oleh Hannif Andy

Cerita tentang pengalaman menyusuri Gua Barat dapat dibaca di sini.

Selepas Salat Jumat, kami bergerak menuju kota Kebumen. Menengok pembuatan kerajinan berbahan biji Jenitri. Apa itu Jenitri? Mulanya aku sendiri kurang tahu. Bahkan aku baru tahu nama dan bentuknya saat itu juga.

Jenitri, dilansir dari Wikipedia, memiliki nama latin Elaeocarpus ganitrus. Merupakan sejenis pohon cemara berdaun lebar dan besar. Bijinya banyak digunakan sebagai tasbih untuk umat Hindu dan Buddha.

Kerajinan ini banyak diminati oleh orang luar negeri, India salah satunya. Pohon Jenitri di India dikeramatkan, padahal bijinya banyak dipakai terutama sebagai tasbih. Alhasil mereka banyak mengimpor dari Kebumen ini. Biji Jenitri dipercaya memiliki banyak khasiat seperti menghilangkan sakit jantung atau diabetes.

Tapi sayangnya, kami tak bisa melihat bentuk pohon Jenitri seperti apa. Pun dengan bagaimana proses merangkai biji-biji tersebut menjadi kerajinan yang bagus.

Dari Kebumen, aku tak ikut rombongan kembali ke Semarang. Bersama Hannif, Kak Gio, dan Kak Bobby, kami bertolak menuju Yogyakarta. Aku sendiri akan langsung pulang ke Babat selepas menyelesaikan beberapa urusan kecil di Yogyakarta.

Terima kasih Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah atas kesempatannya. Pengalaman yang sangat menarik. Saya masih siap untuk berpartisipasi lagi di kemudian hari.

Catatan:

  • Kegiatan ini diadakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
  • Semua foto dalam tulisan ini adalah milik pribadi, kecuali yang memang dicantumkan tanda air dalam foto.
  • Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15-17 Februari 2017.
  • Foto sampul oleh Mas Fahmi Anhar.

********

Eh, ngomong-ngomong lagunya Dewa yang liriknya “Kuterima suratmu, tlah kubaca, dan aku mengerti” itu judulnya apa ya?

Iklan

37 tanggapan untuk “#FamtourJawaTengah – Photo Stories

  1. Jadi penasaran sama pohon jenitri. Baru tahu pas udah baca ini. Kirain di tasbih itu semacam biji zaitun atau apa gitu mas.

    Jadii ini cerita ringkas tentang famtrip kemarin ya? gaya cerita baru dari mas gallant bercerita lewat rangkaian foto yes. Jepretanmu okee mas, mau lagiii dong dipotoin :)))

    Disukai oleh 1 orang

    1. sayangnya pas kemaren Famtour ngga bisa liat pohonnya, padahal aku juga penasaran 😦
      bikin begini karena baca postingannya Rifqy sama kak Gio disgiovery, mbak. hahaha.
      foto fotone mbak dwi yo apik gitu og. bisa lah nanti gantian motoin. aku kan juga pengen punya poto sendiri haha

      Suka

  2. Saya kira photo stories beneran, ternyata ringkasan cerita jalan-jalan ya Mas, hehehe. Mungkin bisa main-main ke Fotokita.net buat nonton contoh photo stories. πŸ™‚

    Terlalu banyak tautan “di sini”, diganti saja jadi anchor text biar lebih menarik Mas.. πŸ˜‰

    Lengkap ya, semua artikel kegiatanya ada di sini… Jadi enak buat membacanya, jadi runtut.

    Beruntung ya cuacanya, walau sempat hujan namun secara keseluruhan cuacanya memang mendukung sekali.

    Sampai jumpa di lain kesempatan Mas Gallant, πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  3. Purworejo memang mempunyai banyak potensi air terjun yang bagus. Kalau Kebumen pantainya yang ajib. Siapa tahu ke depannya ada undangan travel blogger mengulas tema heritage, di Jawa Tengah ada banyak banget potensi tersbut.

    Disukai oleh 1 orang

  4. I am here! ahahaha duh! jadi ikutan nyanyi juga πŸ˜›
    mau lagii ikutan tripnyaa πŸ˜€

    sepanjang trip baru tahu sekarang kalau nama kecamatannya Kaligesing! πŸ˜€

    ciee, yg ketemu selebgram cantik. ahahaha

    itu yang mengkilap gitu, jenitri yang udah diolah apa gimana ya?

    Disukai oleh 1 orang

    1. lha kamu pas dijelasin sama bapak bapaknya malah tidur sih -_-
      ahahaha ketemu blogger hits bandung juga udah :p
      yang mengkilap itu kayaknya habis dibersihin aja. yang udah diolah nanti jadi kalung, tasbih, dll πŸ™‚

      Suka

  5. asik banget bisa kumpul bareng travel blogger yang kece” mas πŸ˜€ BTW dari baca beberapa artikel yang ikut famtour jadi tahu adanya goa seplawan…mgkn bulan depan mau kesana…hehehe

    Suka

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s