Galau #1 – Belajar Menulis

Halo, Pembaca blog galautraveler!

Kali ini, aku nggak akan nulis tentang traveling. Tapi aku cuma sekadar pengen curhat alias cerita alias diskusi.

Pernah terpikirkan nggak sih, kenapa blog ini dinamai galautraveler? Nggak pernah dan nggak pengen tau ya? Ya udah gapapa.

Buat yang pengen tau, blog ini dinamai galautraveler karena emang aku, Gallant, penulisnya suka galau. Dan jalan-jalan (traveling). Bahkan kadang sambil jalan-jalan bisa galau loh. Tapi galau itu maksudnya apa sih?

ga.lau: a kacau (tentang pikiran)

sumber: KBBI.

Nah udah pada ngerti kan galau itu apa? Menurut KBBI, galau (kata sifat) itu sih kacau (tentang pikiran), bisa karena banyak pikiran. Apa aja banyak itu? Ya banyak. Bisa karena mikirin asmara, negara, bahkan sampai agama juga. Ya pokoknya apa aja yang bisa dipikirin. Cuma sayangnya kan galau itu dikonotasikan ke arah asmara aja. Terus kalo aku sendiri galau mikirin apa?

Percayalah teman-teman, hidupku galau ini nggak 100% karena mikirin hal-hal kayak asmara, jodoh, atau cewek. Ya itu tetep mayoritas sih, paling ya 51% lah. Yang 49% berubah-ubah. Kalo sekarang galau mikirin kenapa udah hampir setahun lulus tapi belom dapet kerja yang mapan.

Dan kali ini aku lagi galau tentang “Gimana sih cara menulis yang baik dan benar itu?”

Jadi tadi tuh cuma intro aja bosque? Iya. Panjang ya? Tenang, intro panjang soalnya ini segmen galau yang pertama. Masih lebih panjang penantian kapan dia putus + kapan dia membuka hati kembali + terus tau tau dia jadian sama yang lain kok.

Nah jadi maksudnya gimana tuh cara menulis yang baik dan benar?

Jadi gini, menurutku tulisan yang baik dan benar itu yang bisa membawa emosi pembaca. Kalo dibayangkan, tulisan yang awalannya adem, terus mulai muncul konflik, pembaca tegang, kemudian pendinginan. Ya persis kayak di film-film gitu. Tapi kan kayak gitu nggak gampang. Soalnya karena dasar blog ini traveling, kita nggak bisa set pengalaman traveling kita. Apalagi alasan traveling masing-masing orang beda-beda kan. Kalo pas traveling ternyata pengalamannya seru sih enak nulisnya bisa bikin ada alur cerita yang emosinya teratur. Lha kalo pengalaman travelingnya, datar? Mau nggak mau aku (karena di sini aku yang pengen ya) harus pandai mengolah kata biar emosi pembaca bisa sesuai. Aku harus bisa bikin set yang enak. Dan itu otomatis nggak gampang. Contohnya, set awal yang aku pengen itu yang bisa menarik minat pembaca. Ya kalo seratus lima puluh kata pertama aja nggak menarik pembaca, bisa-bisa ke bawahnya dia nggak akan tertarik dan lebih suka skip-skip tulisannya aja.

Jadi set awal itu penting banget buat sebuah tulisan. Mungkin ini juga yang mendasari tentang SEO ya? Kebetulan aku dapet ilmu SEO dari Kak Bobby. Ilmu berharga yang nggak sengaja didapetin pas kami satu bis dari Kebumen ke Jogja. Kata Kak Bobby, SEO tuh menghitungnya 150 kata pertama harus padet dan mencakup isi seluruh tulisan. Kalo aku mungkin nganggepnya ya kalo 150 kata pertama aja nggak menarik, orang nggak bakal baca lanjutannya. Bisa jadi ini juga pertimbangan tim SEO Google ya? Hehehe.

Salah satu cara biar tulisannya bagus sih harus banyak baca ya. Baca novel fiksi, novel-novel galau, cerpen, dongeng, dan lain-lain. Meski aku pengennya tulisan yang ada emosinya, bukan berarti aku kudu baca buku atau tulisan yang ada emosinya. Entah siapa yang bilang aku lupa, tapi katanya jangan batasi bacaanmu biar kamu bisa belajar.

Aku sendiri punya beberapa blog favorit yang jelas jenis tulisannya beda-beda. Mas Arief Rahman dan Mas Yofangga salah duanya. Mas Arief Rahman karena tulisannya terasa personal, lucu, tapi nggak terlalu yang suantai gitu, sementara Mas Yofangga karena gaya bahasanya yang ‘sastra banget’. Kalo aku sendiri pengen bisa nulis perpaduan antara keduanya. Aku juga suka baca tulisannya Kak Gio, Mbak Dwi, sama Mbak Rini yang kalimat-kalimatnya tuh kayak cerpen atau novel galau.Β  Kalo Mas Nasrul, bacanya jadi aku lagi duduk, santai terus dengerin Mas Nasrul cerita. Mas Fahmi sama Rifqy itu juga aku suka.

Nah ada tulisan yang disuka ada juga yang enggak kan. Kalo aku sendiri emang kurang suka tulisan yang terasa reportase gitu. Soalnya nanti kesannya kayak portal berita, bukan blog. Atau tulisan yang malah terlalu ‘santai’. Tapi itu bukan berarti aku nggak baca, soalnya ya tadi. Katanya kan jangan pernah batasi bacaanmu. Dengan banyak baca tuh kosa kata nambah terus bisa bikin rangkaian kalimat demi kalimat yang nanti bisa bikin tulisan di blog ini jadi sesuai yang aku inginkan.

Jadi model tulisan kayak gimana sih yang kamu pengen, mas? Nah itu dia, aku juga bingung. Mungkin perpaduan antara lucu, santai, tapi kalimat-kalimatnya ‘berseni’. Bingung kan? Iya. Apalagi kalo teman-teman baca blog ini, setiap postingan punya gaya nulis yang beda-beda. Artinya, aku belum bisa konsisten. Atau bisa dibilang aku masih mencari-cari gaya menulis yang ‘aku banget’.

Aku yakin juga karena pembaca blog ini nggak cuma yang suka dengan jenis tulisan A tapi juga B, C, dan D. Belum lagi yang silent reader. Aku jadi inget ucapan seorang gebetan (iya aku nganggepnya gebetan, kalo dia nganggep aku gimana aku nggak tau ya itu terserah dia.) kalo dia nggak suka baca tulisan yang berat.

Terus alasan kamu nulis ini tuh apa sih mas? Terus sampai bikin segmen galau di blog. Kamu jadi penulis, nantinya? Hmm..?

Enggak, aku nggak pengen jadi penulis. Alasan pertama biar aku nggak stres, jenuh, dan bosen. Menulis sesuatu yang sejenis berulang-ulang tuh pasti bosen. Yang kedua biar blog ini terasa blog. Dengan segmen galau ini aku akan nulis yang di luar tatanan. Aku bisa nulis ekspresif aja. Bahkan mungkin nggak terpaku tentang traveling. Meski blog ini nanti akan dibawa hampir 70% traveling. Tapi di sesi galau ini nanti aku bisa nulis buat sekadar curhat, beropini, dan yang jelas ya menggalau kayak sekarang. Soalnya nanti kalo tulisan-tulisan di blognya terlalu tertata kesannya jadi bukan blog, bisa aja portal berita atau novel. Kalo ada sesi galau jadinya blog ini bisa terasa lebih personal.Β  Hehe.

Tapi mungkin aku nggak sering-sering nulis di sesi galau ini. Bukan karena menjaga imej, tapi ya karena nggak semua kegalauan harus ditumpahkan ke sini kan? Ada yang cukup ada dalam pikiran, ada yang cukup dibagi sama temen-temen deket. Mungkin nanti di sesi galau masih bisa dihubungin sama blog atau traveling. Sebenernya, di blog ini udah ada dua tulisan yang nggak ada hubungannya sama traveling atau blog sama sekali. Label galau juga udah dibikin dari kapan. Silakan baca di sini. Isinya puisi aja. Karya temen sih. Soalnya dulu blog ini rencananya mau dibikin kerja bareng, dia ngisi bagian galau aku ngisi bagian traveling gitu. Ya semoga nanti kalo aku nikah, istriku mau bantuin ngisi bagian galaunya juga. Itupun kalo aku nikah, ehe ehe.

Ternyata curhatannya panjang juga ya.

Oke, jadi sekian dulu untuk sesi galau yang pertama. Nantikan tulisan-tulisan galau lainnya juga di galautraveler.

Salam,

Gallant Tsany Abdillah.

Tulisan ini dibuat di Babat, pada tanggal 16 Mei 2017, pukul 01.20 WIB.

Iklan

49 thoughts on “Galau #1 – Belajar Menulis

  1. Ehehhe πŸ™‚

    Ngomongin tentang tulis menulis, yang penting sudah ada modal: cinta. Nah dalam perjalanannya terusss belajar banyak hal.
    Membaca, bertanya, dan cara-cara belajar lainnya. Jadi bloher memang kadang mau nggak mau bisa dikit-dikit motret, editing foto, editing kata, perkodean, ngutak-atik blog, sampai kepada seni bercerita. Karena menulis juga aku jadi belajar tentang Bahasa Indonesia, terus dikit-dikit membenahi kata-kata yang biasa kugunakan secara ngawur :p

    Lagi belajar to the point, aku sering kebanyakan prolog. Ahaha. Belajar sama mas halim, tulisannya selalu padet tapi semuanya bisa masuk dan tetap bercerita.

    Ngeblog itu tujuannya juga masing-masing mas. Dan mirip sih mas, kalau aku ya sementara ini hanya untuk mengabadikan cerita, sejenis diary *opss
    Bener banget. Kadang jika dalam perjalanan itu biasa-biasa aja, jadi miskin konten. Nah tapi itu tantangannya.

    ~ Menulislah terus sampai tahu style ternyamanmu (alm.cumi lebay)
    ~ Karena tulisan itu membawa bagian jiwa si penulis (wihikan wijna) wkwk

    Sebenernya si pembaca tau kok mana tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati sama enggak, apalagi yang sering baca tulisannya.

    Semoga intensitas menulis lebih banyak dibandingkan intensitas menggalaunya yak? :p
    Ee maap komennya panjang amat :)))

    Disukai oleh 1 orang

    1. Komennya bisa disisipin ke artikel..ahah

      Aku komen pendek aja ah, biar gak masuk spam….wkakwka

      Yang jelas setiap orang punya gaya bahasa penulisan sendiri, dan punya pasarnya sendiri.
      Salam.

      Disukai oleh 1 orang

      1. komennya mbak dwi kayaknya udah bisa jadi satu artikel sendiri wkwkwkw.

        nah iya juga sih. bener juga kalo ada pasarnya sendiri. kalo gaya penulisan sendiri, aku masih nyari nyari gaya apa yang cocok. gaya dada, gaya punggung, atau gaya bebas. *eh

        Suka

    2. komennya masuk spam mbak. panjang banget kayak jarak antara aku dan dia. #Halah
      aku juga di beberapa tulisan kayaknya ada yang aku kasih tanggal seolah-olah aku nulis diary. wkwkwk.

      wah terima kasih sarannya mbak dwi. sedang mencoba terus menulis. πŸ™‚

      modal cinta nggak bisa bikin kenyang, mbak. emang mau besok pas dilamar cuma pake mahar cinta? *lho

      Suka

  2. Setuju. Kurang suka tulisannya bukan berarti kita harus ga membacanya. Justru itu menambah khasanah pertulisan kita mas. Halah
    Aku pun gitu, semakin banyak membaca malah sempet bikin keder juga sih, tulisanku belum SEO lah terlalu bertele2 lah.
    Tapi dari situ juga kita bisa belajar banyak.
    Kuantitas tulisan juga ga menjamin kualitas tulisan tsb sih menurutku.

    Thanks mas. Tulisan ini juga sedikit menamparku. Lalu jadi mikir, mau dibawa kemana blog kita? Mau dibikin seperti apa kedepannya?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kalo aku jujur kurang paham soal SEO, yang penting nulis aja dulu hehehe. Cuma pas aku nulis tulisan ini aku inget kata kata kak bob yang soal SEO itu. Terus aku mikir, jangan-jangan google juga pake logika begitu ya? kalo awal awal aja nggak menarik, orang mungkin prefer buat close tab deh. Tapi ya itu pemikiran ngaco aja. Jelas tim SEO google punya alasan sendiri kenapa 150 kata pertama itu yang akan diindex oleh mereka. πŸ˜€

      Kalo bertele-tele, asal enak dibaca juga aku masih tetep seneng baca kok mas Jo. Santai. πŸ˜€

      Mau dibawa ke mana itu judul lagunya Armada bukan? *lho

      Suka

  3. Sebenarnya kalau kita rajin nulis, tentu secara tidak langsung bakal paham SEO. Kalau kata orang-orang, SEO itu sesuatu yang unik dan sulit diprediksi. Yang penting adalah kita menulis dan menggunakan kata “tepat”sebagai kata kunci artikel tersebut.

    Dalam blog, orang menulis sesuai dengan gayanya sendiri. Dan jangan takut menulis dengan gaya tulisanmu sendiri. Karena memang itu yang kita bisa. Intinya kita lebih dalami lagi gaya penulisan kita sendiri dan sering baca tulisan orang lain. Hokya

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wiiiihh, namaku disebut
    Huahaha
    Anyway, aku selalu nganggep tulisan itu seperti musik, bagaimanapun, ia pasti akan selalu menemukan telinga yang mau jadi pendengar

    Semua punya pasar sendiri, baik itu dangdut, jazz, pop, rock, ataupun reggae, begitupun tulisan
    Jadi ga usah takut
    Pilih mana yang membuatmu nyaman, trus bersetialah
    πŸ˜†

    Disukai oleh 1 orang

  5. Wih, suatu kehormatan nama saya ada di blog galautraveler wkwkw πŸ™ˆ
    Saya nggak paham SEO DA PA kayak gitu gitu mas. Asal nulis dan cukup nampar juga ini. Saya menulis buat apa. Hehehe. Di profile sih, saya menulis biar nggak lupa. Wkwk.
    Jadi mikir mikirin tulisan mas gallant ini. Hehehe.

    Disukai oleh 1 orang

  6. Lalu kapan mas Gallant yang galau ini nikah? Haha
    Bloger bagi saya seperti belajar sepanjang waktu karena kita juga mesti baca tulisan teman yang secara gak langsung mempengaruhi gaya menulis dan memperkuat selera baca kita.

    Disukai oleh 1 orang

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s