#RabuSoto: Soto Batok

Aku bukanlah orang yang sudah lama berkecimpung di dunia traveling. Apalagi dunia per-travel blogger-an. Blog galautraveler.wordpress.com ini juga baru saja aku buat dua tahun yang lalu. Masih terlalu muda. Namun seringkali aku dijadikan rujukan bagi teman-temanku yang akan bepergian ke suatu tempat. Bertanya tentang tempat wisata hingga akses dan cara menuju ke sana. Aku hanya tahu dari banyak membaca blog orang atau forum forum traveler yang banyak di internet, secara kasar aku hanyalah traveler teoritis yang tahu tempat wisata secara teori.

Hidup di Jogja selama lebih dari 5 tahun juga tak membuatku tahu tempat-tempat wisata di Yogyakarta. Entah habis untuk apa saja hidupku selama tinggal di Yogyakarta. Selama kuliah di Jogja aku hanya pergi tempat-tempat yang itu-itu saja. Parangtritis, Depok, Malioboro lah. Atau paling jauh, ya ke Pantai Siung atau Borobudur dan Prambanan. Itu juga kalau dua tempat wisata tadi dimasukkan ke dalam destinasi wisata di Yogyakarta. Bahkan ke Ketep Pass saja baru aku kunjungi tahun 2015 (Baca ceritanya di sini). Aku juga baru tahu kalau di Yogyakarta ada komunitas #RaboSoto. Komunitas yang setiap hari Rabu sarapan soto. Semua hal tadi baru aku tahu justru ketika aku sudah mulai meninggalkan aktivitas perkuliahan di semester 8.

***

Malam itu, seorang teman yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan pengembang permainan cukup terkenal di Yogyakarta, menghubungi melalui pesan Whatsapp. Sebut saja dia Fuad.

Besok libur dan dia ingin diajak jalan-jalan, katanya. Aku sudah memberikan beberapa pilihan seperti air terjun, hutan pinus, dan lain-lain. Tapi secara mengejutkan dia berkata, “Aku ingin makan soto Bathok.”

Aku pernah mendengar soto Bathok ini dari beberapa kawan, tapi aku masih benar-benar awam dengan lokasinya. Aku segera melakukan kontak dengan kawan-kawan yang lain. Gengsi dong, kalau sudah tinggal lebih lama di Jogja tapi nggak tau di mana Soto Bathok. Nyatanya justru Fuad berkata kalau dia pernah diajak makan di Soto Bathok ini.

Keesokan harinya.

Pukul 9 pagi aku sudah siap. Mandi dan duduk di depan laptop. Mencoba menghubungi Fuad. Dia sudah berangkat rupanya, sedang menjemput seorang kawan lain bernama Rini, katanya.

Kami bertemu di titik pertemuan. Setelah sekadar bersalaman dan menyapa, kami segera menuju ke arah timur melalui jalan lingkar. Memasuki jalan Solo aku mulai memperlambat laju motor. Tepatnya setelah melewati simpang tiga Bandara Adi Sucipto. Laju kendaraan kukurangi. Aku takut kebablasan.

Menurut informasi, lokasinya berdekatan dengan Candi Sambisari. Aku sudah pernah ke Sambisari, bahkan dulu hanya berbekal ingatan setelah sebelumnya membaca google maps di kost. Seharusnya kali ini aku tak akan nyasar. Kan sudah pernah, nggak akan nyasar, kan?

Aku masih menyusuri jalan Solo menuju ke arah Prambanan. Masih dengan laju kendaraan yang pelan. Sambil tak lupa menengok ke arah kiri, mencari petunjuk arah Candi Sambisari. Hingga aku sampai di sebuah persimpangan. Persimpangan Bogem, Kalasan.

WHHAAAΒ  LHA KALAU INI SIH NAMANYA KELEWATAN JAUUHHH !!!

Saat berhenti di lampu merah itu aku meminta maaf kepada Fuad dan Rini. Kami akhirnya berputar balik di Prambanan nanti. Pun sama ketika berjalan kembali ke arah Jogja, aku tak menemukan sama sekali petunjuk arah Candi Sambisari.

“Harusnya di sekitar situ sih,” batinku saat melihat sebuah gerai minimarket.

Kami memutar balik kembali, masih menyusuri jalan Solo. Kali ini aku memaksa untuk berbelok melalui sebuah jalan yang berukuran lebih sempit. Aku ingat kalau menuju Candi Sambisari memang melalui jalan yang hanya memiliki dua lajur untuk mobil seperti ini.

Tapi, aku masih kebingungan karena tak menemukan kembali puing-puing ingatanku melalui jalan ini. Sepertinya ini jalan yang berbeda. Cuaca pun sedang terik. Aku memutuskan untuk berhenti di Indomaret. Membeli sebotol air minum. Sekaligus bertanya kepada kasir. Beruntung kasir tersebut tahu dan menunjukkan arahnya.

“Nanti depan itu lurus aja mas, mentok. Nanti sampai ada pertigaan belok kiri terus belok kanan. Udah di situ Candi Sambisari, ” ujarnya yang diteruskan dengan ucapan terima kasih dariku. Meski saat itu aku masih bingung, tapi daripada sok tahu aku mengikuti saran dari kasir tersebut.

Perjalanan dilanjutkan kembali, sampai di pertigaan yang dimaksud akhirnya aku menemukan petunjuk Candi Sambisari. Persis seperti yang dituturkan oleh kasir Indomaret. Oh Tuhan, mungkin Kau memberikan petunjuk melalui kasir tersebut. Terima kasih Tuhan, terima kasih kak Kasir Indomaret.

Musholla Kecil

Dari sini aku menyerahkan ke Fuad yang memang telah pernah berkunjung ke Soto Bathok Mbah Katro ini. Kami hanya melewati kompleks Candi Sambisari. Terus mengikuti jalan. Hingga berhenti di sebuah tempat makan. Tak jauh dari candi memang. Tapi cukup membuatku bergumam, “Oh di sini toh tempatnya.”

Tempat parkir sudah dipenuhi kendaraan baik beroda dua atau empat. Suasana di dalam juga sudah riuh, ramai oleh pengunjung. Kami bertanya apakah masih ada tempat untuk kami bertiga. Ada, jawab pelayan. Kami segera mencari tempat yang ditunjukkan oleh pelayan.

Tempat Bermain Anak

Cuaca panas, aku sendiri langsung pesan seporsi Soto Bathok dan es jeruk. Berbeda dengan Fuad dan Rini yang memilih es teh. Sama-sama es, meski berbeda tapi tak menjadikan kami berselisih.

Lokasinya berada di tepi sawah. Suasana panas hilang oleh hembusan angin tepi sawah. Semilir angin terasa nyaman di kulit. Yang datang ke sini pun tak hanya dari lokal Jogja, tapi banyak juga dari daerah lain. Ramai pokoknya.

Pesanan cukup lama diantar, wajar. Pengunjung sedang ramai sekali saat itu. Mengingat hari itu adalah hari libur di tengah pekan. Jarang-jarang.

Sembari menunggu pesanan datang, kami berbincang ringan. Mulai dari topik selama perjalanan tadi yang nyasar atau pertanyaan kapan aku lulus. Pertanyaan kedua ini sudah bisa kujawab dengan mantap. Meski harus menunggu lebih dari 6 tahun.

Obrolan ringan diselingi tawa membuat waktu seakan berjalan cepat. Pelayan membawakan pesanan kami. Sesaat setelah pelayan tersebut pergi dan kami mengucapkan terima kasih, aku langsung mengambil bagianku. Satu porsi soto dengan campuran nasi di dalamnya yang diwadahi oleh sebuah bathok kelapa.

Segar. Cuma itu yang kurasakan saat setiap sesendok nasi soto tadi masuk ke kerongkongan.

Satu suapan, dua suapan, tak malu aku langsung meminum kuah soto terakhir dari bathok kelapa. Sayang porsinya sedikit. Meski porsinya memang ‘hanya’ sebesar bathok kelapa, rasanya memang sangat memuaskan. Menyegarkan untuk dimakan di siang hari.

Urusan minum biarlah kami berbeda. Urusan apakah nasi dicampur ke dalam soto atau tidak biarlah itu selera. Biarlah hal tersebut menjadikan perbedaan yang justru indah bukan perkara yang perlu dibesar-besarkan.

Iklan

22 thoughts on “#RabuSoto: Soto Batok

  1. Namanya Rini πŸ˜‚πŸ˜‚
    Yeay aku pernah makan di sini mas. 2015 pas libur Hari Raya Natal . Pertama juga kebablasan dulu sama kesasar dulu btw wkwkw.
    Cuma 5.000 ya seporsi, tapi kurang banyak πŸ™ˆπŸ™ˆ
    Tapi enaaakkk banget tempatnya. Anginnya semilir

    Btw di wp juga aku sejak 2015. Dan cuma buat pengingat diri sendiri aja sih wkwk.

    Suka

  2. Sotonya satu, tp kita yg beda mz 😦

    Soto memang cocok buat makan di siang hari yg panas. Seger, kuahnya itu yg bikin seger. Aku termasuk soto mania, kemana2 kalo pergi makannya soto hehe cari amannya. Rabu soto bisa dibikin serial tuh mas. Lumayan kan, biar rutin ada postingan kuliner. Postingan selanjutnya soto dimana lagi gitu :3

    Suka

  3. wis suwe nggak maem batok, eh, maksudku gawe piring batok. biasane wong dodol jamu langganan klo nyuguhin jamu pakai batok, sekarang sudah nggak lagi. padahal klo dihidangkan pakai batok gini rasanya lebih authentic.

    Disukai oleh 1 orang

  4. kalau di sunda jarang banget liat piring batok kaya gini. sempet mikir itu bawahnya dilem apa diapain ya? haha

    isian sotonya apa? nasi, kuah, bawang dan daging?

    sha malah fokus ke telor puyuh nya. kayak yang enaak πŸ˜€

    Suka

  5. wah enak banget nih. liat fotonya aja udah bikin ngiler…
    baru tau jug ada komunitas yg unik macam rabu soto itu…
    jadi kepikirakn bikin komunitas serupa mungkin SabtuPecel ya hehe πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s