Menilik Bekas Tempat Mandi Sang Putri di Tamansari

Tak jarang aku lebih sering berwacana daripada menjalankan wacana tersebut. Termasuk untuk urusan jalan-jalan. Entah sudah berapa wacana yang kubuat dan berapa dari wacana tersebut yang berhasil kujalankan. Aku memang lebih bersahabat dengan hal-hal impulsif.

Mungkin suatu saat nanti aku perlu untuk mengubah nama blog ini menjadi wacanatraveler. Traveler yang hanya suka berwacana.

Pun dengan niat. Aku percaya bahwa apa yang kita lakukan bergantung pada niat kita. Maksudku begini, beberapa hari yang lalu aku pergi Yogyakarta dengan niat awal untuk menghadiri undangan tes kerja dari salah satu perusahaan. Namun di tengah perjalanan terbesit keinginan untuk pergi ke suatu tempat, tak lagi fokus untuk tes kerja. Alhasil, aku langsung gagal di hari kedua. Kenapa? Karena niatku sudah ‘terkotori’ dengan keinginan untuk berjalan-jalan.

Sedih, tentu. Tapi tak lama. Aku langsung beride untuk ke Tamansari. Sebagai sarana menghibur diri, sekaligus pengganti wacana ke Candi Plaosan sehari sebelum tes yang gagal terlaksana.

Aku membuka whatsapp, mencari kontak Mbak Aqied. Segera kuhubunginya. Bermaksud meminjam kamera barunya dengan janji akan langsung kukembalikan siang harinya.

Kamera sudah kupinjam. Aku memacu motor yang kupinjam dari Akbar. Lurus melewati Jalan Malioboro dan persimpangan nol kilometer. Sejenak aku tertegun saat melewati alun-alun utara. Alun-alun yang beberapa waktu lalu difungsikan sebagai lahan parkir bus pariwisata itu kini sudah kembali seperti fungsi semula. Tampak anak-anak sekolah yang memasuki jam olahraga sedang asyik bermain. Tak ada lagi bus-bus pariwisata berjajar.

Sengaja aku memilih tengah pekan. Berharap agar Tamansari menjadi sepi. Namun saat memasuki lingkungan kampung dengan tembok putih yang panjang itu, aku tahu bahwa kenyataan berkata lain. Berbelok pada sebuah pintu gang kecil, aku sampai di tempat parkir yang ternyata sudah penuh oleh mobil dan motor pengunjung. Luar biasa.

Harga tiket dibanderol Rp 5.000 (kamera akan mendapatkan charge Rp 2.000). Sangatlah murah. Mungkin menjadi satu dari sekian alasan Tamansari menjadi tempat yang selalu ramai.

Gedhong Gapura Panggung, berada di sisi timur. Menjadi gerbang utama pengunjung. Sangat megah. Berjalan ke dalam. Memasuki Gedhong Sekawan yang berjumlah empat (Jawa: sekawan = empat).

Memasuki pelataran utama. Dua buah kolam yang cukup luas dipisahkan oleh sebuah jalan di tengahnya. Sementara di sisi kanan terdapat sebuah rumah. Di sebelah kiri tampak sebuah bangunan menjulang seperti sebuah menara. Di balik menara tersebut terdapat satu buah kolam yang lebih kecil dari dua kolam sebelumnya. Umbul Binangun. Begitulah nama tempat ini.

Dua kolam itu dulunya difungsikan sebagai tempat pemandian putri-putri dan selir-selir raja. Sementara sang raja dan permaisurinya mandi di kolam yang terpisah oleh menara itu. Beredar kabar bahwa menara tersebut dulunya digunakan oleh raja untuk melihat putri dan selir yang sedang mandi. Nantinya yang paling cantik akan dijadikan permaisuri. Rupanya ini hanyalah kabar kosong yang dihembuskan untuk menjatuhkan kewibawaan sang raja. Terkesan sang raja adalah seorang pria hidung belang yang senang mengintip wanita. Atau kabar yang sengaja dihembuskan untuk menarik wisatawan. Memanglah manusia-manusia lebih senang dengan cerita yang dibumbui hal-hal erotis.

Baca selanjutnya: http://jogja.tribunnews.com/2016/01/04/inilah-mitos-mitos-vulgar-sensasional-taman-sari-yogyakarta

Sekarang, komplek Tamansari ini menjadi ajang bagi para pemburu foto. Arsitektur bangunan yang megah dan antik, menjadi latar foto yang sempurna. Tak sedikit bahkan para selebgram yang pernah berfoto di sini. Bermodalkan kamera yang cukup canggih, atau bahkan menggunakan telpon pintar saja, dipadukan dengan wajah mereka yang cantik, dijamin akan menarik jumlah like yang cukup banyak. Oh, jangan lupa menggunakan tagar #OOTD.

Tamansari yang ramai juga membuatku, yang saat itu pergi sendiri, cukup kesulitan untuk mengambil foto diri. Aku tak mungkin dengan gampang menaruh kamera di sembarang tempat, mengatur waktu, berlari dan berpose, lalu kembali mengambil kamera, mengecek lagi apakah sudah baik, dan mengulanginya lagi. Bagaimana jika saat sedang berlari atau berpose, kamera yang sedang kutaruh tiba-tiba diambil oleh orang yang berniat jahat? Aku memiliki prinsip untuk lebih menjaga barang yang kupinjam ketimbang barang milikku sendiri. Itulah kenapa aku lebih sering membahagiakan pacar orang yang sedang sedih. Hanya untuk kemudian ditinggal kembali bersama pacarnya saat keadaan mereka sudah membaik.

Kompleks Tamansari begitu luasnya. Sejatinya, seluruh Kampung Taman ini masih menjadi bagiannya. Sesuatu yang tak mungkin bisa kujelajahi dalam satu hari. Terbersit pula untuk membuat video perjalanan saat ke Tamansari suatu saat nanti, namun apa daya aku belum belajar tentang membuat dan mengombinasikan sehingga menjadi video yang bagus. Perlu lebih dari satu hari pula untuk benar-benar menjelajah dan memelajari keseluruhan kompleks Tamansari, bekas pemandian putri raja yang tak pernah sepi ini.

*******

Info mengenai Tamansari:

Harga Tiket Masuk Tamansari: Rp 5.000,00.

Kamera (kamera telepon genggam tidak termasuk) akan dikenai biaya tambahan sebesar Rp 2.000,00.

Iklan

45 thoughts on “Menilik Bekas Tempat Mandi Sang Putri di Tamansari

  1. Pas ke jogja aku nyari Tamansari bagian ini tapi nemunya Tamansari bagian bangunan yang tanpa atap itu sama lorong lorong dan aku gak bayaaar. Ada jalan samping lewat gang gitu dan tembus di lorong tapi gada tempat karcis loh:(

    Karena udah kepanasan dan males juga jadi gak ke Tamansari bagian air deh:(

    Disukai oleh 1 orang

  2. Harga tiket yang murah, lokasi yang mudah dijangkau, serta objek serta bagian yang banyak bisa dieksplorasi membuat tempat ini cocok sekali didatangi berkali-kali dan dikupas tuntas dari semua sisi. Baik dari segi arsitektur, sejarah, dan filosofi. Siplah, nanti waktu ke Yogya akan saya sempatkan kemari, semoga saja tidak terlalu ramai, hehe. Duh Mas jangan gitulah soal barang pinjamannya, wkwk. Nanti pasti dapat yang benar-benar bisa dimiliki, entah itu sekadar kamera atau pasangan… #eh.
    Sudah pas bangetlah ini jadi traveler galau… jangan diganti Mas, ini sudah ciri khasmu, wkwk.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Yaah setelah aku baca sampai akhir, ternyata perginya sendirian. Kirain pake kameranya Mbak Aqied buat motoin di balik modus e mas kaya yang sudah- sudah *eh.

    Oiya tulisan ini ringan, mengalir, tapi pas ketemu ini

    ~ “Itulah kenapa aku lebih sering membahagiakan pacar orang yang sedang sedih. Hanya untuk kemudian ditinggal kembali bersama pacarnya saat keadaan mereka sudah membaik.”

    Jadi nyezegh. Ahaha. Tetep galautraveler kok ga usah diganti-ganti :))

    Disukai oleh 1 orang

  4. “Itulah kenapa aku lebih sering membahagiakan pacar orang yang sedang sedih. Hanya untuk kemudian ditinggal kembali bersama pacarnya saat keadaan mereka sudah membaik.”

    Ngakakkkkkk!!!! Wkwkwkkwkw serasa dpt klimaks nya di tulisan ini. Hahahaa

    Disukai oleh 1 orang

  5. Aku memiliki prinsip untuk lebih menjaga barang yang kupinjam ketimbang barang milikku sendiri. Itulah kenapa aku lebih sering membahagiakan pacar orang yang sedang sedih. Hanya untuk kemudian ditinggal kembali bersama pacarnya saat keadaan mereka sudah membaik.<<< Kayaknya kesimpulannya iniπŸ˜‚πŸ˜…

    Ga kehitung udh berapa kali kesini, tapi belum sekalipun nulis wkwk. Favorit sih pulo cemetinya, adem pernah ketiduran disitu wakakaka

    Disukai oleh 1 orang

Kalau menurut kamu gimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s