Pasar Papringan yang Ramai

Kami datang terlalu siang. Sudah pukul 09.00 WIB setiba kami di tempat parkir. Tim dari Pasar Papringan segera mengondisikan begitu kami datang. Kami dibagi menjadi grup kecil sesuai kapasitas mobil Kijang untuk diantar masuk ke dalam pasar.

Pasar Papringan masih sekitar dua kilometer lagi dari tempat kami berhenti. Di tempat parkir ini, aku hanya melihat kendaraan berlalu lalang. Ada yang masuk, ada juga yang keluar. Ramai sekali. Entah bagaimana di dalam. Sempat terpikir untuk berjalan kaki. Tapi teman-teman yang kuajak berjalan mengurungkan niat. Takutnya malah dicari oleh panitia, katanya. Ada benarnya. Aku kemudian memilih menunggu.

Sabar dulu, Sob!

Ada kiranya kami satu jam menunggu. Bukan karena panitia tak sigap menjemput kami, tapi karena memang kondisi di sana sangat ramai. Super ramai. Antrean mobil yang masuk dan keluar sama banyaknya. Tak habis-habis rasanya. Padahal jalan untuk menuju ke dalam desa tidak cukup lebar. Hanya cukup untuk dua mobil bersimpangan. Terkadang salah satu harus mengalah untuk menepi hingga hampir masuk ke sawah. Mobil kami pun tak lancar berjalan dan beberapa kali harus berhenti.

Aku, Mas Ardian, Mas Aji, Mas Charis, Mas Dimas, Kak Wira tiba tempat parkir bagian dalam. Kalau tempat parkir luar tadi diperuntukkan bagi bus-bus ukuran kecil, di dalam sini terdapat area parkir untuk mobil dan motor. Aku tak melihat ada tempat parkir untuk naga dan elang. Semoga kali lain penyelenggara mempertimbangkan.

Beragam Jenis Sate. Lupakan diet!
Diet Mulai Besok!

Di Pasar Papringan, mata uang Rupiah – mata uang kebanggaan Indonesia tidak berlaku. Lucu ya? Rupanya di Indonesia sendiri, mata uangnya tidak diakui. Pengunjung harus menukarkan uang rupiahnya menjadi keping-keping pring, mata uang yang berlaku di Pasar Papringan. Satu Pring setara dengan uang dua ribu rupiah. Yah, mirip seperti di Timezone. Eh kapan ya aku terakhir main ke Timezone? Sepertinya sudah lama. Kapan-kapan main ke Timezone ah.

Kami ditraktir oleh Kak Wira yang telah menukarkan selembar uang kertas berwarna biru. Keping pring tadi dibagi-bagi. Aku mendapat sekitar lima keping pring. Niatnya ingin menukar yang berwarna merah, tapi penyelenggara menolak dengan alasan keping pring sudah habis. Wow!

Ramai!

Sumpah! Super ramai!

Begitu aku menginjakkan kaki ke dalam pasar hanya itu yang bisa kutangkap dari pasar ini. Ramai. Pasar sekarang tak lagi didominasi oleh ibu-ibu, tapi juga anak muda. Tak lagi diisi emak-emak berbaju santai, tapi mbak-mbak berbaju necis. Penjualnya pun semua memakai batik. Keren!

Contoh Keping Pring, Mata Uang Resmi Papringan

Pasar Papringan berada di area yang aku kenal sebagai barongan. Barongan adalah semacam kompleks hutan bambu yang biasanya ada di ujung desa. Normalnya, anak-anak kecil dilarang untuk ke barongan karena angker. Ada penunggunya, kata orang tua kami dulu. Apalagi, barongan itu biasanya berdekatan dengan makam desa. Semakin menambah kesan angker. Tapi di Papringan, semua pandangan seram dan angker itu hilang berganti bahagia dan senang. Tidak ada lagi rasa takut bermain di sini. Padahal Pasar Papringan pun berdekatan dengan makam, lho.

Di dalam pasar lebih banyak menjual makanan-makanan tradisional. Mulai dari geblek, sate gamblong, hingga makanan berat seperti lontong mangut dan sebagainya. Saranku, datang sejak pagi dalam kondisi perut kosong. Dan pulanglah dari Pasar Papringan dengan perut yang penuh terisi. Coba semua makanan dari yang manis seperti cenil hingga pedas ala rujak. Harga untuk masing-masing makanan berbeda, rata-rata hanya satu keping pring. Murah.

Apa itu Diet?

Setelah memakan lontong mangut yang hampir kehabisan, aku dan Kak Wira beralih menuju stand jamu. Aku memilih beras kencur. Tanpa es sedikitpun, beras kencurnya tetap dingin dan menyegarkan. Di sini kami bersebelahan dengan pasangan yang datang dari Temanggung. Jarak yang nggak begitu jauh dari tempat tinggal mereka menjadikan mereka sudah beberapa kali ke sini. Untuk sekadar menikmati suasana pasar yang baru, kata mereka. Di dalam hati, “Alah! Paling juga cuma nyari tempat buat pacaran, Mbak-mas.” Karena enak, aku ingin membungkus beras kencur. Alih-alih mendapat sebungkus plastik beras kencur yang segar, aku malah mendapat sengiran dari ibu penjual sambil berkata, “Di sini nggak boleh pakai barang lain selain bambu atau bahan organik, Mas.”

Bukan aku aja yang galau, haha

HadeeeeehhGimana sih, Gallant? *tepuk jidat*

Baiklah, mari tinggalkan pasangan tersebut dan penjual jamu kemudian mencari money changer lain karena rupanya keping pring di tangan sudah habis, padahal stand masih banyak. Kali ini aku menukarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah dengan lima keping pring.

Antre Rujak Dulu, Gan

Mendapat asupan keping pring baru, mata menjadi kalap setiap melihat makanan yang menarik. Aku membeli cenil lalu ikut mengantre membeli rujak. Di ujung lain pasar juga terdapat wahana untuk bermain air di sungai, tapi aku tak sempat melirik lebih lanjut. Ada juga perpustakaan bagi pengunjung yang ingin menghabiskan jajan sembari membaca. Pengunjung pun diperbolehkan untuk menyumbang buku seperti Teh Vanisa.

Antre di antara Keripik. Foto oleh Mas Dimas
Wajah belum mandi. Foto oleh Mas Dimas

Selain makanan, juga ada mainan baling-baling dari bambu. Cara memainkannya sederhana: ada bambu kecil yang disambung ke tali ini kemudian ditarik sehingga baling-balingnya bisa berputar tanpa terlepas dari bambu utamanya. Seru! Meskipun hanya begitu saja, tapi entah kenapa asyik saat memainkannya. Norak sepertinya.

Pasar Papringan tak buka setiap pekan. Hanya saat Minggu Pon dan Wage menurut almanak jawa.

Ke sini lagi yuk, Sayang!

Acara ini dalam rangka Familiarization Trip yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 17-19 November 2017

Iklan

21 tanggapan untuk “Pasar Papringan yang Ramai

  1. Pertama, aku sukaa tone potonya. Asique. Wkk.

    Aku bayangin Pasar Papringan tu sepi syahduu eh ternyata bermobil-mobil yang mengantre terus mbak-mbak yang belanja juga ala ootd an gitu hihi.
    Mas, di sana apakah ada yang jualan baju (batik), dll? Atau khusus kulineran?

    Disukai oleh 1 orang

  2. salah satu keinginan yang belum sempat dilakoni, semoga pengelola mempertimbangkan banyaknya pengunjung biar kekhasannya tidak pudar kan ga asyik kalau terlalu ramai hehehe. kalau ga salah akhir2 ini pasar2 sejenis mulai banyak bermunculan ya di daerah2 lain…

    Disukai oleh 1 orang

Komen aja dulu, nanti dikomen balik

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s