Gunung Padang – Curug Cikondang part 2 (Buntut Panjang Keterlambatan)

Menyianyiakan waktu merupakan sebuah dosa besar yang akan berbuntut panjang

Setelah menjalani sebuah perjalanan penuh pengalaman, mulai dari menjelajahi terowongan, berjalan kaki menyusuri rumah dan sawah, naik truk hanya bermodalkan jempol, hingga mendaki tangga menuju surga yaitu puncak Gunung Padang. Beberapa pengalaman mulai dari berjalan kaki sampai dicium oleh ranting yang berujung pada luka di alis sebelah kiri sudah aku rasakan namun cerita kali ini lebih seru dan menegangkan. Menuju ke Curug Cikondang yang penuh dengan tantangan, hanya berbekal harapan dan imajinasi yang menuntun kami ke sana.

Curug Cikondang

Sekitar jam 17.00 kami meneruskan perjalanan kami dari warung yang super murah dan ibunya yang baik hati di area Gunung Padang. Petunjuk yang diberikan ibu penjaga warung tersebut cukup jelas, “ikuti saja jalan setapak lewat Gunung Rosa sampai ketemu jalan raya, nanti sudah dekat dan tinggal turun menuju curug dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam perjalanan”. Kami dengan mantap mulai berjalan setapak demi setapak menyusuri persawahan. Pemandangan yang sangat indah di sisi kiri perjalanan dengan terasering persawahan. Sesuai ekspektasi tanah desa yang asri ditambah dengan suasana sehabis hujan yang cukup sejuk.

Perjalanan kali ini lebih menantang, jika dibandingkan dengan menyusuri persawahan pada perjalanan sebelumnya. Jalanan yang ditempuh becek sehabis hujan, perjalanan tidak bisa cepat meskipun baru saja mengisi tenaga di warung tadi. Jalanan licin bercampur lumpur membuat kami harus berhati-hati memilih jalan yang bisa dilewati, salah-salah bisa terpeleset seperti yang terjadi pada mas Adit (#kamusabaro mas adit). Selain harus pandai-pandai memilih jodoh jalan, ternyata peralatan awal wajib bawa yang kemarin disepakati sangat menentukan. Kali ini banyak korbannya, beberapa orang tidak menggunakan alas kaki yang standar yang menyebabkan sering kali terpelosok, terpelest, dan terlambat datang bulan *lah.

baca aja lanjutannya

Iklan

Gunung Padang – Curug Cikondang part 1 (Stairway to Heaven)

Perjalanan menuju sebuah puncak memang tak pernah selalu mudah

Pernah ada yang tahu tentang Gunung Padang di kabupaten Cianjur? Belum? Wah, sama *lah. Tapi bedanya, itu dulu karena kemaren tanggal 3-4 Mei kemaren aku berhasil menggapai Gunung Padang plus nge-camp di Curug Cikondang, kabupaten Cianjur ngoahahahaa (ketawa ala Juki). Nah buat yang pengen tahu, Gunung Padang itu bukan seperti gunung pada umumnya. Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum yang ada di Indonesia.

Site Megalitikum di Gunung Padang pict by Wonderful Indonesia

Nah, perjalanan menuju gunung Padang ini tidak mudah tapi tidak sulit juga, masih lebih susah ngertiin kode-nya cewek deh. Perjalanan kali ini dimulai dari Yogyakarta sebagai kota domisiliku sekarang. Menggunakan kendaraan umum berupa Kereta Api tentunya traveller

Jogja-Tasikmalaya-Jakarta

Perjalanan kali ini dimulai dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sebuah stasiun kereta api di Yogyakarta yang melayani pemberangkatan kereta-kereta kelas ekonomi PSO. Kebetulan karena aku gagal mendapatkan tiket Jogja-Jakarta langsung, aku memilih untuk melakukan perjalanan estafet Jogja – Tasikmalaya – Jakarta menggunakan dua kereta, Pasundan (Jogja-Tasik) dan Serayu Malam (Tasik-Jakarta). Namanya juga perjalanan estafet, sudah bisa dibayangkan tiket kereta menjadi lebih mahal :(, meskipun ini adalah perjalanan melewati jalur selatan yang pertama bagiku, ada perasaan seneng sih.

Kereta Pasundan yang akan mengantarkanku menuju Tasikmalaya tiba di stasiun Lempuyangan pada jam 13.20 WIDP (Waktu Indonesia Di Ponsel) padahal jadwal di tiket menyebutkan kereta berangkat jam 13.36, itu artinya kereta terlalu cepat sampai hingga akhirnya harus menunggu waktu berangkat tepat sesuai jadwal. Kesempatan ini aku gunakan untuk membeli perlengkapan logistik berupa 2 buah botol air mineral 1,5 liter dan 1 buah roti sobek di sebuah minimarket di dalam Stasiun Lempuyangan.

tiba-tiba

baca aja lanjutannya