Pasar Papringan yang Ramai

Kami datang terlalu siang. Sudah pukul 09.00 WIB setiba kami di tempat parkir. Tim dari Pasar Papringan segera mengondisikan begitu kami datang. Kami dibagi menjadi grup kecil sesuai kapasitas mobil Kijang untuk diantar masuk ke dalam pasar.

Pasar Papringan masih sekitar dua kilometer lagi dari tempat kami berhenti. Di tempat parkir ini, aku hanya melihat kendaraan berlalu lalang. Ada yang masuk, ada juga yang keluar. Ramai sekali. Entah bagaimana di dalam. Sempat terpikir untuk berjalan kaki. Tapi teman-teman yang kuajak berjalan mengurungkan niat. Takutnya malah dicari oleh panitia, katanya. Ada benarnya. Aku kemudian memilih menunggu.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK

Iklan

Kentang Albaeta yang Gurih dari Dieng

Alkisah pada tahun 1994, Bu Ety mendapatkan bibit kentang dari perusahaan perkebunan Belanda. Tanpa pengarahan, kentang tersebut diserahkan. Bu Ety kebingungan. Beliau tak tahu bagaimana memperlakukan bibit kentang itu. Lahan di dekat rumah akhirnya ia gunakan untuk ditanami.

Kentang tersebut bukanlah kentang biasa. Dia tumbuh dengan sangat baik di lahan Bu Ety di dataran tinggi Dieng. Pertemanan kentang dengan tanah Dieng yang subur tersebut pada akhirnya membantu Bu Ety hingga bisa sesukses sekarang.

Cerita di atas tidak semuanya fiktif. Kentang-kentang yang diberikan oleh PT Agrico dari Belanda itu membuat Bu Ety sukses menjadi produsen keripik kentang nomor satu di Dieng.

BACA AJA LANJUTANNYA KAKAK